Rabu, 31 Maret 2010

Edisi 6

Asrizal Nur
(Depok - Jakarta)

Anak Duka

Aku anak duka
lahir dihimpit hutang tetua
dewasa dari luka sama
dengan kisah itu juga

aku berkepala cahaya
garis tangan kusut
tersungkur bell sekolah
terhantuk buku
ditelanjangi seragam
diusir uang bangunan

di dapur periuk merebus debu
busung lapar hidang ajal
sawah usung lumbung ke piring juragan

aku mengeja nasib di lebuh raya
menjaja airmata
sering reguk airmata pula

aku mencari rumah teduh
kadang beratap nista
bagai anak tak ada ibu bapa
pulang ? rumah hardik nasib
padahal peluhku telaga devisa

lantaran hidup mahal keringat murah
aku jadi kupu kupu besi
siang mesin kotak debu
malam ranjang biru

di tempat kerja
aku ibu baru buang ASI
anak hirup susu basi

aku pahlawan tanpa tanda jasa
dihempas gaji murah
tertatih di simpang waktu

aku suara selembut bayu
hingga ilalang jadi bunga
di pabrik suara nafas luka

aku seniman
diterkam hidup gamang
dariku taman harap tumbuh kembang

aku pengangguran kesejutasekian
bukan enggan banting tulang
mengasah akal di balik meja
pintu kerja terkunci rapat
linglung di negeri sendiri

aku pedagang kaki lima
diusir mall dan plaza
pentungan mencabik rezeki
dizalimi negeri sendiri

pada kampanye para ayah
duit bagai serakan daun kering
mengalir janji berdanau susu
telaga sembilu

ayah enggan singgah ke kotak debu
jenguk hidup di lebuh raya
sungguh sungguh membelaku dinista tetangga
merasa pedih dilempar bangku sekolah
termenung ijazah nestapa

paman mabuk maling
tiang rumah jadi sepatu
saban waktu dinding dicuri
dapur sulit menyala
tiang hilang hutang regenerasi

paman yang aku percaya
menterjemahkan airmata dalam bahasa cinta
berteriak … sering bias makna

o, aku terasing di tanah kelahiran
setiap jengkal harapan
jejak tapak ketakutan

tak ada tempat mengadu
setiap sudut ketemu hantu

lantas kemana duka aku titipkan ?

seandainya bunuh diri jalan sorga
maka rumah ini pusara

di terminal putus asa
aku menunggu Tuhan
menyeka duka

Depok, 20 Juli 2005

Atik Sri Rahayu
(Samarinda)

Jalan Panjang

Telah kulabuhkan cintaku di sungai Mahakam
bersama sisa keringat
semalam menembus belantara hutan
dari Banjarmasin ke Balikpapan
Tak ada sisa rasa gelisah
semua telah impas dibakar matahari
menghanguskan kulit tubuhmu jadi legam.

Selalu kukenang lambaian tangan
mengantarku di terminal
dengan memberi bekal ikan Seluang
karena perjalanan akan sangat panjang.

Akan selalu kukenang
banjir sungai Martapura menggenang desa Dalampagar
dan lukisan wajah Syech Al Banjari
menatapku tajam.

Kini di museum kraton Kutai Kartanegara
terasa membuka lembaran kitab lama
peradaban semakin tua
namun kita makin miskin tegur sapa.

2005


Bambang Widiatmoko
(Jakarta)

Kado Cinta

Baiklah kita tutup saja lembaran lama
rasa sesal dan dosa
rasa bersalah jadi luka
kehidupan seperti belantara
penuh duri dan ular berbisa.

Lantas kita bangun rumah
meski tidak terlalu megah
tapi ada gairah memadamkan rasa gelisah
kita lengkapi dengan taman agar betah
duduk berdua, mengukir sejarah.

Jika di luar terjadi hujan badai
kita bisa berlindung di balik tirai
betapa kehidupan perlu kita urai
agar menjadi lurus seperti rambut tergerai
dan pertengkaran menjadi mudah dilerai.

Tak ada kado cinta yang luar biasa
selain kesetiaan tanpa pulasan kata-kata
zikir dan doa haruslah tetap bergema
agar jiwa kita semerbak bagai harum Cempaka
tak ada kado cinta yang lebih berharga – selain asa.

2005

Boufath Shahab
(Bandung)

Kau Tahu Sihir Waria ?

jika sekali saja kau kerlingkan mata
akan kusihir dunia menjadi semesta canda dan tawa
pernahkah kau berpikir tentang ruh perempuan yang terjebak
di sekujur badan lelaki, karena kesalahan malaikat pengatur jasad ?
maka bermain-mainlah di kedalaman kelaminku
aku akan telanjang bersama kupu-kupu
atau jika kau mau, aku akan menjadi seekor kupu-kupu yang telanjang bersamamu
mungkin akan kau temukan bekas-bekas air mata bahagia ibu
ketika pertama kali aku mampu mengeja namaku
dan ia menghadiahiku sebutir bola yang penuh warna
kudekap perut ibu : ibu, aku tak bahagia
aku merindukan sebuah boneka

kini kusimpan bola itu di lemari tua
bersama tetes-tetes air mata ibu, dan seonggok tubuh perkasa yang tak pernah kuminta
karena kelak jika ada yang mengerlingkan mata, bagai kotak pandora yang terbuka
sihirku akan merajalela, penuh canda dan tawa

Bandung-Jakarta, Des. ’2005

Chairul Saleh
(Pekalongan)

Aku Masih Bertahan

Aku termangu melambung ke udara
Terbayang burung hinggap di belantara
Menari indahnya sejuk rimba
Hirup wanginya karya Pencipta
Tapi burung tak hendak kemana
Arah utara pun tak dirasa
Walau aku meng-iya meng-asa
Tuhan,
Aku terkungkung dalam jeruji waktu
Membuatku termangu dalam sayu,
Membosankan !!!
Tapi ini hidupku,
Bahwa aku bukanlah burung,
Sekedar cucu Adam hendak cari ibrah,
Kehidupan ini,
Walau musuh-musuh-Mu kadang hampiri,
Tapi aku masih bertahan diri

Malang , 29 November 2005

1 komentar:

YUNIAR IRAWANTO mengatakan...

assalamu'alaikum.
maaf, karena sudah lama, saya lupa pernah mengirim puisi saya kemana dan dalam rangka apa. 8 tahun setelah saya menuliskan puisi ini, saya baru tahu kalau puisi saya masuk dalam Antologi Puisi Nusantara : 142 Penyair Menuju Bulan. Bisa memberikan info tentang antologi ini? di manakah saya bisa mendapatkan bukunya? Mohon info lengkapnya. jawaban saya tunggu di email saya. Di antologi ini saya memakai nama Mas Yayun. Terima kasih banyak
Wassalamu'alaikum Wr Wb