Rabu, 31 Maret 2010

Edisi 13

I Made Suantha
(Bali)

Equilibrium Kupu-kupu (1)

Malam terlahir karena kerlip kunang-kunang
Siapa terlahir ditengah isak. Didalam perasan mawar
Dipusaran madu yang terperah dari lenguh lembu
“mata air !”

Peladang kabut menyemai ilalang disebuah taman bunga
Menjadi gubuk dengan tiang pohon tanpa getah !
Kunang-kunang menyembunyikan gema
Menenggelamkan senja disela bayangan
Yang melengkung di dalam cahaya. Angin menyentuhmu
Sangat pekat. Kau berdiam
Dingin karam di diri : kulintasi matahari
Mengenal air mata yang sudah terbakar
Dibawah ufuk:burung-burung berganti kicau
Dengan lenguh sapi meluku endapan air
Menera panas
Dan ngiang kupu-kupu memekarkan musim bunga ?

Malam tanpa jarak dengan terbang kelekatu
Siapa menunggu di rumah ilalang : menyamak lelehan
Madu dan memahami rahasia kupu-kupu di sekuntum bunga ?
Kunang-kunang menera sinar bulan,”aku jadi beku
Pada panas kalbu !”
Jiwaku limbung, menanam warna terburai
Dari bayangan lembab !
Cuaca kembar berdarah : singatan dan gigilan
Pohon terpaku diantaranya !
Patung air. Patung air. Kupu-kupu membentuknya
Kusemai pada lendir darah : tumbuhlah hamparan
Memuati pelabuhan burung
Dan cahaya dingin teduh
Memanjangkan jejak kupu-kupu yang kembali

“aku telah menulis bening mata air !”


Ian Sancin
(Pangkal Pinang)

Sungai Yang Mengalir Di Wajah Bunda
: 18-11-2004

Rembulan hinggap di padang keningmu yang lapang
meruapi danau bening matamu mengairi sungai jernih nadi hidupku
dan anak-anakmu selalu gelisah hendak mencium punggung tanganmu
tangan yang membuat mereka perkasa sepanjang masa

Anakmu yang berpunya menanamkan pangkat
mewah dipundaknya menjadi jenderal kapan saja ia suka
anakmu yang perwira menjadi malu-malu dengan wibawanya
anakmu yang bintara menjadi kepala rumah tangga
menyiapkan angan-angan serba ada
anakmu yang serdadu tetaplah biasa
menjadi pasukan melengkapi suasana
dan anakmu yang tiada telah menjadi bunga
harum dalam doa
tetapi semuanya tetaplah anakmu
tak ada emas, perak, ataupun tembaga
anakmu adalah permatamu

Pesta hari raya adalah kumpul bocah bermanja suka
Dan untuk menyiapkan tanganmu yang sama
mesti menanak ketupat beratus buah jumlahnya
tak ada gulai angsa, hanya ada ayam dan lembu
di santan berpuluh kelapa jumlahnya
tak ada sayur biasa di hari raya, hanya ada sayur
beraroma mentega, cengkeh dan pala

Di hari raya kedua, gulai dan ketupat terasa
surut di lidah yang manja maka ikan segar bakar
menjadi penyelah suasana
tapi tak cukup satu ataupun dua
sehabis pesta piring dan gelas berbaris di tengah meja
dan tanganmu pula yang menjamahnya

Tanganmu yang perkasa telah membesarkan semua prajurit
hingga menjadi perwira atau tetap serdadu biasa
tanganmu adalah tangan sepanjang masa
karena itu hari kelima di hari raya engkau rubuh kehilangan tenaga

Dan kini sungai mengalir di wajahmu
arusnya perlahan hingga rembulan yang terbias di riaknya
teramat kusam dan buram padahal anak-anakmu belumlah
puas mencium
punggung tanganmu

Sungai yang dulu mengalir di wajahmu melayarkan semua
angan-angan anakmu ke samudra bebas
dan kembali setelah penjelajahan puas
melabuhkan dan menunaikan apa yang belum kau punya
kau tak pernah berkata apakah kau suka
kau tak pernah berduka apakah kau merana
kau tak pernah membantah apakah kau payah
karena kau tak mau mengeruhkan sungai jernih
yang mengalir di wajahmu

Mak...... rembulan pasti padam
ia hanya bersinar dalam semalam dan esok pagi
kan berganti matahari
dan jika kelak Sang fajar menjemput
kami ikhlas menebus rasa angkuh ini

Pangkal Januari 2005

Iao Suwati S.
(Mataram)

Sinta

dalam tubuh setiap perempuan
ada bilik untuk mengabadikan
darah seorang lelaki

karena awan pun
tak berhak memilih
derajat keasaman
air hujan dalam tubuhnya

sebagai capung bersayap perak bening
dengan ekor berbuku ganjil

apakah yang lebih menyentak
selain saat menyentuh kulit air

membuat paham
mengejar bayang
adalah prosesi menuju petaka

maka jangan pertanyakan
garam peluh purusa
yang menggumpal
menyumbat lubang porimu

sebab
dalam tubuh
setiap perempuan
ada bilik
untuk mengabadikan
darah seorang lelaki


Iggoy El Fitra
(Padang)

Abrakadabra

sehasta pijarmu padam
asap menjejaki wewangian masa datang yang terlalu pagi kuhirup
pada selesat angin silam
terlalu cepat
sedangkan aku baru bisa menyetubuhi kujur laut bila tak pernah ada lagi surut
sekantong harap di semenanjung matamu meletup-letup
alangkah sansai getir alur napas nantinya
sebagaimana buaian laksamana yang sempat memitoskan keabadian
alaika
sekepal kebebasan
juga sekuntum pergerakan berada dalam tafsir kungkungan aksaramu
aku tengadah
melayah ketimbang menjihadkan kerinduan ke bumbungan langit
di aliran lazuardi merah
sujudmu lekat
isakmu alunkan bahana ke pelosok telinga
merenangi kabut
sumbumu lebur
abrakadabra
datanglah ke rengkuhanku
kita sepakat menelurkan dosa

Padang, 22 Desember 2005

Edisi 14

Iif Ranupane
(Jambi)

Jarak Ruang dan Waktu

tiba tiba aku melesat menembus dan menembus tegak lurus dengan mengabaikan resiko berhenti dengan kecepatan ribuan juta tahun cahaya bahkan lebih jangankan uranus atau nepturnus pluto pun sudah aku lewati hingga aku tak lagi melihat adanya warna dan cahaya seperti di bumi sementara cahaya matahari pun sudah hilang dari pandangan fungsi dan keperkasaan panasnya matahari tak lagi berpengaruh apa apa matahari hilang keberadaannya matahari tak kuperhitungkan lagi

entah berapa ribu juta jarak galaksi telah aku lewati entah berapa ribu juta waktu ke waktu telah aku tinggalkan entah berapa ribu juta ruang atmosfir telah aku jelang ketika aku memandang jauh ke belakang mataku tak menemukan sesuatupun yang kumengerti bumi matahari dan seluruh planet yang mengelilinginya hanya tinggal dalam ingatan sementara aku masih terus melesat menembus dan menembus tegak lurus dengan mengabaikan resiko berhenti dengan kecepatan ribuan juta tahun cahaya bahkan lebih meski telah begitu jauh aku melesat belum juga aku temukan batas akhirmu batas jarah ruang dan waktu

wahai jarak ruang dan waktu dimanakah titik awal dan akhirmu apakah engkau menempati dan melewati segala yang ada dan segala yang tak ada menembus gugusan tata surya alam semesta apakah engkau diciptakan tuhan sama sepertiku mahluk dan benda benda fana lainnya berawal dan berakhir aku terkungkung dalam kefanaanku di balik satu atmosfir selalu ada atmosfir yang lain meski aku telah menembus dari satu lapisan

atmosfir ke lapisan atmosfir yang lain ternyata aku masih berada di dalam aku tak pernah bisa ke luar aku terkungkung dalam keterasingan

dengan kedua telapak tanganku aku hanya bisa bersujud perlahan kutarik nafasku dalam dalam sayup aku mendengar bisikan yang datang entah dari mana sedikitpun aku tak sanggup memahami maknanya sementara batinku masih terus bertanya tanya dimana batas jarak ruang dan waktu yang tak berawal tak berujung dan tak berkesudahan itu dengan kedua telapak kakiku ternyata aku harus berjalan bukan seperti burung yang terbang ke gigir cakrawala atau menyelam seperti ikan ke dasar lautan tapi berjalan seperti manusia membebaskan kegelapan dan segala keraguan dengan mata hatiku perjalanan adalah padang tanpa batas tuju dengan iman dan keyakinanku aku akan terus berjalan menuju rabbMu

1993


Ikhtiar Hidayati
(Palembang)

Kutunggu Maharmu

Sudahkah kausiapkan mahar untukku ?
Tujuh perangkat alat sholat, sayang
Sedikitnya tujuh.
Lengkap dengan Al-Quran,
kitab-kitab Hadis Shohih dan Hadis Qudsi,
serta kitab-kitab fiqih

Satu untukku : satu akan kuhadiahkan kembali bagimu.
Sebab tujuh adalah sebab kumau sedikitnya lima anak
menyandang namamu di belakang namanya.
Kuingin, Sayangku,
satu anak berketuhanan yang mahaesa ;
(yang benar-benar berketuhanan, Sayang,
bukan yang meledakkan bom sambil pura-pura menyebut-nyebut
nama Tuhan)
satu anak berkemanusiaan yang adil dan beradab ; (yang kalau dia sudah baligh, dia akan jadi manusia semanusia-manusianya
serta beradab sebagai manusia seberadab-beradabnya)
satu anak berpersatuan Indonesia ;
(yang merindukan manis-lezatnya ukhuwah)
satu anak berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan
dalam permusyawaratan / perwakilan ;
(bukan maksudku ingin punya anak yang jadi anggota dewan
perwakilan rakyat, Sayang,
bukan ; beban-dunia akhiratnya akan terlalu berat untuk
dipertanggungjawabkannya,
padahal di padang mahsyar tidak mustahil
kita berdua —kali jadi kau pinang aku—
akan terpaksa ikut mempertanggungjawabkan, kan ?

dan satu anak berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
(yang kalau dia jadi menteri social.
dia akan mengusahakan kesejahteraan hidup di tiap lapisan sosial
akan terasa benar adilnya
tanpa harus jadi komunis atau apa pun yang membuat alergi
penguasa)

Sudahkah kau siapkan mahar itu ?
Kalau bisa lebih dari tujuh, Sayang.
Aku juga mau anak yang bertumpah darah yang satu, tumpah
darah Indonesia ;
sekaligus berbangsa satu, bangsa Indonesia ;
sekaligus menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.

Jangan dakwa aku mengada-ada atau mengimpi-ngimpi, Sayang.
Siapkan saja mahar itu.
Soal anak-anak itu,
biar Tuhan yang menyiapkan,
biar Tuhan yang mengurus,

(Malam Takbiran 1426 Hijriah)


Imraatul Jannah
(Martapura)

Engkaukah Ababilku, Akhuya

engkaukah ababilku, akhuya ?
musim yang beringas memangku piala keangkuhan abrahah
dan tentara bergajah. bulan yang berdarah membentangkan
sisi kemanusiaan yang menyanyikan tembang kepedihan
di hatiku.

kepakkan sayapmu yang indah. bumi yang kita huni
begitu merindukan jejak perjalananmu menjadi pilar
tegaknya sebuah peradaban dan mengembalikan kehidupan kita
yang pernah tercabik, ketika granadapun pecah dan berdarah
turki usmani telah tiada, bahkan abbasiyah
hanya tinggal nama

akhuya, jika engkau ingin memahami laut, belajarlah
kepada gelombang atau karang-karang. kesetiaan
yang kita miliki, tak semestinya membuat kita kehilangan
jati diri kita yang hakiki. biarlah airmatanya menulis
sajak-sajak kelahiran yang tumbuh dari cermin jiwa
keletihan seorang bidadari.

hari ini, kukecup tanganmu penuh rindu. dan kusematkan
mahkota kebesaran seorang mujahid, jika engkau anggukkan
kepalamu, seraya memelukku, kemudian berkata
“akulah ababilmu, ukhti,”

(30052005)


Indra Tjahyadi
(Malang)

Rontokan Gerhana

Rontokan gerhana yang larut dalam mimpi

meludahkan kabut. Dengan kepala kucing terpenggal,
ajalku yang berbaju kusta menghidupkan belatung.
Aku rupa kekosongan, menggigil menyerupai hantu.
Melebihi kebosanan, gerak-gerik tikus sekarat kobarkan
sakratul. Para perusuh susuri kampung-kampung dosa
dendam masa lalu.

Akhir riwayat muasal perdu mabuk hujan,
menggerongsongkan lindu. Aku diam, gadis-gadis Cina
dengan onggokanbangkai anjing di tangan umumkan
mendung. Malaikat-malaikat purba berjatuhan di antara
kegelapan memenuhi nafsuku. Kilau salju membusuk.
Seluruh cahaya telanjang bersabitan di jidatku!

Segala fenomena meletus, tapi aku cucup kedua
puting hitam susumu seolah peluru. Tatapanku rabun,
bergulingan di sepanjang batas hujan. Aku
kutuki segenap lanskap pembunuhan, berabad-abad
memulai syair dengan lumpur. Kerentaan menghuni mayatku.
Dingin berhari-hari selekasnya membisikkan serenada.

Ruh para pelacur terbahak di Neraka. Isyarat bianglala
gaib dalam ingatan menekar-nekar zakar rasa sakit kenanganku.
Di gelung pinggulmu yang igal, keterpencilanku meminta
setubuh. Sunyata! Aku bangun candi-candi keperihan. Aku
niscaya dengan nyawa yang menorehkan angus bekas luka persis
di ujung pelupukmu.

Tiang-tiang hijau cuaca membersitkan kelenyapan.
Daun-daun luruh tanpa nama, di beranda, jadi monumen
seratus derita. Sepanjang kemayaan, arwahku menguak
rahasia rindu kekejaman. Ajalku melolong sepanjang siul.
Rasa laparku kehilangan gema. Deritaku meracau, membakar
kota-kota dengan cumbu.

Tapi, apakah yang akan ditulis matahari pada sisa senja,
sayangku? Percayalah bahwa akulah sang pecinta yang teguh
dan tak tahu malu. Takdirku tercekik sepanjang pengap
mirip pisau yang biasa kau hunjamkan ke dadaku! Di dasar
kematian, akulah seratus darah perawan yang pernah teguk
dengan kufur. Segala pengetahuan tinggal ingatan penuh perusuh!
Fantasiku berbalik arah. Harapanku berjalan mundur, menginsyafi teluh.

2002-2005

Edisi 15

Inggit Putria Marga
(Lampung)

Melihat Awan di Jalan

Taburan burung gereja
Dibawah
Awan kota

Lingkaran semesta

Yang berlarian, menenggelamkan jalan
Yang berjalan, lebur di pelarian
Di padam lampu
Memenuhi tujuan mata sepatu

Namun, tak berlaku
Bagi yang menunggu

Pergi dan kembali
Hanya sebagian komposisi

Juga burung,
Yang terbang dan mati

Di kota ini

Mei, 05


Isbedy Stiawan ZS
(Lampung)

Jadi Burung Di Ruang Ini

di ruang ini aku jadi burung
sedang kau sebagai sarang
lalu bagaimana bisa
burung pergi dari sarang ?

maka aku mengeram di dalammu
aku beternak ruh yang
bersayap di masa datang
kepakkan segala kata

jadi kalimat
rimba keramat
yang kau eram pula
sehabis hujan luruh
di luar rencana …

aku jadi burung di ruang ini
mengeram di sarangmu
beternak kalimat – kalimat
dusta,
tumbuh sayap di masa datang
yang pulang dengan kaki patah

merimba keramat …

21-22 Juli 2005

Jimmy Maruli Alfian
(Lampung)

Merajang Lajang

PERAWAN : Inilah tanahku, tak pernah tandus ! mata air,dan rahim yang sopan memilih percintaan

BUJANG : Aku ingin dilupakan dari takdir, tak perduli harum rahim ataupun mata air tempat pemandian terakhir. Aku pertapa dengan nafas sengal dan asmara yang bebal

PERAWAN : Tempo hari, hasrat seperti apa yang ingin kau jerat?
Karena genit, kita diusir dari surga. Pindah ke kota yang hanya ditanami pepohonan kaktus dan cinta yang tandus.
Kau ingin es buah ?

BUJANG : Seharusnya dulu aku tak perlu mengenalmu. Cerita pilu membuat darah bergenang di jantungku !

PERAWAN : Dan kau harus menanggung kesalahan untuk semua angan-angan !

BUJANG : Tak ada benar salah dalam keiinginan.

PERAWAN : Tapi, seekor ular diketeduhan surga, kelak membuat resah dua anak lelaki kita. Lalu kebencian menjadi kaca setiap perjumpaan.

BUJANG : Aku haus. Segala cemas sepanjang umur akan kutanggalkan,
Boleh aku hisap putingmu ? Ada yang bilang, dadamu muasal ingatan. Tapi bagiku, merah putingmu merupa pangkal embun jatuh kebatu.

PERAWAN : Aku lamunkan luka di segala keindahan. Dau kau, akan gembira menamainya perjuanagn.

BUJANG : Hijrah burung-burung. Menandakan ada lumbung di ujung jantung.

PERAWAN : Alah mak jang ! Kau penyair ?

BUJANG : Kau hitung, berapa banyak nyeri yang membuat kita berulangkali bunuh diri! Mungkin, ratusan.Itulah sebabnya, aku ingin mangkir dari takdir.
Setiap waktu, mendaki puncak mendorong batu. Sampai akhirnya dijatuhkan lagi menyusuri sepi.

PERAWAN : Kau mulai sentimental.

BUJANG : Bukan! Lepas dari sesal, aku ingin tahu berapa lama usia kenangan mampu bertahan dalam ingatan ? Karena pikiran terkadang menutupi tubuhnya dengan suara hujan dan remang malam.

PERAWAN : Aah, apakah semua penyair ngaco dan sentimentil?

Sudahlah, kau masih haus ? Buka mulutmu, ada celah daging yang membuat dapat menyelinap dari segala ratap.
Jangan sekali-sekali kau tanyakan tentang kenangan.

Depok, 2005


Jose Rizal Manua
(Jakarta)

Bulan Sepotong Meronda Kota Jakarta

Hari-hari, minggu-minggu
tahun-tahun belakangan ini ;
masyarakat sibuk kasak- kusuk
mass media asyik kipas-kipas

Bulan sepotong meronda kota Jakarta
sambil melagu malu-malu :
“ya yaya ya yaya
ya kredit ya macet
ya yaya ya yaya
ya kejepit ya kejencet”

Mereka bergunjing di rumah-rumah, di hotel-hotel
tentang moler,sawer, dower, teler, ngeper dan besar
tentang sogok, mogok, pasok, momok, rampok dan gorok
kisah sekamar melar sepasar

Hari-hari, minggu-minggu
tahun-tahun belakangan ini ;
masyarakat sibuk kasak-kusuk
mass media asyik kipas-kipas

Bulan sepotong meronda kota Jakarta
sambil melagu ragu-ragu :
“ya yaya ya yaya
ya narko ya tikno
ya yaya ya yaya
ya narkotik ya no no”

Mereka bergunjing di kampus-kampus, di kantor-kantor
tentang cekal, mental, jegal, kapal, rudal dan tumbal
tentang doping,shoping,jogging, kancing, beking dan jaring
kisah sekota melar sebenua.

Jakarta, 22 Juni 1993.

Edisi 16

Juftazani
(Jakarta)

Kenangan Atas Maria Nikolaievna

barisan kesedihan seperti
nyanyian balalaika
menyanyikan “kenangan abadi” atas musim berlari
“siapa yang akan dimakamkan ?”
“dr zhivago !”
“pantas”
“bukan dia ! tapi istrinya !”
“apa bedanya ?”
angin menderukan nyanyian itu
seperti gembala meniup balalaika
di padang siberia

di saat terakhir
pendeta menebarkan tanah
dalam bentuk salib
keranda ditutup, dipaku
dan diturunkan
gumpalan-gumpalan tanah
seperti hujan menimpa peti mati
kesedihan dan nyanyian abadi
tak juga surut
tatkala pidato terakhir
melepas jenazah maria nikolaievich
ke hadirat yang kuasa
kematian nyonya zhivago
diikuti kematian-kematian nurani,
revolusi dan pembunuhan-pembunuhan
tak bertepi
seperti mendung begitu cepat berubah hitam
hujan deras pemberontakan

atap kerajaan tsar yang kokoh
hancur-lebur diremukkan hujan salju
yang jatuh sekepal batu koral
darah dan airmata

nyanyian sunyi diiringi tiupan balalaika
di padang-padang siberia
di timurnya terbentang kepulauan “GULAG”
kampung putra-putri terbaik rusia
merintih meneteskan darah dan kelaparan
siksaan dan bencana !

Ciputat, 20 Desember 2005


Jumari HS
(Kudus)

Episode Anak Zaman

Seperti malam ditinggal sepi
Anak-anak itu, tak lagi bisa tidur
Mereka bermain kabut, di tangannya
Memegang pisau ditusuk-tusukan ke udara
Sampai gerimis dari langit ketentraman
Teriris, dan merintih-rintih kesakitan
Anak-anak itu, terus menusuk-nusukan pisau ke udara
Sampai hati ibu mengelabu

Anak-anak itu semakin liar
Menusuk-nusuk pisau ke udara
Tak perduli hujan debu menderas
Tak perduli mendung menggelantung
Tak perduli peta hidup berkaburan
Anak-anak itu, tak lagi mengenal sunyi
Airmatanya yang polos telah tumbuh benalu
Menghisap jiwanya sendiri
Aneh, mereka tak pernah mengaduh
Melainkan semakin deras tusukannya ke udara
Tak perduli angin resah
Tak perduli puisi berdarah

Anak-anak itu
Anak-anak kita
Airmatanya, airmata kita
Bahasanya, bahasa kita
Nyanyiannya, nyanyian kita
Anak-anak itu
Kita!

Kudus, 2005


Katrin Bandel
(Yogyakarta)

Malam Pertama Di Medan

aspal jalan-jalan kotaMu
kuhirup bersama kedip sapa lampu warna-warni
dan ramai klakson sudako
asing di telingaku.
di mana jantung kota? aku
rindu loncat terbang-melayang
ke awan-awan.
toh hanya berlari di tempat.
aspal menganga lapar
dan rangda dari seberang benua
mengirimkan sepotong lidah busuk.
bercak darah tertinggal di atas sprei
mabuk sendiri
berputar sampai terbenam
ke dasar.
tersengal-sengal aku mencoba
satukan napasku dengan napasMu.
teringat trisandhya bermain dengan awan-awan
tapi kutinggalkan jauh di punggung, di telapak kaki
menjadi tak lagi penting karena
bau rambutMu.

Medan, 19-2-2002
Jogja, 22-4-2002

Kiki Turki
(Cirebon)

Surat Untuk Kekasih I

Di malam sunyi ku terbangkan daun-daun doa

Sampaikan pesanku pada-Mu ?

Kekasih, aku alpa pada-Mu

Tapi tidakkah Kau ampuni aku

2004

Edisi 17

Kony Fahrain
(Tenggarong)

Untuk Mim

Rasa itu, Mim-bukan bayang
Seperti angin yang dapat dirasa tak ada wujud
Ia nyata seperti yang kumaknakan lewat sentuhan
Bukan hanya menyatu raga semata
Jiwamu dan jiwaku tak berjarak
Diputaran pundak waktu yang mulai terbungkuk

Ya, Mim.
Usahlah meramu rasa sebatas badani
Di ujung waktu tersisa milik kita ini
Kau sepertinya membunuh kegairahan
Begitu bukti persentuhan ke-25 tahun
Gelegak kemudian diketuaan kita kau abaikan
Rohanimu dan rohaniku dalam memagut sisa asmara
Sepertinya tinggal sentuhan badani yang di luarnya meraja sepi
Dan terwariskan pada dinding-dinding kamar goresan waktu

(Mim, jangan kau bekukan gairah
Ia adalah bahasa kalbu
Dan hidup di jiwa anak-anak kita)

Tgr/Bjm Des 2005

Kurnia Effendi
(Jakarta)

Cisadane

Rembulan yang berkeramas hujan
Curahkan leleh emas di atas Cisadane
Serupa lampu yang berenang dari hulu ke batang kuala
Tak lelah ikan bercumbu, di antara jarum air menembusi punggung sungai
Mungkin awan lupa menyembunyikan mata bulan
Memandang penuh cinta kepada sepasang tawanan yang pulang kemalaman
“Aku harus menyeberang, melawan arus yang membentang,” ujar sang pelarian.
“Bayiku menunggu dalam demam. Ingin kutanam benih dendam.”

Subuh tertunda oleh kabut yang bersusun-susun
Muadzin di sudut surau merasa matanya rabun
Ia terlambat membangunkan jemaah lelap mimpi ngungun
“Hujan semalam melindungi langkah maling dari penglihatan siskamling.”
Sang imam tertunduk : ragu pada petunjuk
Dua batang kelapa rebah menjadi jembatan
Sepasang pencuri selamat dari kejaran

Pagi pecah oleh tangis bocah
Arus sungai seperti kekal membuncah
Matahari sumringah menatap pohon dan rumah
Perahu dan sampah
Sayur-mayur tumpah-ruah
Sejumlah pertengkaran tak selesai, namun hidup menuntut damai

Sungai melukis sejarah dengan kuas kemarau dan warna musim hujan
Dusun dibangun dari keringat orang lurus dan para penjahat
Cisadane mengaliri abad demi abad dengan cinta
Yang tak setiap sukma sanggup membalasnya

Senja yang berlindung pada sutra lembayung
Agar cahaya terakhir tak sentuh kulit perawan di tepi bengawan
Sisa air mandi menetes menjadi jejak cinta
Dikuntit setiap perjaka menjelang petang
Mereka beranak-pinak, lahir dan mangkat
Bersetubuh dan selibat, berdoa dan khianat
Tak lepas dari aroma sungai
“Apakah penarik riba yang loba itu telah menjadi rangkaya ?”
tanya seorang teraniaya.

Gemuruh pabrik menjadi cerita, buruh memekik berbuah canda
Sepasang di antara mereka, berjanji jumpa di tepi kali
Hendak menyerahkan buah dada, sebagai upeti
Hikayat pun mengalir seperti arus mendesir :
Cisadane membesarkan butir-butir padi
Namun sekali waktu kerontang seperti wadi

Bercermin kemilau air sungai : wajah lazuardi Tangerang
Pesawat terbang seperti belalang terperangkap cuaca
Cetak biru pencakar langit di benak kaum arsitek,
Memesan tempat di tepi Cisadane
“Selamat datang keluarga urban, tinggallah di sini sampai merata uban.”

Air ketuban rasa kelapa puan
Tak tercatat jumlah liter air yang terminum,
amis sungai telah membentuk sumsum.
Adalah sungai yang rindu menggenangi kota,
setelah sewindu tak diajak bicara
“Kemari, Nak. Kenalkan ini arus cinta, yang telah
membuat kita melepaskan kasta. Kenalkan arus cinta
yang mengubah duka menjadi bahagia.”

Di seribu pematang bercecabang, masih tertera jalan pulang
Di atas gelombang Cisadane , masih tersimpan pundi harapan

Jakarta, 2005

Marhalim Zaini
(Pekanbaru)

Desember, Sebuah Makam

Sebelum memudar
batas cadas
dan pasang siang
surut di cangkang,
telapak kaki kita
disengat Penyengat.
Sebuah makam
sebuah masa silam
saling menabik salam.

Tepat di belakang punggung
sebuah rumah panggung
seperti sedang berkabung.
Seperti ada yang lepas
membekas di tingkap
dan aroma cempaka
yang menyergap.
Duh, hujan jantan
mengintip di selatan
siapa yang berdiam
di sampan?

Kau pernah bilang,
ada desember datang
menjemput seseorang
yang kerap duduk
di pintu makam.
Seseorang bermata sembab
berkerudung warna gelap.

Aku menjumpai sultan
di ujung pelabuhan,
dan seorang perempuan
yang mejunjung beban.
Mereka tak saling berteguran.

Dan kita pun
saling berpandangan.
Sepasang lengang terbang
dari lorong ingatan.
Lalu pada laut, atau
pelataran yang asing,
kita jemput para peziarah
yang berjalan beriring
mencari berkah
mencari tuah.
Kau melihat malaikat?

Aku melihat gurindam itu,
gundukan-gundukan sepi
sehitam malam, dan
tak sesiapapun tahu
di mana bait-bait waktu
bersembunyi,
pada nisan,
dalam bungkusan
kain kafan,
atau pada serpihan
tanah-tanah kuburan,
atau pada kuning,
atau pada putih.
Kita kehilangan warna, katamu.
Bahkan warna rambut kita sendiri.
Lalu mau apa kita?
Bernyanyi seperti anak muda
atau berdoa seperti lansia?
Di pulau kecil ini, tuan
hidup seolah melapuk,
tinggal huma,
lumut pada usia,
dan dentang jam
yang tak setia.
Terlampau berat
sejarah
mencatat
hikayat,
terlampau jauh
hikayat
meninggalkan
sejarah.
Bukankah kita
Orang-orang
yang kalah?

Kau mengaku
kerap mimpi bertemu hantu
dan menemukan wajahmu.
Serupa foto yang buram
atau peta yang kusam,
kau mulai ragu
pada ingatan,
pada pandangan
atau harapan-harapan.
Kesepian lebih meruyak
di antara hutan-hutan
yang tumbuh
di sekujur
tubuh.

Di luar
tak ada jawaban
hanya, sekali lagi, hujan.
Dan suara teriakan-teriakan,
bunyi ketukan sandal kayu,
gesekan daun-daun jatuh,
lalu bau kemenyan,
dan tinta hitam
yang netes
diam
diam.
Wahai, raja ali haji,
dikau belum mati?

Penyengat, 2005

Edisi 18

Mariana Lewier P.
(Ambon)

Hujan Di Cengkareng

Hujan menikam bumi
pada aspal dan lampu bandara Cengkareng
senja ini
kuyup
seorang wanita asyik dengan bacaan
dan syal yang melilit leher
memanjang pada blus putihnya

dari jendela kaca Eva Airways
langit terlihat kelabu
sementara musik klasik terus mendengung,
penerbangan ini (akan segera) menerpa gerimis
tak ada yang menahan
wan kelabu bertabrakan
berlomba menyiram hujan (getar cair)
menggigiti angin
langit pun menahan kata

Aku belum lagi mengulum
(kepenuhan) hujan di Cengkareng
ketika pesawat telah mengangkasa
dan meninggalkan kekelabuan
berganti kecerahan biru
angkasa senja

Jkt 22 Nov-Taipei 23 Nov.2003

Marlen Alfons
(Ambon)

“ Kau Hanya… “

Bila murai ingin terbang … biarkan saja
Nanti juga kan bosan dan lelah
Bila angin ingin berembus biarkan saja
Nanti juga kan tenang dan tak ada
Begitu juga denganmu …
Biar saja apa yang kau pandang itu tetap
Karena memang seperti itu …
Kau tak dapat bergerak …
Kau tak dapat mengerling … tak dapat !
Kau tak dapat melangkah dan berayun
Itu sebabnya kau tetap membisu …
Terus menatap hingga lumutan …
Tidur pun kau takkan bisa
Kau berdiri dalam ganasnya terik
Kau kokoh dalam siraman hujan
Bias saja kau berlindung
Tapi tak bias …
Karena kau hanya sebuah patung

29 November 2005

Marlha Maspaitella
(Ambon)

Rumah Khalawat

Di sebuah jalan yang lurus
Di antara banyaknya penginapan di kota Batu
Berdiri sebuah rumah yang penuh kenangan
Dengan bungabunga yang indah melingkari sebuah kolam ikan
Menguak kisah di bulan Desember

Dua mobil LG membunyikan klakson
Menyentak sebuah tangan kasih
Senyuman seorang perempuan berkerudung
Menyambut dua puluh empat orang yang turun
Dengan gaya masingmasing

Dendam terbawa dalam nafas dan sikap
Kemunafikan dan kebohongan hadir dalam canda dan tawa
Ketika sebagian terlena melepas lelah
Kelompok penyanyi bersenandung dalam Latihan

Detak waktu mendekati pukul tujuh
Kolam ikan terpantau dalam cahaya bulan
Kedua puluh empat tamu rumah khalawat
Merenung dalam ibadah yang khusuk
Masingmasing melepas rantai yang membelenggu hati
Mengangkat balok yang menindih kasih
Menanggalkan tabir hitam yang berbenih dendam

Rumah khalawat penuh tangisan
Ketika semua berserah untuk bertobat
Rumah khalawat memancarkan kasih
Ketika belenggu dendam terhapus dengan pelukan


Jarak menjadi tak berarti
Ambisi bingung mencari tempat bernaung
Karma cinta dan kasih telah menjadi udara
Yang melepas malam di rumah khalawat

Malang, Desember 20025



Mas Yayun
(Sukabumi)

Elton John

seperti sodom gomorah
menolak luth
menghunjamlah batu-batu

satu teriakan saja
setelah itu sunyi
pompeii dilumat gemuruh vesuvius

tapi naples dan capri
lupa menggali sejarahnya sendiri
nudisnya kini juga diperdaya mithraic ?

lalu aku melihatmu, john
di windsor buildhall kamu tersenyum lucu
kepada david furnish di sampingmu

aku memang cuma terkesima
tetapi selanjutnya menyimak
: aku, kamu dan kekasihmu, waktu

sambil kubaca kembali
sodom gomorah dan pompeii
lewat sejarah dan kitab suci

kamu bacalah roma dalam injilmu
atau pada ayat-ayat al qur’an mulia
juga fosil-fosil itu, peristiwa yang dihentikan waktu

ternyata Tuhan mengazab sementara tiba-tiba
bagi kamu cukup satu teriakan saja
sebelum lumat seketika !

Sukabumi, Desember 2005

Melody Muchransyah
(Bogor)

Hidup

hidup adalah kehampaan suara-suara pada malam tak berbintang
adalah kenangan indah tentang manisnya rasa kecup cinta
adalah sebuah perjuangan pahit yang berujung pada asa
adalah nyanyian merdu nan sendu

hidup tak hanya hidup namun pula merasa
hidup adalah tentang tangisan dan tawa
tentang kebenaran dan esensi dari rasa percaya
adalah kemesraan dua insan yang mabuk bercinta

hidup meski tak bergeming namun pula tak berlari
hidup memang hanya ada bila kau menikmatinya
hidup adalah merasa bersyukur
dan hidup, bagiku, adalah berada di sisimu dan mencintaimu

Bogor, 16 Januari 2006


Edisi 19

Micky Hidayat
(Banjarmasin)

Meditasi Rindu
Bagi ayahnda Hijaz Yamani

1
Mengingat kembali dirimu
Keterasingan dan sunyi pun menyapa
Menulisi air mata, di antara kata-kata liar buruanku
Mengaliri duka cita tak pernah terucapkan
Sekelompok camar membelah laut
Kumandang takbir melayang-layang di udara
Menyusun riwayat dunia yang tak pernah tamat kubaca
Selalu kubaca, berulang-ulang aku membacanya

2.
Tiba-tiba rinduku padamu
Menjelma sebuah menara menjulang
Mengajari udara beterbangan
Dengan kesabaran
Mengusik cuaca dan angin
Cahaya matahari mengirimkan salam dan doa
Yang tumpah dalam kenikmatan ruang dan waktu
Dalam keheningan sempurna

3.
Bayang-bayang wajahmu
Menjelma rembulan dan bintang-bintang
Di hamparan sajadah kebijaksanaan
Kekhusukan tasbih dan tahmid
Dengan kesetiaan samudera
Berkelebatan ayat-ayat
Berkilauan rahasia-rahasia
Tebing-tebing mimpi dunia
Yang diselimuti kabut
Dalam tahajud sunyi

4.
Mendaki, mendaki
Mendakilah !
Semadi, semadi
Semadilah !
Hingga ke puncak zikir kembara
Telah engkau reguk kehidupan fana dengan air mata
Telah engkau enyahkan kilau-kemilau dan kecemasan dunia
Menuju ketenangan maha sempurna

5.
Telah engkau tamatkan membaca beribu ayat
Hingga menerangi alam semesta
Telah engkau tuntaskan tafakur dalam keheningan
Berkhalwat dalam salawat
Cahaya nabi dan para rasul
Mengembara menuju mahsyar
Bertakbir tak habis-habis takbir
Di keluasan sajadah
Hingga sujud dalam rakaat demi rakaatmu
Menyentuh surga

6.
Dan aku di sini, di puncak kerinduan ini
Beribu tahun memunguti kesepian tak terperi
Dalam ketidakberdayaan, di ruang kefanaanku
Dan menanti, akankah kau datang lagi dengan senyum khasmu
Kemudian pergi tanpa pamit bersama mimpiku yang mawar
Juga rinduku tak terpuaskan

7.
Sebagaimana sajak-sajak yang mengalir
Dari kawah batinku, pada setiap puncak pendakianku
Selalu saja menulisi kecemasan dunia
Menangisi luka bulan, bintang-bintang, dan matahari
Mentasbihkan kebijakan dan kebajikan
Menzikirkan kebaikan dan kebenaran
Yang pernah kau ajarkan diam-diam padaku
Seperti kediaman batu-batu

8.
O, bapak, sebagaimana puisi-puisimu
Yang kini tak bisa lagi bicara
Tetapi masih berulang-ulang kubaca
Aku baca !
Sebagaimana aku terus belajar mengeja
Dan mencari kata-kata
Sebagaimana aku terus belajar membaca
Isyarat dan gerak zaman
Sambil mengumandangkan ayat-ayat kebenaran
Dengan cahaya zikir dan air mata doa
Mengkristal dalam jiwamu yang mawar
Bersemayam cahaya maha cahaya-Nya

2001/2003

Miziansyah J.
(Samarinda)

Dendang Duka
(Sajak ta’ziah bagi Alm.H.Zailani Ideris)

Tangis tabur bunga menghentikan deru angin seketika
Seekor rangkong turut merenungi musim berganti
Mengapa dawai sampe yang dipetik tiba-tiba putus
Padahal melodi Tepian Pandan masih didendangkan
Padahal pesta mentari masih kita inginkan sepanjang pagi
Tangis tabur bunga dalam ini duka menghentikan segala pesta

Suasana kaku membujurkan jasad saudaraku
Inilah sebuah kepergian tanpa ditahan
Tertinggallah masalalu dengan sejuta kenangan
Pupuslah cita dan cinta
Atas kebiruan langit dan keindahan dunia

Tiada sekeping mimpipun tertinggal
kecuali renda-renda kerinduan
Kerinduannya adalah arus yang mengalir
kemuaraNya
Adalah kita yang tertinggal
Adalah dia yang mencapai samapai

Samarinda, 1999

Catatan :
Rangkong = burung anggang
Tepian Pandan = julukan untuk kota Tenggarong
Sampe = alat musik petik suku Dayak Benuaq


Muhammad Choirul Anam

(Boyolali)

Mengeja Malam Runtuh dan Kejatuhan Bintang

gununggunung malam runtuh
ketika bintang sedang menjaga kejatuhannya
kabut gelisah dengan warna hitam yang mengitari tubuhnya
sementara langit hanya bersedekap
menunggumatahari yang sebentar lagi akan naik di punggungnya

aku lupa memandang gelap
aku luput menghitung cahaya
sementara rekaat telah memburai menjadi neraka

ruang renung, mei4, 2005