Rabu, 31 Maret 2010

Edisi 20

Muhammad Husyairi
(Jambi)

Pacarku Hans
: dalam kenangan Hamid Djabar

pacarku sudah sore di puri dua
dekat simpang rimbo terminal baru
jalan pulang yang kelelahan, hasrat kita
telah jadi berita kepergian, dari koran pagi
aku berangkat dengan airmata
sesore ini, jalan pulang seperti lelaki asia
berjalan dalam keremangan lampu taman
dan pohon-pohon kering, langkah kita yang tertunda

pacarku amarah dan kesedihan perempuan melayu
cara cinta yang menakutkan dalam sebuah perjalanan
pulang dan pergi seperti diam, di pemberhentian
kita kenal peristiwa barisan kaki pucat
pada malam naas itu ; satu sajakmu melambai, tubuhmu
bergetar seperti lelah, hans di sana. anak sulung yang
kecewa di matamu.
hans berarti hidup di negeri penjajah, pacarku

sejarah taman ini, sebuah terminal baru dengan keberangkatannya

Jambi, 2005

Muhammad Natsir
(Nasir A.NF)
(Aceh)

Pasir-pasir Barzanzi

Sketsa-sketsa dunia visual barzanzi
Sumpah angin dan ombak
Terikat firman alam Tuhan

Karang terjepit onggok dosa
Murka menganga langit merah menyala
Sebagai episontrik yang terus berlanjut
Camar putih memanggil nama Tuhan.

Neraka dan surga itu
Adalah sambungan episode
Dalam naskah baik buruk dunia
Atas sumpah angin dan ombak
Terus mengikis pasir-pasir dosa
Berkilau, semakin memutih

Deru menyatu dalam sedu sedan
Hikayat pasir-pasir barzanzi
Tidak lagi terdengar di pesisir Alif
Menggumpal menjadi dongeng batu !
Yang menerjang pintu barzah

Pigura meluntur usang
Antara bongkah-bongkah tajam
Jerat membingkai
Dengan memose tanah berpasir itu

Kini …
Terdengar bisik-bisik sumbang
Membawakan
Hikayat pasir-pasir barzanzi
Yang berujung kalimat ampuh
Setelah Mungkar dan Nangkir
Mengusik tidur panjang
Para tanah yang berdosa

Banda Aceh, 2005


Muhammad Nur Hasib
(Jakarta Utara)

Musafir Kelana

Daun daun kemesraan berhamburan
dipersada sunyi
kuncup kuncup mekar mewangi
dipelataran hati yang redup
Musafir kelana
nyaris terhempas dialas
permadani surgawy
tetesan iman bentengi diri
dialam mayapada kekhilafan
Musafir kelana
mengembara gantungkan cita

melepas kuncup kuncup nan mekar
dilandasan penantian tiada pasti
Musafir kelana
mengawan dilangit biru
menyusup ketebalan dirgantara kelabu
dengan sinar rembulan semu
menyambut kumbang kumbang
pengisap madu bersayap tradisi kaku
Musafir kelana
merantai janji menyulam ikrar bersama
bintang-gemintang dilangit malam
bertabur cahaya kedamaian abadi

Jakarta, November 2003

Muhammad Saribi AFN
(Jakarta Timur)

Seperti Masjid Indragiri

Aku ingin punya kekuatan iman seperti
kekuatan Masjid Indragiri
Menahan goncangan gempa 9 skala richter
hantaman deras arus tsunami
Hitam pekat sarat potongan beton
patahan batang kayu akar besi jembatan

Rumah-rumah dan pondok-pondok runtuh
terhempas kapal bertonase puluhan ribu ton
ke darat berkilometer jauh
Lintang pukang orang-orang menghindar
ratap tangis isak sendu terpendam gemuruh
suara gelombang arus membentur
gedung-gedung berdinding batu
Tubuh-tubuh luruh tidak berdaya
hanyut dalam gulungan arus

Masjid Indragiri berkerangka kayu
didirikan Sultan Iskandar Muda
4 abad silam tegak berdiri
tak tersentuh amuk tsunami
Arus hitam pekat pelahan melintasi
kawasan masjid seputar serambi
kehilangan kekuatan amarah

Gelombang arus tsunami seakan
memberi salam pada kubah Indragiri
Dan beratus-ratus pengungsi selamat
Di teras Majid Baiturahman

Aku ingin punya kekuatan iman seperti
kekokohan Masjid Indragiri
menepis ancaman
syirik
kemunafikan
serakah
hawa napsu
takabur
ketidakadilan

Kehancuran akhlak
sedang semarak
merambah remaja dan anak-anak
meracun akal budi

Aku ingin punya kekuatan iman jadi
pelindung orang-orang lemah
dan orang-orang terzalimi
Carilah aku di antara
Orang-orang lemah kalian …*)

*) hadis Nabi saw.

5 Pebruari 2005

Edisi 21

Muhammad Tajuddin
(Majalengka)

Namaku Air

Namaku air. Aku mengalir dalam tubuh sungai
Mengarak rohku dari hulu firman-Mu menuju
Laut. Aku memasuki tulang badai. Aku berguncang bersama
Ikan-ikan yang lapar. Merindu. Menari-nari hingga gila
Aku muntah dan berputar mengelilingi lukisan kosong
Namaku tetap air. Betapa dalam cahaya matahari. Lalu
Aku menjelajah menapak langit. Tubuhku disapa angin
Lebur mengikuti musim. Bermanja-manja dalam cuaca. Aku
Menunggal dalam udara. Berjalan bersama arakan awan
Aku letih. Menjelma mendung. Aku akan kembali ke kelahiran
Abadi. Maka namaku kini hujan. Aku berjalan. Aku air
Yang kekal dalam tubuh pohon. Aku tidur di akar-akar
Aku juga menjelma bunga


Muhary Wahyu Nurba
(Makassar)

Jalan Pulang

“semuanya, semuanya telah kuberi
dan kini harus beranjak pergi.”

untukku janganlah kau terlalu sedih
semasa bersamamu, di musim-musim yang lalu
bukankah kau telah mengajariku kegembiraan puisi
dan membiarkanku menghirup aroma tubuhmu

matahari bangkit menyepuh wajah-wajah pilu
mataku berpijar menyusuri cahaya langit yang terang
sehabis hujan, selepas angin yang biru
di antara harum tarian bunga rumputan

gelisahku pun menjelma bagai sayap kupu-kupu merah
pada senja yang basah rinduku kian bertambah
waktu kusadari tak sepenuhnya bisa kukuasai diriku
kata-kataku bersilangan dan menampakkan kekanakanku

sayang, bantulah aku menemukan jalan pulang
agar aku segera menyisih dari percakapan riuh duniawi
seperti halnya cintaku padamu, telah kurencanakan
sejak mula aku memetik mawar matamu yang sunyi

tubuh-tubuh yang lelah berkilauan di angkasa
berputar-putar dan bernyanyi tanpa suara
sayang, bantulah aku menafsir hakekat ketiadaan
sebagaimana kehidupan dan kematian erat berdampingan

Makassar, 2005


NF. Muhaiminati
(Kebumen)

Kartini #3

Banyak kartini di kampung ini
umumnya mereka bertubuh gembrot
dengan daster kedodoran tanpa lengan
muka berminyak dan bulu ketek bersembulan
duduk berurutan mencari kutu rambut
sambil bercerita pertengkaran tetangga

tapi ada juga yang duduk melongo dalam warungnya
atau mencuci piring dalam keranjang sampah penuh lalat
umumnya mereka punya betis besar
berwarna gelap berhias varises dan luka bekas garukan

dan anak-anak mereka yang masih balita
bermain dengan ingus melewati bibir sambil sesekali
menggaruk benjolan di kaki
hingga lelehan nanah berganti lelehan darah

kartini tak melihatnya

Papringan, Mei 200

Novieta Dura
(Sleman)

Tepung Tawar

Pada seseorang seorang belian menghampiri
Bersembunyi di balik kelukaan segala sakit penyakit
Seperti hari ini seseorang mampir sehari pada takdir
Bukan lagi pada belian melainkan pada belian-belian

Seseorang selalu meneriakkan abaaba
Tentang rohmati yang tak lagi bernadi
Tetapi
sisasisa sakit selalu menyentuh melalui jampi dan tulahtulah

30 Nov ‘05

Edisi 22

Nur Azizah
(Jakarta)

Kalian, Tak Lagi Bernama

Berhari kupikir puisi apa yang pantas untuk kalian
Seonggok janin yang kita tanam dalam rahim yang kita paksa sama
Akan pergi bersama debu-debu kayu yang membakar jasad Ibrahim

Berlarut kufahami
Apa yang tak kudapat dari-Nya
Semua
Termasuk kalian
Gemuruh
Muntahan darah
Makian ombak
Layang-layang roh
Menjauh tinggi
Membayangi sunyi dalam suci dan wangi

Tiada lagi
Merdu laut mendayu
Tiada lagi murka, marah, tawa bernama
Semua serba hitam, dan lari, jauh.

Kawan,
Sungguh,
Makna kalian tak terucap
Tersimpan hangat
Dalam sanubari
Yang kian nikmat.

29 Juni 05

Nur Wahida Idris
(Yogyakarta)

Tubuh Gaib
: olivia Laurent

memahamimu
seperti memaknai gerhana
dimana wujud gelap tertangkap
tapi terlepas dari pandangan
dan kau dianggap tak ada
kalau kuberikan kau setangkai bunga
lalu terpegang durinya
apa beda jerit kita ?
mungkin setitik darah
sedetak waktu yang menyerap kepedihan
membuat tubuh kita tak lagi gaib
— kulahirkan seorang anak
kau lahirkan anak wujudmu sendiri
retakan perut dan keratan di dada
jadi garis nasib
membuat angin di raut tubuh
menolak cermin, merajam bayangan
tapi udara di ufuk angan
tak akan terhapus
segala yang tak diinginkan
dan dianggap tak ada
terbit dari mata anak-anak
yang menyusu

sawit-yogya, 2005


Prakoso Bhairawa Putra S
(Palembang)

Bercerita Sekawanan Camar
;episode Tiga

pagi baru saja bermula bersama kepak sayap sekawanan camar
mengiring nyanyian anak pesisir yang malu
bercengkerama dengan ombak
dan menarikan saman diantara riak gelombang
yang selalu menjilati telapak mungil mereka

di timur sinar matahari masih satu-dua mencumbui bibir pantai barat Aceh
kepak camarpun terlalu berat buat mengangkasa
tapi interaksi lempeng Indo-Australia dan Eurasia
telah memaksa bocah pantai berlari
mengemasi ikan-ikan yang tak bisa berenang
lantaran air laut tiba-tiba lenyap
“ aku tak bisa mencegah mereka”
seekor camar tersudut hampa memandang
perkampungan nelayan yang kini rata

sekawanan camar coba menerbangkan diri lebih tinggi
butir partikel derita anak tanah rencong
memulai hingga ke langit dan mengirim nyeri keseluruh tubuh
di Meulaboh sekelompok camar kecil berputar
ada ribuan malaikat pengangkut roh di sana
berjaga diantara ratap, tangis dan puing tsunami
siap membuat jiwa putih naik ke surga

camar mulai tak sanggup bercerita
“ dua generasi hilang”
camar besar terbata

cinta para peri ada di mana
pada laut Aceh dengan kapal induk asing
atau pada tanah perjuangan Cut Nyak Dien
dengan dipadati kamp hijau pengungsian
dan ditiap jengkal bumi serambi
telah sesak oleh kuburan massal
sedang rumah pesisir tak bisa diandalkan
“ camar besar, matahari telah mengirim cahaya
pembasuh tiap rona anak-anak Aceh
daratan telah diluluhlantakkan tapi di hati
mereka tertancap asa keceriaan muda
camar, mari terbang ada yang harus dibangun di sana!”


Puput Amiranti N.
(Surabaya)

Menuju Bulan

I. malam merekam pucat bayangan
suara-suara ketakterhinggaan
timbul tenggelam, tubuhku menelikung
remuk
oleh keberadaan waktu
hanya mitos-mitos kelelawar

II. mungkin kita saling berciuman
di bawah bulan tak mengenal
tubuh kita perdu terbakar
cahaya-cahaya lalu lalang
menggambar bayangan sendiri
gedung-gedung ingatan pecah di arus matamu
penglihatan yang tak kita yakini

III. kita tak lagi hujan
kita tak lagi sunyi
selain merangkum kemarau bimbang
di patahan ranting, benak kita licin
lebih terjal dari impian bibir musim
sementara pantulan-pantulan gema
kita terbang
terbaring, seperti ular yang baru dijinakkan
tanpa gairah apa-apa
selain bukan keinginan tak berdosa

Surabaya, 2004

Edisi 23

Purhendi
(Palembang)

Rumah Musi

Adalah aku yang kan menjaga
rumah dengan bilah bilah lapuk papan
dan racuk racuk gelam penyangga
begitu sepuh.
waktu telah mengulitinya
bersama bulan dan matahari
dan arus musi setia menggelayut
berkecipak setiap saat.

(angin masih saja gelisah
menanti senja yang resah)

Adalah aku yang kan menjaga
rumah yang begitu senyap di atas riak
begitu lelah
begitu pasrah
ditanggalkan keabadian sejarah.

sebilah lading
sebilah lading
masih saja memicingkan matanya !)

Palembang, 26 Juli 2005


Putu Arya Tirtawirya
(Mataram)

Duka Aceh Adalah Duka Kita

Hari pertama mengajar
seorang ibu guru berdiri depan kelas
saputangan menempel di kelopakmata :
dua pertiga jumlah bangku, kosong –
tentunya mereka tertindih bangunan rumah
dan hanyut saat banjir bandang airlaut
begitu gempa tektonik disusul gelombang tsunami
melanda wilayah Nanggroe Aceh Darusalam
Anak-anak melongo natap gurunya menangis
kemudian menoleh ke bangku-bangku kosong
mata mereka mengejap dikuyupi airmata
menyadari kematian teman-teman sekelas
sementara masing-masing belum mengetahui
betapa ibu guru kehilangan empat anaknya :
tewas tertimpa runtuhan rumah
tewas tenggelam terseret arus tsunami

**
Putu Sugih Arta
(Mataram)

Taman Sangkareang

Akasara Sang
angka tahun seribu delapan ratus sembilan puluh empat
dalam rekaman pujanggga eropa
bening sungai Jangkok
dibakar sepi
Aksara Bang
pada tahun yang sama
sisa laskar Diponegoro menerjang logam mata pancing
ikan terjerat arus ombak embun
dibilas sepi
Aksara Tang
air Gangga membasuh muka
bait gitanjali menghentak nurani
lereng-lereng Himalaya
dihembus sepi
Aksara Ang
seratus sebelas tahun kemudian, pada bulan kelima
tiga kota terkikis doa:
perempuan-perempuan terbujur air mata
ratapi matahari tenggelam pada muara Nya
tinggalkan siluet semu
tentang rindu aliran air
yang membasahi sawah-sawah dan ladang petani
Aksara Ing
amtenar kota dan buruh lading memaki nasib
berkolaborasi dengan syahwat
membunuhi pohon-pohon demi sesuap nasi impor
tiada mengaca pada waktu : dulu, kini dan nanti

Aksara Nang
bunga-bunga kelahiran
temui batu nisan
antara mata
Aksara Mang
o, tiada lagi pelangi pada gemericik air
tiada lagi rembulan pada beningnya
hanya batu dan pasir muntahan Rinjani
menyeruak jati diri yang hampa makna
menganga di palung sungai
Aksara Sing
kisah taman sangkareangku
hanya jerit ruas bambu
pernah tumbuh pada hamparan abrasi pantai
saat transformasi kekal membelai akar-akar Rinjani
Aksara Wang
Ancar, Jangkok dan Gangga menyatu pada samudera
kabari semua yang hidup :
“dasar bumi tak pernah sabar manuai berkah”
Aksara Yang
somasi hanya pada pagi
saat sayap merpati mewariskan gelombang kasih
pada perilaku mahluk Tuhan
ikhlas dibuai paradoks retorika basi
Aksara Aum
akhirnya, semua nikmati sengggama :
air
api
angin
Tuhan jebak aku dalam pusaran sungai Mu

Mataram, 10 Mei 2005

R. Hamsyah
(Banten)

Catatan Ayah

dan kau terlahir kembali
sebagai diriku
sebagai biji-biji batu
sebagai buah dari kenangan

aku mencari jejak lampau
dimana kau belajar pada hujan
mengakrapi wangian tanah
memanggil-manggil nenek moyang

adakah ibu tercipta
dari sepi ?
dan kau lahir mengisi ruang-ruang kosong
menjadi catatan pertamaku

Banten, Desember 2005

Edisi 24

Ragdi F. Daye
(Padang)

Mencari Mak


Mencari mak di lekuk kota
Obituari berjatuhan di singkapan kainmu
Memintaku mengukir cinta ringan
Gelembung air sabun plaza plaza
Melintangkan betisnya
Mak tak tampak kucari di lorong lorong
Lengket cerita lama bau parfum sangit bau lado
dan bawang putih mak mencari di mata penjaga toko
Bioskop lift abu abu agen perjalanan
Mak mak mak kudengar gemericik Yaasiin
Bertemperasan musik hip hop
Pejabat baru panggilan telepon yang basah

Mencari mak di balik etalase obat
Masuk angin dan terlambat datang bulan
Berkeretap di telapak orang-orang berkulit mamalia
Celoteh gadis gadis wangi plastik
Counter masakan lezat liur babi
Mencari mak di kolong kangkang kaca kaca
Di lapak bau jengkol
Ceceran keringat
Semilir doa doa mata penjual ikan asin
Lado dan tomat tomat membusuk
Hanya air mata mak

(Padang, 2005)


Rahmatiah
(Banjarbaru)

Perempuan Yang Mencintai Kunang-Kunang

Teringat Ibu

Dia perempuan yang selalu meletakkan lelampu
Di belakang pintu
Lalu kemudian pergi setelah menidurkan gerimis
Yang tergenang di anak rambutmu
Setelah bercerita
Ada kunang-kunang terjebak di rendaman aurmata
Dan tak sempat lagi meneukan lorong cahaya

Perempuab itukah yang dulu pernah menjelajah gelisahmu ?
Menangisi bau rambutmu
Meniupkan selembar rindu yang setiap malam
Meriap di atap-atap
Sebab rumah adalah tempat menumbuhkan kenangan

Tapi
Mungkin perempuan itu kini pun telah menjadi batu
Dalam sumur ingatanmu

Banjarbaru,Januari 2006


Ramayani
(Jambi)

Aku Ingin Mencium Bau Adam

Aku ingin mencium bau adam
Dalam birahi yang selalu perkasa
Membentang dada menyambutku dalam pelukan hangat
Dan segalanya akan menjadi begitu indah
Rona mawar tersungging dibibirku
Menyusun rapi harapan harapan baru
Tak mesti lelah dalam berhayal melulu
Aku menanti waktu yang tertunda
Dimana bendera kebersamaan yang abadi berkibar perkasa
Disetiap jalan
Cinta memang tak selamanya pahit,tak selamanya indah
Dan juga tak selamanya membingungkan
Cinta hanya pantas dijalani bagi manusia
yang selalu ingin berbagi kesempatan
dan selalu ingin melengkapi hidup
karna kita tak pernah selalu sempurna
bau adam dan hawa akan selalu pasti dalam cinta
akan selalu pasti pada sebuah ikatan bathin
yang dipersatukan dari segala kekurangan dan kepercayaan
aku ingin mencium bau adam
dari sebuah kenyataan
bahwa cinta itu memang nyata adanya
dan selalu bermekaran dihati
hingga pantas untuk selalu dikenang

Bohemian Jambi, Dec 23,2004

Rara Gendis
(Jakarta)

Doa Terakhir Perempuan Rapuh

Tuhan, ribuan telapakku telah membekas
diusiaku yang kemarin
bayanganku sudah lelah bergayut sebagai teman
kesendirian yang kucicipi jadi selezat roti dan
anggur yang nikmat
aku telah kenyang dan hampir muntah
dijejali tuba

Tuhan, kapan Kau berhenti mencipta lelaki
mungkin Kau sudah lupa
siapa dari mereka yang
iganya adalah aku

Tuhan, sudahlah
kini darahku kering
rasaku menghilang …

Esok hari, perempuan itu terpejam kaku
ada senyum dalam tidur panjangnya
: seorang adam menemukan
belahan iganya.

Taman Ismail Maszuki, Jakarta
17 Nov 2004

Edisi 25

Raudal Tanjung Banua
(Yogyakarta)

Kami Bertukar Kisah
Di Ujung Puntung Kenangan

Kami bertukar kisah
di ujung puntung
kenangan. Kalau untung
kami bertemu sisa bara
guratan retak telapak tangan

Atau abu

sia-sia kami genggam.
Begitulah kami mengais
dalam abu
dengan perih luka tersiram
Dan ketika kami dapatkan
bara nyala di masing mata
Tak ada lagi yang kami pinta
selain buta.

Sebab retak untung terlanjur bicara
Puntung dan abu tak mungkin kembali kayu
di rimba.

Maka kami tinggal bertukar kisah
dalam kelam buta. Dan terasa
puntung padam
kembali nyala
Tangan kami
terasa bara.

Kami pun kekal
dalam dendang harap si kisah lama:
Kalau tak untung di hidup nyata
di gaib hidup kita berjumpa!

Yogyakarta, 2004

Rian Angkasa Pinem
(Bandung)

Semalam Cahaya Surut

maafkan, bila purnama muram
sukmaku di hujam panah malam
sisa hujan selalu membungkam
terbayang ruang sunyi mengancam

peristiwa alam adalah mutiara
saat kerinduan memuncak di udara
ada getar pertemuan yang bermuara
tapi kehinaan semakin nyaring bersuara

adakah tumpahan cinta bagi keterasingan
perjalanan tak selesai dalam hitungan
hingga luka tak henti bergandengan
kupercaya do’a sebagai nadi kenangan

kita bersama mewarnai lukisan dunia
membingkai catatan waktu yang tersedia
dengan ketulusan langkah begitu setia
menatap esok bersama bidadari yang ceria

tetaplah tersenyum saat kematian tiba
walau sejagad resah terus meraba

Kobong Sunyi, 26 Pebruari 2005

Rizki Sharaf
(Bandung)

Tangis Pengemis

Airmata mengalir
jadi air bah.
Semua hanyut
oleh kesakitan anak kecil
yang hilang bapak-ibunya,
bergayut pada kaleng kosong
sebagai sampan
penadah rupiah

Uang tak bisa hentikan tangisan Tuan!
Silakan berlalu-lalang
bersama dompet yang enggan
melepas lajang.

Dia tidak untuk dipandang,
tapi untuk direnungkan.

Bandung, 2005

Rohadi Noor
(Kudus)

Silhouette
: M

kegelisahan yang menancap di matamu
adalah usia yang mengendap-endap
menerjemahkan waktu yang mengalir

pokok-pokok tanjung di halaman
tempat kau belenggu hatimu telah usai berbuah
sementara engkau terus menunggu bunganya

(merpati yang engkau lepas kemarin
mengapa juga tak kunjung pulang)

lalu cinta,
cuma terlipat di celana
menebak birahi yang meronta-ronta
menerkammu dari segala penjuru

gadis yang selalu muncul di dalam mimpi
menjelma perempuan renta
karena tak pernah kau sapa

tangismu pecah bersama gerimis
pucuk-pucuknya menjelma anak panah
yang memasuki belantara hatimu
terus dan terus

adakah senyum itu kemenangan atas sakit
atau kau terlalu bodoh
membaca bayangmu sendiri !

Pekalongan, 29 Juli 2003

Edisi 26

Rosni Idham
(Aceh)

Bunga Setaman
(kepada anak-anakku korban tsunami)

Pagi ini
Ketika aku memandang orang-orang memetik bunga di taman
Lalu meletakkannya di air kolam yang mengalir jernih
Dan mengalir seiring senyum semekar sukma
Berdegup aku tiba-tiba
Bergoncang kencang dada gemuruh
Telah gugur bunga-bungaku yang tumbuh
Di bawah siraman alir peluh

Tuhan,
Sinar kesadaran menyentak jiwa
Engkau titipkan bunga-bunga itu
Sebagai amanah atas kepercayaan Mu
Kewajibanku memelihara dan memupuknya
Dengan siraman kasih segenap cinta
Hari demi hari bunga-bungaku tumbuh mekar
Harumnya menebar
Dalam pelukan manik embun yang segar

Bunga setaman, wahai ….
Mengalirlah bersama kebeningan air mata kami
Tersenyumlah bersama keagungan cinta illahi
Menziarahimu dengan rangkaian do’a
Butir hujan adalah kain kafan
Hanya yang Maha Tahu yang kenal pusaramu

Bunga-bungaku, wahai …
Disisinya engkau adalah kesuma
Damailah dalam pelukan Kasihnya
Ikhlas kami melepas
Selamat jalan bunga-bungaku
Di gapura Syurga kita bertemu

Meulaboh, 26 Januari 2005


Ryan Rachman
(Kebumen)

Drama Tiga Babak

Babak I
Kemarin lusa, Turiman membersihkan sangkar Si Bejo,
seekor perkutut kesayangan majikannya, dengan hati
gelisah. Sebab, dia mendapat kabar dari tetangganya jika
Sapto, anak bungsunya, dibawa ke rumah sakit karena
demam berdarah.

Babak II
Kemarin, Turiman tidak masuk kerja karena harus
memanggul keranda yang di dalamnya terbaring mayat
Sapto yang mati kemarin malam.

Babak III
Hari ini, Turiman tidak masuk kerja lagi karena dipecat
majikannya tadi pagi. Sebab, Si Bejo meninggal, karena lupa
dimandikan.

Purwokerto, 2005


S. Yoga
(Ngawi)

Kitab Kehidupan

tak ada rasa sesal
dan ketakutan yang nyata
semua aku jalani dari muasal
seperti binatang mencari mangsa
dogma dogma telah aku lupakan tanpa kesal
yang ada hanya perasaan menjebak seolah sabda
kematian hanya duri yang menancap kekal
rasa sayur menjadi hambar tanpa mantra
telah kubuka semua kitab yang bermanfaat tanpa kuhapal
namun semua tak bisa melupakan luka
dan kebencian pada hidup yang dangkal
kini telah musnah menjadi getaran tak teraba
pendulum malam telah memupus semua impian yang terpental
kenangan menjadi neraka menuju surga

ibarat lumpur kaulah air yang mengalir ke hilir
sejak subuh telah kuserahkan sajadah panjang
aku ingin bertempur dalam cahaya langit
yang menusuk-nusuk ini
ingin kukuak rahasia yang terkandung
hingga penasaran ini mati
rasanya hidup hanya buang buang waktu
tanpa rasa yang menjelma dan rindu
menuju tempat perjanjian di altar semesta
ikan ikan telah terbakar dalam gairah malam
bersama para nelayan di ujung pantai
jalur perahu dan jalan angsa
rasa nikmat telah lenyap sejak cecap pertama
tertuang pias di atas kuah kehidupan

yang kucari hanya rasa nikmat
yang tak terganti

rasakan manis garam kehidupan
seperti melumat bayang bayang
wajah kekasih yang pergi
saat saat ada

memang seolah boneka
yang abadi
patung purba yang dipuja
saat saat tiada
memang seolah bantal guling
yang fana
patung kenangan yang mendera dan mentakik
seolah suara malam yang menusuk
dan kau khusuk
di langgar mengeja alif
aku duduk di bawah meja
mencuri pandang dengan doa
rasa kepergian hanya sesat sesaat
yang membekas hingga sekarat
kini kueja diri sendiri
di rumah tua
karena dosa

paginya kubuka kitab kehidupan
kutelusuri lading lading luas tak bernama
semak belukar dan Lumpur Lumpur kematian
petir perang, puing, kuburan dan bencana air mata
tak kutemukan perasaan yang satu
sejengkal tanah ini apa gunanya aku injak
bila pedih terus mengeram dan mendera

seperti sepur tua memasuki stasiun
ah rasanya aku hanya penumpang yang tertinggal
di stasiun terakhir tanpa karcis
bila waktunya tiba jemputlah aku
di malam yang terakhir

gelap bila kulihat siang
dan terang bila kuberada dalam gelap
dapat kulihat wajah bulan di atas
meski tanggal muda
semua tak terbayangkan
wajah wajah sayu menemuiku di setiap jalan
hanya bayang bayang yang berwajah ganda
baju baju baru tak pernah kupakai
hanya kenangan yang ingin kukenakan
asin rasa garam tapi terasa manis di mulut

ketika kau hidangkan sepiring nasi kehidupan
yang terbayang hanya sekelumit demit
senyum terkulum seolah doa yang gaib
kini bayang bayang gelap selalu menghantui
kemana langkah hijauku tertuju
seiring kepergianmu yang tak berbekas
cinta memang manis bila di dekatnya
tapi sepahit empedu bila mengenangnya

kepergian yang sempurna dan punah
bila kau tak pernah berpamitan dan istirah
dan kepergian yang terburuk dan sesat
bila kau mencuri kenanganku yang lekat
dan tak terlupakan
jangan sebut ini dusta
bila kau memandangku seperti tugu mati
perasaan tak bisa ditipu dan ditiru
dan kenangan hanya kejahatan kecil
yang tersembunyi dalam kehidupan ruhani
kematian hanya jembatan yang terbentang
di antara batas impian yang belum tergapai
yang kelak akan bertemu di muara api
kabut pagi seperti akan menjemput
seseorang atau mungkin panji panji
segelas kopi di beranda
sambil memandangmu
yang jauh tak bersauh
terpana tanpa busana

sebusuk inikah rencanamu
menemuiku di saat aku melupakanmu
jalan jalan masih berjelaga dan berkabut
sedang malam kelam segera menjemput
tak ada ramah roti
segelas kopi telah tandas
kesepian menjadi akut yang maut
disaksikan cicak yang memandang
tanpa pejam yang rejam

seolah kenangan dangkal terpasang
di dinding rumah berbingkai kayu randu
kepalsuan yang ringkih
surat surat tak terbalas dalam setahun
di sore hari anjingku yang patuh
telah berlarian di antara ilalang panjang
mengejarku di tubir jurang
menyaksikan kenangan yang terperosok
ke dasar lembah merah
kuhadapkan wajah di beranda rumah

sesosok wajah jahat penuh rajah
telah memahat hatiku yang membatu
rambutnya tergerai
seperti peri
atau ilahi

setelah peristiwa itu
ingin kupastikan perasaan hatiku yang luput
apakah aku masih milikmu
kepercayaan kepercayaanku yang purba
telah longsor menghadapi kenyataan cacat
debu debu kehidupan berjaket biru
telah menyelimuti tubuhku
ingin kupastikan lagi
apakah aku masih milikmu
seperti apakah perasaanmu terbuat
sehingga kau selalu menerima diriku
dan maaf yang berulang ulang
hanya satu kesalahanku
mencarimu dalam rawa-rimba-gelap
dengan mambang dan banaspati
roh halus yang tulus

besok jemputlah aku
di dermaga pertama
bila semua ini telah berakhir
rumah telah kudirikan sebelum karam
doa doa telah kusempurnakan sebelum dusta
ladang ladang telah kugarap sebelum musnah
sebagaimana sirkus kehidupan
jalan jalan telah kumaknai sebelum terluka
atas peristiwa yang medera
semua kerabat telah kudatangi sebelum kebencian
tapi perasaan ini tak terselesaikan
bayang bayang kekhawatiran
menjadi kasat mata

hanya bayang bayang yang dapat kukejar
dan kueja dalam penyamaran
samar samar wajahmu yang kekal dan berjamak rupa
selalu menghantui jalan pikiran
kemanapun aku berada dalam duka rindu dan bahagia racun
bila cintamu murni 24 karat
tunjukan padaku wajah yang asli
tanpa topeng dan samadi
aku manusia perasa
mau menerima apa adanya
bila telah kujatuhkan pilihan
keyakinanku akan tenggelam dan mati
bersama jasad yang tak berguna ini
bila waktunya tiba
dengan apa aku harus menjemputmu
sedang peta sudah lupa akan batas
bila kau datang tiba tiba
seret aku dalam ketelanjangan imanku
yang buta ini
pulang
ke rumah
mu

Sumenep, 2005