<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2156930008317982785</id><updated>2012-02-16T03:53:26.798-08:00</updated><title type='text'>Antlg Puisi Nusantara : 142 Penyair Menuju Bulan</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://menubul.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menubul.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18266239886781897605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/TL7RnaMrAUI/AAAAAAAABcM/oNoOzQriCvA/S220/Potret+Diri+1.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>37</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2156930008317982785.post-173841692256395389</id><published>2010-10-20T04:10:00.000-07:00</published><updated>2010-10-20T04:14:51.351-07:00</updated><title type='text'>Kata Pengantar :</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/TL7PFq82dPI/AAAAAAAABcE/gyOGgH91cNA/s1600/Jarkasi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 147px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/TL7PFq82dPI/AAAAAAAABcE/gyOGgH91cNA/s200/Jarkasi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5530085088793359602" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;( Oleh :Jarkasi )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di suatu Minggu siang yang cukup menyengat tepatnya tanggal 13 Agustus 2006, ketika tubuh ini dihela-helakan di pembaringan, saya kedatangan seorang penyair Arsyad Indradi dari kotaBanjarbaru. Perjalanan dari Banjarbaru ke batas kota Banjarmasin, tempat tinggalku, tidak memakan waktu lama. Ya, kalau ditempuh, sekitar 45 menit atau satu jam perjalanan. Tapi si tengah terik matahari musim kemarau – balalah ( berjalan ) — Arsyad Indradi bukan persoalan gampang. Apalagi dalam usia sesudah 50 tahun, ini orang – orang yang hanya memiliki hampadal ganal ( semangat yang tinggi ) yang mau melakukan kayuhan sepeda motor seperti ini.&lt;br /&gt;Pak Arsyad langsung mengemukakan maksud kedatangannya di samping menyisipkan dua buku kumpulan puisinya sendiri. Dalam hati saya menyeru, luar biasa orang tua yang satu ini. Karya – karya puisinya terus menapaki perjalanan hidupnya. Sebuah buku tebal lebih dari 700 halaman dikeluarkan dari dalam tasnya. Pada buku itu tertera namaku sebagai salah seorang yang memberi pengantar. Aku sedikit tersanjung oleh sikap Pak Arsyad, sebab tentu masih banyak – banyak teman – teman penyair lain yang sangat handal memberikan pengantar.Apalagi buku setebal 700 halaman lebih adalah antologi puisi penyair nusantara. Lebih ciut lagi hati ini ketika harus memberikan pengantar sebuah antologi penyair nusantara. Rasanya memang tak ada ilmu untuk itu, tak ada pengalaman yang bersarang, dan tak ada gumpalan perjalan kepenyairanku – yang sedebu ini – dapat mengibarkan bendera sendiri, apalagi bendera – bendera yang saya anggap lebih dulu mampu sudah berkibar besar. Tapi aku teringat niat besar Pak Arsyad Indradi ingin menghimpun ide besar ini. Paling tidak aku sedikit dapat mengurangi kebuntuannya. Kalau aku membayangkan, gagasan ini tidak sekedar gagasan, tapi hanya kekuatan besarlah yang mau dan mampu mengerjakan ini. Sungguh saya tidak berpura di hadapan Pak Arsyad memuji apa yang dia lakukan, tapi ini sungguh luar biasa. Banyak orang hebat dan didukung biaya yang banyak bisa menghimpun karya – karya seperti ini. Tapi bagi Pak Arsyad Indradi — yang saya tahu – tidak bermodalkan materi selain semangat yang besar akhirnya mampu merealisasikan buku ini. Sempat pula terngiang sindiran bahwa gagasan Pak Arsyad kagubihan maksudnya idenya besar dan muluk tidak sebanding dengan kemampuannya. Tentu ungkapan pematah ini sering dipakai oleh orang – orang Banjar dulu, hingga sekarang masih banyak yang mewarisinya, hingga kita tak punya karya – karya monumental. Sungguh kalau tidak karena tekad yang luar biasa sudah jelas buku ini tidak terhimpun, sesungguhnya kalau tidak kekuatan ingin memecahkan batu cadas kekerasan buku ini tidak akan pernah terwujud. Sehingga saya pun tidak bisa menyembunyikan rasa salut saya untuk Pak Arsyad Indradi karena hanya dengan tekad yang besar dibungkus dengan kesahajaan semuanya bisa terwujud. Seorang penyair yakin, bahwa sajak pada hakikatnya reaksentuasi kreativitas. Reaksentuasi pada dasarnya adalah konsentrasi dan intensitas pernyataan kesan dalan bahasa yang lain. Oleh karena itu tidaklah berlebihan jika dikatakan oleh Subagio Sastrowardoyo bahwa lewat sebuah sajak sebenarnya terlihat juga sosok pribadi penyair lengkap dengan latar kultural dan pengalamannya. Melalui bentuk sajak sebenarnya penyair telah membangun dunia dialogis yang sebenarnya mempunyai kesan tersendiri jika dipahami secara lebih intens.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Kita menjumpai 142 penyair dan 426 puisi yang beragam. Dapat dibayangkan demikian hiruk – pikuknya tema – tema yang dijumpai, sehingga amatlah tidak mungkin tulisan ini mampu merebut dan mengungkapkan setiap intelektual yang ada. Namun, saya amat yakin apa pun yang tertera di sini mengandung “obsesi” sekaligus pengakuan bahwa puisi berisi komitmen hidup dan pada hidup itu terdapat sesuatu yang diperjuangkan. Meski semua itu mestilah dicerna tapi bukan tidak mungkin pembaca sedikit berkenalan dengan serba sedikit dari ungkapan yang cemerlang.&lt;br /&gt;Semua orang bisa kena kritik, terutama karena dilihatnya seseorang tidak logis. Istimewanya yang tidak logis tersebut adalah persoalan besar yang selalu muncul di mana saja. Tapi jangan salah dulu, sebab kritik adalah sesuatu yang kita perlukan. Apa pun medannya., sesungguhnya dalam komunikasi setiap kritik selalu berisi pendidikan.&lt;br /&gt;Beda lagi dengan penyair, ia memiliki kepekaan mendalam (concern) terhadap sang Maha Pencipta. Manusia selalu diuji oleh berbagai masalah, serangan emosi dan lebih lagi nafsu. Untuk menangkis cobaan ini semua tersimpul dalam bait – bait berikut. Penyair memaknai betapa pentingnya cahaya hidup. Cahaya itu menyentuh ketika si Aku terdampar disebuah pantai.&lt;br /&gt;Perjalanan meraih Rahmat dan Rezki dari yang kuasa sungguh membayangkan keikhlasan. Namun, Dia lebih menyayangi. Peristiwa itu amat dalam ia rekam dalam petikan sajak Zuhrotul Aziza Ahmadia. Dalam usia lima bulan Aziza yang amat tersayang kembali ke Pangkuan Sang Maha Penyayang (Selamat Jalan Anakku; 43).&lt;br /&gt;Bagi kebanyakan penyair, sajak tersebut mungkin dianggap biasa, kurang mengental, tapi itulah saya bisa merasakan ekspresi Zuhrotul tidak sekedar ekspresi tetapi ekspresi yang memiliki histotisitas meaning.&lt;br /&gt;Seorang penyair adalah seorang yang berbicara dengan orang lain tentang rasa estetik tertentu. Secara formal disusun dalam wujud kata, idiom, baris, dan bait serta disanding dengan peralatan puitik lainnya. Kadang kala ada penyair mengaku bahwa penyair itu adalah sebuah tuntutan batin. Kita ambil sebait puisi Ali syamsuddin Arsi “ Kupilih Mata Pena “ ( hal. 59) / Kupilih mata pena / dari emas murni lubuk hati ini / nuraniku berkaca- kaca/ merajah cakrawala//... Penyair hadir dengan segala bentuk kemurnian isi hati lepas dari segala kepentingan. Ungkapan verbal penyair membuktikan pernyataannya sebanding dengan emas murni yang tak ada kadar unsur mencampurinya. Sebuah tanggung jawab sosial yang vbiasanya selalu berpihak pada orang-orang awam. Beda lagi dengan ungkapan penyair lain lebih mengumbar imaji- imaji nostalgik. Sajak adalah gairah hidup dari perjalanan nostalgik itu. Sajak/.... juga menunjukkan hal itu. Terasa ada endapan pengalaman. Pengalaman itu memiliki dimensi estetik yang tunggal. Dan seterusnya ... dan seterusnya.......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banjarmasin, September 2006&lt;br /&gt;( Jarkasi, dosen FKIP Unlam Banjarmasin, Pemerhati&lt;br /&gt;Seni Budaya )&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2156930008317982785-173841692256395389?l=menubul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menubul.blogspot.com/feeds/173841692256395389/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2156930008317982785&amp;postID=173841692256395389' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/173841692256395389'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/173841692256395389'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menubul.blogspot.com/2010/10/kata-pengantar.html' title='Kata Pengantar :'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18266239886781897605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/TL7RnaMrAUI/AAAAAAAABcM/oNoOzQriCvA/S220/Potret+Diri+1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/TL7PFq82dPI/AAAAAAAABcE/gyOGgH91cNA/s72-c/Jarkasi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2156930008317982785.post-6520242246681245478</id><published>2010-03-31T09:17:00.000-07:00</published><updated>2010-03-31T19:02:15.512-07:00</updated><title type='text'>Edisi 1</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;A.Rahem Umar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Sumenep - Madura)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Coution&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika pantatmu dan pantatku terhenyak&lt;br /&gt;Di pelupuk senja hari itu&lt;br /&gt;Telah kubaca surat dari hatimu kemarin&lt;br /&gt;Jalanan kitapun makin remang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti firman kata-katamu laksana mantra berjatuhan&lt;br /&gt;Pada lantai bumi yang menggigil&lt;br /&gt;Namun kita tetap memuntahkan kata-kata&lt;br /&gt;Seakan-akan mengeja semua jarak antara langit dan bumi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelma filosof aku memaknai diri&lt;br /&gt;Dan tarian mata – hatimu&lt;br /&gt;Bahkan keropos tubuhmu yang senantiasa&lt;br /&gt;Bertilawah menyebut namaku di rimba-rimba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eva, di lorong itu kadang aku terjebak oleh mimpi sepi&lt;br /&gt;Lantas dipecahkan oleh piring – piring klakson&lt;br /&gt;Sampai akhirnya aku pasrah pada dentingan jam dinding&lt;br /&gt;Yang mencekikku dengan rafia kefanaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dik, inilah rumahku yang tak berpintu&lt;br /&gt;Inilah hutan batinku yang kecoklatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumenep, 270909&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Abdul Kadir Ibrahim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Tanjung Pinang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kekuasaan Neraka&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;zaman tercurah airmata  dan darah keinginan tamak keras legam&lt;br /&gt;menyihir rindu pasung kelat racun nyawa semurah antah&lt;br /&gt;kemaruk hidup menyangkul luka zuriat dunia&lt;br /&gt;meniti bala peradaban cabikkoyak&lt;br /&gt;gemerentam meriam bom&lt;br /&gt;panas nuklir ludah&lt;br /&gt;kekuasaan&lt;br /&gt;amerika&lt;br /&gt;josh&lt;br /&gt;w&lt;br /&gt;bush&lt;br /&gt;sekutu barat jahanam&lt;br /&gt;ambur demokrasi hak azasi&lt;br /&gt;sesungguhnya jala-jaring iblis dajjal&lt;br /&gt;iraq iran libya palestina pakistan indonesia&lt;br /&gt;negara islam sedunia bilapun nerakalah! amerika punya surga&lt;br /&gt;....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanjung Pinang, 2003&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Aen Trisnawati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Bandung)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;Mimpi Basah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengendapkan kerinduan&lt;br /&gt;pada dinding kamar, pada detak hujan, pada dingin&lt;br /&gt;yang menyeka malam menjadi malam.&lt;br /&gt;suara batuk tertancap di gemuruh&lt;br /&gt;menjadi sunyi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menyimpan kerinduan&lt;br /&gt;pada sebotol air putih&lt;br /&gt;kemudian kuteguk&lt;br /&gt;menjadi bayangbayang&lt;br /&gt;menjelma lingkar matamu&lt;br /&gt;hingga masuk ke kantung kemihku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;malam kian sunyi&lt;br /&gt;kutitipkan puisi rindu&lt;br /&gt;di atas bantal biru&lt;br /&gt;lalu mengecup bayangmu dan bergumam pelan&lt;br /&gt;“selamat malam”&lt;br /&gt;dan lelap resah hingga basah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BumiKembara, Desember 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Agus Bakar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;        (Solo)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nyanyian Orang Diam&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cikalistri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan berarti kita membisu dalam keheningan tatkala kembali bertapa di&lt;br /&gt;gua-gua dan mengunci rapat mulut kita sebagaimana berpuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah kita masih berusaha mengingat wejangan kata-kata bunda, lirih&lt;br /&gt;nurani, juga tentang sisa-sisa percakapan kita yang terjeda; sejak garis&lt;br /&gt;tangan ini menginginkan kita terlahirkan bersama-sama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara-suara dunia memanglah nyanyian gaduh: getaran yang semakin&lt;br /&gt;nyaring menyayat setiap gema hati, tatkala kita terdiam dalam jeram,&lt;br /&gt;tatkala kita dipaksa harus memilih ketidakpastian jalan.&lt;br /&gt;Tidak lagi bisa kita pungkiri dan perdebatkan suratan atau lirih bisikan yang&lt;br /&gt;meski kita diam-diam berusaha menghindarinya perlahan-lahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan memang tampaklah tiba saatnya bagi kita untuk kembali ke sunyi&lt;br /&gt;pertapaan. Kita telan hening dalam semua malam, tanpa menaruh kesumat&lt;br /&gt;dendam, bagai sunyinya kepompong yang bersiap memekarkan keindahan&lt;br /&gt;di terang wajah bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solo, bulansuci, 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Agus Manaji&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Yogyakarta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;Kasidah Akar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merambati gelap dan basah hujan&lt;br /&gt;Telah kutinggalkan benderang dan tawa itu&lt;br /&gt;Di udara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menari di sajadah paling sunyi&lt;br /&gt;Meningkahi bongkah batu, tanah&lt;br /&gt;Dan larik-larik fondasi. Kedalaman&lt;br /&gt;Gelap dan rindu mengajariku ketabahan&lt;br /&gt;Juga keikhlasan, hingga mesra&lt;br /&gt;Kupeluk siang dan malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku telah jatuh cinta&lt;br /&gt;Mengembara dan mengisap lezat sisa-sisa&lt;br /&gt;Yang diabaikan keriangan manusia. Kucium&lt;br /&gt;Wajah bumi yang kelam dan bau. Namun&lt;br /&gt;Kucintai pula langit yang gemawan&lt;br /&gt;Sebab kuterima kasihnya lewat rinai hujan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan selalu kutitipkan pada bunga untuknya&lt;br /&gt;Sesimpul senyuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sajak ini pernah dimuat Majalah HORISON edisi Agustus 2005&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2156930008317982785-6520242246681245478?l=menubul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menubul.blogspot.com/feeds/6520242246681245478/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2156930008317982785&amp;postID=6520242246681245478' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/6520242246681245478'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/6520242246681245478'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menubul.blogspot.com/2010/03/edisi-1.html' title='Edisi 1'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18266239886781897605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/TL7RnaMrAUI/AAAAAAAABcM/oNoOzQriCvA/S220/Potret+Diri+1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2156930008317982785.post-491265426437705334</id><published>2010-03-31T09:16:00.000-07:00</published><updated>2010-03-31T19:04:21.087-07:00</updated><title type='text'>Edisi 2</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Agus R Sarjono&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Jakarta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sesaat Sebelum Kebakaran Hutan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita seperti puisi ya? Bisik embun di sela daun pada kabut&lt;br /&gt;yang perlahan turun bersama senja. Matahari tinggal jejak&lt;br /&gt;kemerahan di cakrawala. Beberapa kelelawar melintas&lt;br /&gt;di antara pohonan dan rembang senja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah kita seperti puisi! tanya embun di sela daun&lt;br /&gt;pada angin yang menari bersama angin di sela bunga&lt;br /&gt;Beberapa kunang-kunang berkerlipan&lt;br /&gt;menggaris malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa kita seperti puisi? Atau setidaknya kenangan&lt;br /&gt;ucap embun yang hampir menetes di sela daun kepada cahaya&lt;br /&gt;bulan yang baru tiba di hamparan rumputan. Beberapa ikan&lt;br /&gt;berkecipak malas, dalam kolam.&lt;br /&gt;Rasanya kita seperti pembangunan, kata setumpuk bata&lt;br /&gt;dan batu-batu sambil tersenyum-senyum dan membagi kartu.&lt;br /&gt;Tentu saja kita pembangunan! Bukankah kita merdeka&lt;br /&gt;dan mandiri seperti sebuah kota. Coba bikin api unggun&lt;br /&gt;dari ranting dan daun-daun, biar kabut dan dingin berangkat&lt;br /&gt;Biar malam sedikit lebih hanghat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabut, dingin dan cahaya bulan saling berpandangan&lt;br /&gt;Termangu,. Malam berjalan, selapis demi selapis. Kelelawar&lt;br /&gt;kunang dan ikan-ikan melintas lamban. Apakah kita …&lt;br /&gt;tapi embun itu tak berani lagi bertanya. Ia pun menetes&lt;br /&gt;seperti airmata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1996&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ahmad Muchlish Amrin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Yogyakarta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dewi Masnunah (1)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi, aku datang&lt;br /&gt;untuk menduduki kursi kosong&lt;br /&gt;di hatimu, dengan pelitur mengkilau&lt;br /&gt;di malam pertama&lt;br /&gt;matahari dan bulan bergantian&lt;br /&gt;menyaksikan percintaan&lt;br /&gt;yang nyaris sempurna&lt;br /&gt;Dari langit ke tujuh&lt;br /&gt;katakata turun sebagai firman suci&lt;br /&gt;tidak berbunyi di dada dunia&lt;br /&gt;hanya dalam cinta&lt;br /&gt;Dewi, kubawakan bunga dari surga&lt;br /&gt;semerbaknya membuat malaikatmalaikat&lt;br /&gt;iri hingga ia membacakan syahadat cinta&lt;br /&gt;dan menyuguhkan getar rindu jiwa&lt;br /&gt;Di ujung bunga itu, matahari dan bulan&lt;br /&gt;lain menunduk juga sebelas bintang&lt;br /&gt;berkedip bila kelambu samasama&lt;br /&gt;terbuka, Masnunah!&lt;br /&gt;Kau dan aku melupakan warna&lt;br /&gt;Meninggalkan yang tidak atas nama cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malang, 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ahmad Syamani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Bandung)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Syair Perempuan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota bergerak mencari kata-kata&lt;br /&gt;Lewat panggung pentas dalam bahasa mata&lt;br /&gt;Memikat&lt;br /&gt;Orang-orang di sini masih menjadi jam&lt;br /&gt;Tidur&lt;br /&gt;Penuh sandiwara murahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat, salam hangat perempuan&lt;br /&gt;Lentik matanya&lt;br /&gt;Ketika sedikit kata-kata menari&lt;br /&gt;Sampai jejak pintu pentaspun memanggil&lt;br /&gt;Namanya, dengan tekun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengarlah, robekan tepukan mengucurkan&lt;br /&gt;Teriakan, ada senyuman diperdengarkan&lt;br /&gt;Untukku dan lampu-lampu kehilangan warna&lt;br /&gt;Kehangatannya, kerinduannya&lt;br /&gt;Sampai kudengar kau mengigau di luar teras&lt;br /&gt;Puisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota-kota kabupaten melewati beribu tapak&lt;br /&gt;Pohonan merah&lt;br /&gt;Kau yang mengatur ruangan kata&lt;br /&gt;Dalam gerak seni&lt;br /&gt;Tanpa kehilangan kodrat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subang, 25 September 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ahmad S. Rumi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Banten)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Negeri Bandung&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negeri Bandung&lt;br /&gt;Puisi cukup mahal&lt;br /&gt;Jalannya beraspal&lt;br /&gt;Jalurnya ditunggu preman&lt;br /&gt;Redakturnya amat terkenal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negeri Bandung&lt;br /&gt;Aku punya kawan&lt;br /&gt;Namanya lukman dan dadan&lt;br /&gt;Kata sitok, lukman penyair berbakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi lukman berkasus dengan Indonesia&lt;br /&gt;Dan dadan tidak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negeri Bandung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dadan seorang demonstran&lt;br /&gt;Ada kampus terkenal&lt;br /&gt;Dekat galeri popo iskandar&lt;br /&gt;Mahasiswanya tenartenar&lt;br /&gt;Terutama dalam kepenyairan&lt;br /&gt;Padahal dosennya tidak terkenal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negeri Bandung&lt;br /&gt;Cerita ini khayalan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandeglang, Banten 2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2156930008317982785-491265426437705334?l=menubul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menubul.blogspot.com/feeds/491265426437705334/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2156930008317982785&amp;postID=491265426437705334' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/491265426437705334'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/491265426437705334'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menubul.blogspot.com/2010/03/edisi-2.html' title='Edisi 2'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18266239886781897605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/TL7RnaMrAUI/AAAAAAAABcM/oNoOzQriCvA/S220/Potret+Diri+1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2156930008317982785.post-294869371136627367</id><published>2010-03-31T09:15:00.002-07:00</published><updated>2010-04-03T05:50:26.418-07:00</updated><title type='text'>Edisi 3</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ahmadun Yosi Herfanda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Jakarta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Resonansi Buah Apel&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;buah apel yang kubelah dengan pisau sajak&lt;br /&gt;tengadah di atas meja. Dagingnya yang&lt;br /&gt;putih-kecoklatan berkata,&lt;br /&gt;‘’lihatlah, ada puluhan ekor ulat&lt;br /&gt;yang tidur dalam diriku.’’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;memandang buah apel itu aku seperti&lt;br /&gt;memandang negeriku. Daging putihnya&lt;br /&gt;adalah kemakmuran tanah airku&lt;br /&gt;yang lezat dan melimpah&lt;br /&gt;sedang ulat-ulatnya adalah para pejabat&lt;br /&gt;yang malas dan korup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seekor ulat yang tahu tamsilku pun berteriak,&lt;br /&gt;‘’kau pasti tahu siapa yang paling gemuk&lt;br /&gt;di antara mereka, dialah presidennya!’’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;buah apel dan ulat&lt;br /&gt;ibarat negara dan koruptornya&lt;br /&gt;ketika buah apel membusuk&lt;br /&gt;ulat-ulat justru gemuk di dalamnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 2000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Akhmad Muhaimin S.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Sleman - Yogyakarta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tak Kubaca Isyarat Itu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kepergianmu betapa tiba-tiba, anakku&lt;br /&gt;sungguh, tak kubaca isyarat itu&lt;br /&gt;wajahmu masih saja berseri nan ayu&lt;br /&gt;meski terbaring, dalam sakit seminggu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;naik turun dari ruang picu dan tunggu&lt;br /&gt;ayah dan ibu hanya bisa berdoa untukmu&lt;br /&gt;eyang kakung dan putri mencintaimu&lt;br /&gt;seluruh keluarga mengharap sembuhmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi, pergimu betapa tiba-tiba, anakku&lt;br /&gt;sungguh, tak kubaca isyarat itu&lt;br /&gt;dua atau tiga malam menjelang ajalmu&lt;br /&gt;wangi itu selalu saja di sekitar tubuhmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sungguh, tak kubaca isyarat itu&lt;br /&gt;wajahmu bahkan semakin berseri nan ayu&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;Yogyakarta, 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Alex R. Nainggolan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Jakarta Barat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mencari Ibu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berapa banyak ibu tumbuh jadi bayangan dalam hariku ?&lt;br /&gt;maka aku pun mencarinya, di atas tanah, sepanjang jalan,&lt;br /&gt;di bawah hujan., tapi selalu kutemukan bentuk ibu-ibu yang lain&lt;br /&gt;menggendong matahari, menancapkan kesakitan di tubuhnya sendiri, atau menyusui bayi yang paling purba&lt;br /&gt;aku kehilangan tanda mencarinya, cuaca kembali datang dengan bencana&lt;br /&gt;yang tak mudah diterka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ibu, ibu, di mana kamu ? seperti masuk ke dalam sesat jalan langkahku&lt;br /&gt;tak ada jawaban, cuma hening yang tak bergeming, menyimpan seluruh masa lalu yang bening&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku mencari ibu di dalam tubuh rempuan&lt;br /&gt;tapi yang kutemukan hanya rahim-rahim yang kosong&lt;br /&gt;kehilangan benih, di sudut-sudut kota berkerumun dengan darah aborsi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku mencari ibu di tubuh istri-istri&lt;br /&gt;tapi cuma kutukan nyali birahi yang ada&lt;br /&gt;mendekap malam-malam yang penuh keranda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku mencari ibu lagi, di antara getar suara ponsel&lt;br /&gt;surat-surat yang kutumpuk di lemari pakaian, atau sisa uang untuk belanja&lt;br /&gt;hari ini. tak ada ibu di sana, di pohon-pohon apel&lt;br /&gt;yang ada cuma ulat-ulat, merakit sekarat&lt;br /&gt;tempat adam belajar kata cinta pada hawa&lt;br /&gt;dan menggapai dunia&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;ibu, di mana kamu ? seperti kundang, tak henti-henti kupanggul kutuk ini&lt;br /&gt;tak kutemukan ibu. hanya patung-patungnya dibangun di penjuru kota&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ali Syamsuddin Arsi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Banjarbaru)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bermain Bersama Anak-anak&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki ruang kasih kalian aku menjadi asing dalam kebersamaan&lt;br /&gt;namun izinkanlah, walau sepintas mungkin tak pantas&lt;br /&gt;aku sudah berupaya agar cinta kita tetap terjaga&lt;br /&gt;seperti kisah-kisah binatang yang sering mengantarkan tidur kalian&lt;br /&gt;setiap malam, atau malam-malam yang lain&lt;br /&gt;ada banyak tayangan, kenangan bahkan panutan&lt;br /&gt;dari bayang-bayang kehadiran, karena dongeng itu&lt;br /&gt;selalu saja menjadi pilihan utama, selain harus lebih banyak membaca buku-buku cerita sebagai hadiah kenaikan kelas kalian&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;Memasuki ruang mimpi kalian aku menjadi sesat dalam kesendirian&lt;br /&gt;sementara jalan yang kau lalui tak semuanya aku pahami&lt;br /&gt;tapi tali kendali layang-layang kalian dengan teguh harus kupertahankan&lt;br /&gt;karena angin di luar berhembus sangatlah kencang&lt;br /&gt;belantaramu, ternyata lain dengan rerimbun di zaman berbedasi&lt;br /&gt;izinkan aku ikut bermain di tengah-tengah kalian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan, jarak seperti apa lagi yang akan engkau paparkan&lt;br /&gt;dari lika-likunya kasih dan sayang, sementara cinta&lt;br /&gt;haruslah tetap dipertahankan&lt;br /&gt;walau sampai ke batas kematian&lt;br /&gt;karena keabadian itu merupakan sumber bayangmu&lt;br /&gt;dari zaman ke zaman, dari ruang ke ruang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan, atas izinmu aku lebih memilih bersama mereka&lt;br /&gt;walau tidaklah harus di tengah mereka&lt;br /&gt;karena di balik dunia, ternyata dunia lain juga ada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banjarbaru, November 2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2156930008317982785-294869371136627367?l=menubul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menubul.blogspot.com/feeds/294869371136627367/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2156930008317982785&amp;postID=294869371136627367' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/294869371136627367'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/294869371136627367'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menubul.blogspot.com/2010/03/edisi-3.html' title='Edisi 3'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18266239886781897605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/TL7RnaMrAUI/AAAAAAAABcM/oNoOzQriCvA/S220/Potret+Diri+1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2156930008317982785.post-2697937483705214272</id><published>2010-03-31T09:15:00.001-07:00</published><updated>2010-04-03T05:51:05.880-07:00</updated><title type='text'>Edisi 4</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ali Wardana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Banyumas - Jateng)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sajak Ronggeng&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;teruntuk Srintil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menimbang lenggok senyum selendangmu&lt;br /&gt;kembangkan lanskap dukuh lumuh&lt;br /&gt;di tingakah dayu kembang&lt;br /&gt;disela suit serta tepuk tangan&lt;br /&gt;di bugai ketipuk kendang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mata tergelincir liur mengalir&lt;br /&gt;piker menggulir liar&lt;br /&gt;naikkan gelegak darah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;diantara aroma tawaran&lt;br /&gt;meliuk angin nafsu&lt;br /&gt;merembeskan keringat nyala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semua terangkum dalam dekapan&lt;br /&gt;coba di buka&lt;br /&gt;diurai&lt;br /&gt; diderai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Purwokerto, 23 April 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Aminuddin Rifai SS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Samarinda)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Makrifat Sungai&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku berkapal, sepagi tadi&lt;br /&gt;sesiang ini&lt;br /&gt;menyusuri sungai&lt;br /&gt;dan kupastikan&lt;br /&gt;bahwa aku tidak pernah&lt;br /&gt;melupakanmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dari dek ini&lt;br /&gt;kutangkap aurat tepian&lt;br /&gt;yang menjaga genit perawan&lt;br /&gt;mandi berkain basah&lt;br /&gt;berhati basah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;amboi&lt;br /&gt;aku kembali memastikan&lt;br /&gt;bahwa syahwatku telah basah&lt;br /&gt;oleh sebab mengintipmu&lt;br /&gt;di sungai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Anam Khoirul Anam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Ngawi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tuhan Memintal Firman-nya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tuhan memintal firman-Nya dari gempita cahaya&lt;br /&gt;lalu dijadikannya sepotong kemeja&lt;br /&gt;dan, menurunkannya kepelataran sunyi&lt;br /&gt;yang Ia namani dengan jagad&lt;br /&gt;:menitiskan ruh-ruh di dalam-Nya&lt;br /&gt;“maka jadilah kau hamba Semesta”&lt;br /&gt;Sekian abad lama dalam hayat, berotasi,&lt;br /&gt;mizantium pun berkata dalam ukur-Nya&lt;br /&gt;menariknya ke cakrawala&lt;br /&gt;dengan membawa manuskrip&lt;br /&gt;yang telah dicuci dengan mata air—airmata&lt;br /&gt;hingga akhirnya pun terdiam: kelam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Arbynsjach Damayanto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Dibaca Arbensjah Damayanto)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Malang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sepotong Roti Pengganjal Mimpi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehangatan hari dan cericit burung, tak ada lagi di sini&lt;br /&gt;terberangus sudah&lt;br /&gt;belantara jelmakan hujan air mata&lt;br /&gt;mendera mimpi kanak-kanakmu;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak ada lagi mimpi itu nak, tak ada lagi, ia sudah pergi,&lt;br /&gt;pergi bersama angkara yang tumbuh&lt;br /&gt;di antara sulur-sulur mereka”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Embun masih menggayut&lt;br /&gt;dibening kejora matamu&lt;br /&gt;redup menghapuskan harapan&lt;br /&gt;terserabut sudah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ini kali masih ada sepotong roti&lt;br /&gt;sisa kemarin pagi&lt;br /&gt;punguti, lumati sebagai pengganjal mimpi&lt;br /&gt;lalu terbanglah tinggi&lt;br /&gt;sampai ke langit&lt;br /&gt;jumuti bintang-bintang itu&lt;br /&gt;lalu sematkanlah di dalam hati;&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;Malang, 2004&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2156930008317982785-2697937483705214272?l=menubul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menubul.blogspot.com/feeds/2697937483705214272/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2156930008317982785&amp;postID=2697937483705214272' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/2697937483705214272'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/2697937483705214272'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menubul.blogspot.com/2010/03/edisi-4.html' title='Edisi 4'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18266239886781897605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/TL7RnaMrAUI/AAAAAAAABcM/oNoOzQriCvA/S220/Potret+Diri+1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2156930008317982785.post-2777694270766398442</id><published>2010-03-31T09:14:00.001-07:00</published><updated>2010-03-31T19:11:34.245-07:00</updated><title type='text'>Edisi 5</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ari Stya Ardhi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Jambi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Membunuh Bunda&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(&lt;span style="font-style: italic;"&gt;: anakku gelegar c talenta&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;turunlah dari peraduan mawar itu&lt;br /&gt;anakku, melepas kelopak mimpi&lt;br /&gt;dari kegelisahan reranting berduri&lt;br /&gt;lalu, aku ajak kau meradangi&lt;br /&gt;rumah-rumah singgah, melupakan bunda yang&lt;br /&gt;telah terbantai di meja pesta&lt;br /&gt;hiduplah aroma darah yang berkeliaran sepanjang estalase&lt;br /&gt;emperan, reguk debu bernanah di terminal-terminal.&lt;br /&gt;kemudian, tikamkan kemaluanmu mendidih&lt;br /&gt;gedung-gedung.biar beton dan kondo&lt;br /&gt;beranak pinak atas nama kejantanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di lorong-lorong pertempuran,&lt;br /&gt;bunda sudah binasa, sementara, nama-nama jalan&lt;br /&gt;selalu memanggili kesunyian.&lt;br /&gt;tancapkan alamat nisan ke  atap dapur kematian.&lt;br /&gt;asap sengketa harus mengepul,&lt;br /&gt;peperangan tak pernah mengenal&lt;br /&gt;dinding belas kasihan, pancangkan cakrawala&lt;br /&gt;benakmu meninggi kebimbangan kota-kota&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kelak, orang-orang berebut&lt;br /&gt;membangun pasar ke relung dada.&lt;br /&gt;karena rumah tidak  lagi mampu&lt;br /&gt;menampung sepetak sawah.&lt;br /&gt;maka, aku ajak kau meninggalkan&lt;br /&gt;ranjangku, menanggalkan busana usia.&lt;br /&gt;hingga, anakmu kembali membunuh bunda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bohemian Jambi, 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Arsyad Indradi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Banjarbaru)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Darah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah langit darah berdarah&lt;br /&gt;Tak habishabis jadi laut berabadabad telah&lt;br /&gt;tak berpaus di atasnya rajah perahu Nuhmu&lt;br /&gt;tak singgahsinggah pada dermaga darahku&lt;br /&gt;Hu Allah darahku hanyut dalam darahmu&lt;br /&gt;kutubku tenggelam dalam kutubmu                                             &lt;br /&gt;menghempas napas darahku membatubara&lt;br /&gt;di kunci rahasia Alifmu Alif Alif&lt;br /&gt;darah Adamku yang terdampar di bumi&lt;br /&gt;yang rapuh berabadabad  mencari darah Hawaku&lt;br /&gt;yang rapuh tersesat di belantaramu meraung&lt;br /&gt;darah laparku mencakarcakar mencari darahku&lt;br /&gt;beri aku barang setetes Hu Allah&lt;br /&gt;getar alir napas menyeru darahmu&lt;br /&gt;mengalir darah mataku mengalir darah musafir&lt;br /&gt;di sajadahmu&lt;br /&gt;mengalir menuju rumahmu&lt;br /&gt;darah hidupku Hu Allah&lt;br /&gt;darah matiku Hu Allah&lt;br /&gt;darah hidupmatiku Hu Allah&lt;br /&gt;darah raungku Hu Allah&lt;br /&gt;darah cakarku Hu Allah&lt;br /&gt;darah laparku Hu Allah&lt;br /&gt;darah hausku Hu Allah&lt;br /&gt;darah ngiluku Hu Allah&lt;br /&gt;darah rinduku Hu Allah&lt;br /&gt;manakala darah tak keringkering&lt;br /&gt;mendustakan firmanmu dan tak hentihenti&lt;br /&gt;berpaling pada jalanmu&lt;br /&gt;malam tak lagi malam siang tak lagi siang&lt;br /&gt;bulan bintang matahari kehilangan terang&lt;br /&gt;apatah lagi yang mampu meneteskan&lt;br /&gt;darah kehidupan Hu Allah&lt;br /&gt;semesta bergoncang Hu Allah&lt;br /&gt;arasy pun bergoncang Hu Allah&lt;br /&gt;darahku aujubillah&lt;br /&gt;darahku astagfirullah&lt;br /&gt;darahku subhanallah&lt;br /&gt; Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banjarbaru, 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Asep Pram (Asep Sopari)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Bandung)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Episentrum&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tiba-tiba kita menjelma pejalan&lt;br /&gt;seperti kereta ringkih yang&lt;br /&gt;meringis di jembatan besi&lt;br /&gt;merasakan beban muatan yang&lt;br /&gt;dikemas di pundak bagasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semalaman jari-jari kaki terjaga&lt;br /&gt;menyusuri semak gelap taman-taman kota,&lt;br /&gt;mengadukan letih pada patung&lt;br /&gt;yang membatu di pinggir trotoar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;langkah kita terus melaju&lt;br /&gt;melewati deretan pohon dan tiang listrik,&lt;br /&gt;lalu mengemis ketegaran pada tiang reklame&lt;br /&gt;yang menawarkan bijih embun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kita tak hendak menuju ke suatu tempat&lt;br /&gt;tapi sekadar menuruti naluri yang&lt;br /&gt;begitu saja hadir tanpa diundang.&lt;br /&gt;kita pun tak hendak mencari apa-apa&lt;br /&gt;selain membiarkan jiwa bergerak bebas&lt;br /&gt;di jalan-jalan lengang yang ditinggalkan tuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di antara bayang tiang lampu taman&lt;br /&gt;kita menemukan wajah buram diri sendiri&lt;br /&gt;tepekur menghitung jarak yang telah dilalui.&lt;br /&gt;perjalanan ini tak pernah menjanjikan sesuatu&lt;br /&gt;selain bayang-bayang tubuh sendiri&lt;br /&gt;di saat tubuh kerabat yang lain tergolek&lt;br /&gt;di papan catur menunggu siang.&lt;br /&gt;itu saja cukup, kita tinggal mengurainya&lt;br /&gt;menjadi tafsir-tafsir lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oktober 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;AslanAbidin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;      (Makasar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Walennae&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ketika senja turun dan cahaya menyerbuk di&lt;br /&gt;antara pohon-pohon lontar, aku kenang sungai ini&lt;br /&gt;sebagai lengkungan taman para bissu, gaib dan sunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di tepinya gadis-gadis mandi dan pulang menjunjung&lt;br /&gt;tempayam bersama gairah dan aroma kewanitaannya yang&lt;br /&gt;mengembang dari kembennya yang basah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“di sungai walennae kasihku, adakah kau tahu,&lt;br /&gt;mengalir cintaku padamu, tenang dan dalam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ketika ujung-ujung ilalang meliuk&lt;br /&gt;melambai pada senja, dan bangau di pucuk-&lt;br /&gt;pucuk bambu bersiap masuk sarang, di setapak&lt;br /&gt;menyusur walennae, lelaki-lelaki memikul tong&lt;br /&gt;bambu pulang dari menyadap nira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“rumah kami di kaki bukit, beratap ijuk dan dapurnya&lt;br /&gt;selalu menguapkan aroma gula, mampirlah bila ada&lt;br /&gt;waktu, kami pantang tak bersikap manis pada tamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saat malam mengurung dan rembulan mengapung samar&lt;br /&gt;di permukaan walennae, di langit yang kelabu terdengar&lt;br /&gt;jerit elang, seperti rindu yang perih dan jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di rumah-rumah beratap ijuk, di atas balai bambu,&lt;br /&gt;gadis-gadis menggeliat : teringat dongeng tentang pangeran&lt;br /&gt;baik hati yang dikutuk penyihir jahat jadi buaya di sungai&lt;br /&gt;walennae.”di walennae kasihku, aku terperangkap janji&lt;br /&gt;yang tak mungkin aku tepati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di antara hening daun ketapang tua yang berguling&lt;br /&gt;lepas dari rantingnya, walennae merayap ke laut. di&lt;br /&gt;dasarnya aku hanya dapat mengenangmu, mengawasimu&lt;br /&gt;setiap pagi dan sore ketika mandi, menunggu&lt;br /&gt;saat aku menjalani kutukan : menerkam dan menelanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“di sungai walennae kasihku, adakah kau&lt;br /&gt;tahu, mengalir cintaku padamu :&lt;br /&gt;suci dan terluka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makassar 2001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;- walennae : nama sungai terpanjang di sulawesi selatan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;- bissu : waria pemimpin upacara animisme di tanah bugis.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2156930008317982785-2777694270766398442?l=menubul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menubul.blogspot.com/feeds/2777694270766398442/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2156930008317982785&amp;postID=2777694270766398442' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/2777694270766398442'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/2777694270766398442'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menubul.blogspot.com/2010/03/edisi-5.html' title='Edisi 5'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18266239886781897605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/TL7RnaMrAUI/AAAAAAAABcM/oNoOzQriCvA/S220/Potret+Diri+1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2156930008317982785.post-6548445261007222092</id><published>2010-03-31T09:13:00.000-07:00</published><updated>2010-03-31T19:18:57.056-07:00</updated><title type='text'>Edisi 6</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Asrizal Nur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Depok - Jakarta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Anak Duka&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku anak duka&lt;br /&gt;lahir dihimpit hutang tetua&lt;br /&gt;dewasa dari luka sama&lt;br /&gt;dengan kisah itu juga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku berkepala cahaya&lt;br /&gt;garis tangan kusut&lt;br /&gt;tersungkur bell sekolah&lt;br /&gt;terhantuk buku&lt;br /&gt;ditelanjangi seragam&lt;br /&gt;diusir uang bangunan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di dapur periuk merebus debu&lt;br /&gt;busung lapar hidang ajal&lt;br /&gt;sawah usung lumbung ke piring juragan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku mengeja nasib di lebuh raya&lt;br /&gt;menjaja airmata&lt;br /&gt;sering reguk airmata pula&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku mencari rumah teduh&lt;br /&gt;kadang beratap nista&lt;br /&gt;bagai anak tak ada ibu bapa&lt;br /&gt;pulang ? rumah hardik nasib&lt;br /&gt;padahal peluhku telaga devisa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lantaran hidup mahal keringat murah&lt;br /&gt;aku jadi kupu kupu besi&lt;br /&gt;siang mesin kotak debu&lt;br /&gt;malam ranjang biru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di tempat kerja&lt;br /&gt;aku ibu baru buang ASI&lt;br /&gt;anak hirup susu basi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku pahlawan tanpa tanda jasa&lt;br /&gt;dihempas gaji murah&lt;br /&gt;tertatih di simpang waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku suara selembut bayu&lt;br /&gt;hingga ilalang jadi bunga&lt;br /&gt;di pabrik suara nafas luka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku seniman&lt;br /&gt;diterkam hidup gamang&lt;br /&gt;dariku taman harap tumbuh kembang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku pengangguran kesejutasekian&lt;br /&gt;bukan enggan banting tulang&lt;br /&gt;mengasah akal di balik meja&lt;br /&gt;pintu kerja terkunci rapat&lt;br /&gt;linglung di negeri sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku pedagang kaki lima&lt;br /&gt;diusir mall dan plaza&lt;br /&gt;pentungan mencabik rezeki&lt;br /&gt;dizalimi negeri sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pada kampanye para ayah&lt;br /&gt;duit bagai serakan daun kering&lt;br /&gt;mengalir janji berdanau susu&lt;br /&gt;telaga sembilu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ayah enggan singgah ke kotak debu&lt;br /&gt;jenguk hidup di lebuh raya&lt;br /&gt;sungguh sungguh membelaku dinista tetangga&lt;br /&gt;merasa pedih dilempar bangku sekolah&lt;br /&gt;termenung ijazah nestapa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;paman mabuk maling&lt;br /&gt;tiang rumah jadi sepatu&lt;br /&gt;saban waktu dinding dicuri&lt;br /&gt;dapur sulit menyala&lt;br /&gt;tiang hilang hutang regenerasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;paman yang aku percaya&lt;br /&gt;menterjemahkan airmata dalam bahasa cinta&lt;br /&gt;berteriak … sering bias makna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o, aku terasing di tanah kelahiran&lt;br /&gt;setiap jengkal harapan&lt;br /&gt;jejak tapak ketakutan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak ada tempat mengadu&lt;br /&gt;setiap sudut ketemu hantu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lantas kemana duka aku titipkan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seandainya bunuh diri jalan sorga&lt;br /&gt;maka rumah ini pusara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di terminal putus asa&lt;br /&gt;aku menunggu Tuhan&lt;br /&gt;menyeka duka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depok, 20 Juli 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Atik Sri Rahayu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Samarinda)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jalan Panjang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Telah kulabuhkan cintaku di sungai Mahakam&lt;br /&gt;bersama sisa keringat&lt;br /&gt;semalam menembus belantara hutan&lt;br /&gt;dari Banjarmasin ke Balikpapan&lt;br /&gt;Tak ada sisa rasa gelisah&lt;br /&gt;semua telah impas dibakar matahari&lt;br /&gt;menghanguskan kulit tubuhmu jadi legam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu kukenang lambaian tangan&lt;br /&gt;mengantarku di terminal&lt;br /&gt;dengan memberi bekal ikan Seluang&lt;br /&gt;karena perjalanan akan sangat panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan selalu kukenang&lt;br /&gt;banjir sungai Martapura menggenang desa Dalampagar&lt;br /&gt;dan lukisan wajah Syech Al Banjari&lt;br /&gt;menatapku tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini di museum kraton Kutai Kartanegara&lt;br /&gt;terasa membuka lembaran kitab lama&lt;br /&gt;peradaban semakin tua&lt;br /&gt;namun kita makin miskin tegur sapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bambang Widiatmoko&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Jakarta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kado Cinta&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah kita tutup saja lembaran lama&lt;br /&gt;rasa sesal dan dosa&lt;br /&gt;rasa bersalah jadi luka&lt;br /&gt;kehidupan seperti belantara&lt;br /&gt;penuh duri dan ular berbisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas kita bangun rumah&lt;br /&gt;meski tidak terlalu megah&lt;br /&gt;tapi ada gairah memadamkan rasa gelisah&lt;br /&gt;kita lengkapi dengan taman agar betah&lt;br /&gt;duduk berdua, mengukir sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika di luar terjadi hujan badai&lt;br /&gt;kita bisa berlindung di balik tirai&lt;br /&gt;betapa kehidupan perlu kita urai&lt;br /&gt;agar menjadi lurus seperti rambut tergerai&lt;br /&gt;dan pertengkaran menjadi mudah dilerai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada kado cinta yang luar biasa&lt;br /&gt;selain kesetiaan tanpa pulasan kata-kata&lt;br /&gt;zikir dan doa haruslah tetap bergema&lt;br /&gt;agar jiwa kita semerbak bagai harum Cempaka&lt;br /&gt;tak ada kado cinta yang lebih berharga – selain asa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Boufath Shahab&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Bandung)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kau Tahu Sihir Waria ?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jika sekali saja kau kerlingkan mata&lt;br /&gt;akan kusihir dunia menjadi semesta canda dan tawa&lt;br /&gt;pernahkah kau berpikir tentang ruh perempuan yang terjebak&lt;br /&gt;di sekujur badan lelaki, karena kesalahan malaikat pengatur jasad ?&lt;br /&gt;maka bermain-mainlah di kedalaman kelaminku&lt;br /&gt;aku akan telanjang bersama kupu-kupu&lt;br /&gt;atau jika kau mau, aku akan menjadi seekor kupu-kupu  yang telanjang bersamamu&lt;br /&gt;mungkin akan kau temukan bekas-bekas air mata bahagia ibu&lt;br /&gt;ketika pertama kali aku mampu mengeja namaku&lt;br /&gt;dan ia menghadiahiku sebutir bola yang penuh warna&lt;br /&gt;kudekap perut ibu : ibu, aku tak bahagia&lt;br /&gt;aku merindukan sebuah boneka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kini kusimpan bola itu di lemari tua&lt;br /&gt;bersama tetes-tetes air mata ibu, dan seonggok tubuh perkasa yang tak pernah kuminta&lt;br /&gt;karena kelak jika ada yang mengerlingkan mata, bagai kotak pandora yang terbuka&lt;br /&gt;sihirku akan merajalela, penuh canda dan tawa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandung-Jakarta, Des. ’2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Chairul Saleh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Pekalongan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Aku Masih Bertahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Aku termangu melambung ke udara&lt;br /&gt;Terbayang burung hinggap di belantara&lt;br /&gt;Menari indahnya sejuk rimba&lt;br /&gt;Hirup wanginya karya Pencipta&lt;br /&gt;Tapi burung tak hendak kemana&lt;br /&gt;Arah utara pun tak dirasa&lt;br /&gt;Walau aku meng-iya meng-asa&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;Aku terkungkung dalam jeruji waktu&lt;br /&gt;Membuatku termangu dalam sayu,&lt;br /&gt;Membosankan !!!&lt;br /&gt;Tapi ini hidupku,&lt;br /&gt;Bahwa aku bukanlah burung,&lt;br /&gt;Sekedar cucu Adam hendak cari ibrah,&lt;br /&gt;Kehidupan ini,&lt;br /&gt;Walau musuh-musuh-Mu kadang hampiri,&lt;br /&gt;Tapi aku masih bertahan diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malang , 29 November 2005&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2156930008317982785-6548445261007222092?l=menubul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menubul.blogspot.com/feeds/6548445261007222092/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2156930008317982785&amp;postID=6548445261007222092' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/6548445261007222092'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/6548445261007222092'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menubul.blogspot.com/2010/03/edisi-6.html' title='Edisi 6'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18266239886781897605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/TL7RnaMrAUI/AAAAAAAABcM/oNoOzQriCvA/S220/Potret+Diri+1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2156930008317982785.post-2044883512801893850</id><published>2010-03-31T09:11:00.000-07:00</published><updated>2010-04-03T05:56:10.925-07:00</updated><title type='text'>Edisi 7</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Condra Antoni&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Padang Sumbar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Variasi Atas Cinta Zulaikha&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Aku, perempuan yang datang dari hening hanya ingin berbagi padamu,&lt;br /&gt;pada pangeran yang turun dari bumi membawa separuh paras Tuhan&lt;br /&gt;dimanakah dosa, ketika yang ku tahu hanya putih gamismu&lt;br /&gt;hanya pucat pasi bahasa hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sekeruh cinta yang mengering dalam rerimbun utruj&lt;br /&gt;wanita yang lain, yang hidup dalam kemegahan para al-aziz&lt;br /&gt;menjadikan aku perempuan, sebagaimana Hawa,&lt;br /&gt;sumber petaka para lelaki&lt;br /&gt;kerena mereka menatap peradaban tidak dari basah rindu yang kupunya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kelelakianmu mencampakkan aku ke tepi panggung sejarah tentang kelembutan&lt;br /&gt;tapi matamu, tiada sesiapa yang tak mengerti akan rindu yang sama&lt;br /&gt;jarak yang meradang&lt;br /&gt;adalah deru ayat-ayat Kasih yang memilih menerpa wajahmu&lt;br /&gt;lalu tandaslah aku pada garis tangan yang telah ditahbiskan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padang, Mei 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cut Uswatun Khasanah ZA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Aceh)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tragedi Tsunami&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jerit yang membelah-belah sunyi&lt;br /&gt;Dalam gemuruh pasang bandang&lt;br /&gt;Gelombang ganas meluluhlantakkan&lt;br /&gt;Isi negri yang elok&lt;br /&gt;               &lt;br /&gt;Acehku meu bae’-bae’&lt;br /&gt;Acehku meu bae’-bae’&lt;br /&gt;Acehku meu bae’-bae’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gedung, rumah&lt;br /&gt;Perahu,pepohonan&lt;br /&gt;Dan apa saja rata dengan tanah&lt;br /&gt;Beribu nyawa melayang&lt;br /&gt;Dalam gulungan angin dan gelombang&lt;br /&gt;Tak ada satu pun yang tersisa&lt;br /&gt;Kecuali maut yang bergelimpangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acehku meu bae’-bae’&lt;br /&gt;Acehku meu bae’-bae’&lt;br /&gt;Acehku meu bae’-bae’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ujung khatulistiwa&lt;br /&gt;Hatiku tafakur :&lt;br /&gt;Atas kehendak-Mu&lt;br /&gt;Kembalikan Acehku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aceh, 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;D. Zawawi Imron&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Batang-Batang - Madura)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ibu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalau aku merantau lalu datang musim kemarau&lt;br /&gt;sumur-sumur kering, daunpun gugur bersama reranting&lt;br /&gt;hanya mata air airmatamu, ibu, yang tetap lancar mengalir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bila aku merantau&lt;br /&gt;sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku&lt;br /&gt;di hati ada mayang siwalan memutikkan sarisari kerinduan&lt;br /&gt;lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ibu adalah gua pertapaanku&lt;br /&gt;dan ibulah yang meletakkan aku di sini&lt;br /&gt;saat bunga kembang meyemerbak bau sayang&lt;br /&gt;ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi&lt;br /&gt;aku mengangguk meskipun kurang mengerti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bila kasihmu ibarat samudera&lt;br /&gt;sempit lautan teduh&lt;br /&gt;tempatku mandi, mencuci lumut pada diri&lt;br /&gt;tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh&lt;br /&gt;lokan-lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku&lt;br /&gt;kalau aku ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan&lt;br /&gt;namamu, ibu, yang kan kusebut paling dahulu&lt;br /&gt;lantaran aku tahu&lt;br /&gt;engkau ibu dan aku anakmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dani Fuadhillah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dado Masokis&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;(Surakarta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rasanya&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rasanya pernah ada seutas tali berwarna merah&lt;br /&gt;terikat dipinggangmu yang ramping&lt;br /&gt;         ketika kamu melenggang menirukan irama-irama&lt;br /&gt;                                  keraguan tanpa ragu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengajak mengikuti simfoni kaku sambil&lt;br /&gt;                  sengaja kau gigit gigit sehingga melumat lembut lidahmu&lt;br /&gt;sambil membuat senyum simpul diujungnya&lt;br /&gt;kau buat biar lebih erat dipegang , katamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                   kadang  kamu jadikan kabel telepon&lt;br /&gt;hingga berjam-jam lamanya sambil rebah&lt;br /&gt;kamu muntahkan kata-kata baku&lt;br /&gt; rasanya, kamu masih terikat !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                    Solo, 25 Desember 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dewa Pahuluan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Banjarbaru)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Qurban&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qurban kali ini, kumau&lt;br /&gt;Membasuh daki barang&lt;br /&gt;seupal&lt;br /&gt;Darah qurban kali ini&lt;br /&gt;kumau&lt;br /&gt;Rasuki jiwa yang kembara&lt;br /&gt;entah kemana&lt;br /&gt;Qurban kali ini, kumau&lt;br /&gt;Merahkan tekadku sudahi&lt;br /&gt;tualang tak berujung&lt;br /&gt;Darah qurban kali ini,&lt;br /&gt;kumau&lt;br /&gt;Hidupkan matirasaku akan&lt;br /&gt;asmaMu&lt;br /&gt;Qurban kali ini, kumau&lt;br /&gt;bangunkan tidur panjangku&lt;br /&gt;Darah qurban kali ini,&lt;br /&gt;kumau&lt;br /&gt;Mengalir dan mengalir tiada&lt;br /&gt;henti. Pelan tak mengapa&lt;br /&gt;menuju lorongmu, sampai&lt;br /&gt;di batas jemputan maut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banjarbaru, 2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2156930008317982785-2044883512801893850?l=menubul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menubul.blogspot.com/feeds/2044883512801893850/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2156930008317982785&amp;postID=2044883512801893850' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/2044883512801893850'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/2044883512801893850'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menubul.blogspot.com/2010/03/edisi-7.html' title='Edisi 7'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18266239886781897605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/TL7RnaMrAUI/AAAAAAAABcM/oNoOzQriCvA/S220/Potret+Diri+1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2156930008317982785.post-7824892821206860088</id><published>2010-03-31T09:10:00.000-07:00</published><updated>2010-03-31T19:25:43.861-07:00</updated><title type='text'>Edisi 8</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Diah Hadaning&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Cimanggis - Depok)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kidung dari Rumah Panggung&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dibangun dari kayu hitam hutan sisa&lt;br /&gt;peradaban, teritisan batu granit&lt;br /&gt;mampu sembunyikan bermusim rasa sakit&lt;br /&gt;pagi serap bias matahari sisa gerhana&lt;br /&gt;malam serap embun dan hujan asam&lt;br /&gt;sesiapa di dalam&lt;br /&gt;masih harap lusa ada perubahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sementara anak-anak telah pandai&lt;br /&gt;naik turun di tangga rumah panggung&lt;br /&gt;menebar tawa di udara&lt;br /&gt;menyapa matahari ?&lt;br /&gt;memanggil angin ?&lt;br /&gt;atau mendengar kidung aneh&lt;br /&gt;yang setia mengusap-usap atap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setiap ganti musim&lt;br /&gt;makin terdengar aneh&lt;br /&gt;tulang dan kidung makin melengkung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cimanggis, 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dian Hartati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Bandung)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perempuan Pemetik Teh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;iringiringan perempuan memecah pagi sunyi&lt;br /&gt;langkah tanpa alas kaki mengawali keras kehidupan&lt;br /&gt;di punggungpunggung mereka melekat kantungkantung&lt;br /&gt;capingcaping menyembunyikan wajah mereka dalamdalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di seterik matahari&lt;br /&gt;tangantangan gemulai memetik pucukpucuk kerinduan&lt;br /&gt;mengemasi semua daundaun teh muda&lt;br /&gt;memenuhi tanggung jawab pemilik hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semua usai di lelah senja&lt;br /&gt;melepaskan capingcaping geriapkan harapan hari esok&lt;br /&gt;meracik setiap lembarlembar kedukaan&lt;br /&gt;memintal khas aroma pagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SudutBumi, 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dimas Arika Mihardja&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Jambi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sajak Ibu Pertiwi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“kulihat ibu pertiwi&lt;br /&gt;sedang berduka hati ….”      &lt;br /&gt;dadanya diguncang gempa&lt;br /&gt;hatinya dilanda tsunami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“kulihat ibu pertiwi&lt;br /&gt;sedang berduka hati ….&lt;br /&gt;gempaNya mengguncang dada&lt;br /&gt;tsunamiNya melanda hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“kulihat ibu pertiwi&lt;br /&gt;sedang berduka hati ….”    &lt;br /&gt;dada gempaNya mengguncang sesiapa&lt;br /&gt;hati tsunamiNya melanda apa saja&lt;br /&gt;                &lt;br /&gt;“kulihat ibu pertiwi&lt;br /&gt;sedang berduka hati ….”&lt;br /&gt;Indonesia bau, begitu kita berseru&lt;br /&gt;Indonesia baru, berseteru melulu&lt;br /&gt;                &lt;br /&gt;“kulihat ibu pertiwi&lt;br /&gt;sedang berduka hati …. “&lt;br /&gt;bau Indonesia berseruseru&lt;br /&gt;baru Indonesia begitu sendu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“kulihat ibu pertiwi&lt;br /&gt;Sedang berduka hati …. “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bengkel Puisi Swadaya Mandiri, 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;H. Dinullah Rayes&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;           (Sumbawa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Teluk Yotefa&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Buat : J.P.Salossa Gubernur Papua yang pergi tiada kembali lagi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buih-buih merebut pantai&lt;br /&gt;otak –otak bening itu pecah usai berkisah&lt;br /&gt;kawanan ombak pun lari ke pusat segera&lt;br /&gt;mencari anak-anak buih yang lepas kasih bunda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teluk  Yotefa&lt;br /&gt;tempat bulan berdandan&lt;br /&gt;malam hari&lt;br /&gt;tempat mentari menari&lt;br /&gt;siang hari&lt;br /&gt;Tanganku memungut kulit lokan&lt;br /&gt;untaian mutiara sejarah anak Papua&lt;br /&gt;kita :&lt;br /&gt;bagai bumi dan pepohonan&lt;br /&gt;seperti nyawa dan badan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teluk Yotefa&lt;br /&gt;ombak dan pasir pantai&lt;br /&gt;senantiasa bercumbu&lt;br /&gt;dalam kalbu&lt;br /&gt;anak negeri berkulit sawo matang&lt;br /&gt;yang hitam kelabu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jayapura, 24 Dese 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Eko Sugiarto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Semarang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lekuk Tubuhmu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku&lt;br /&gt;suka&lt;br /&gt;lekuk&lt;br /&gt;tubuhmu&lt;br /&gt;aku suka&lt;br /&gt;lekuk tubuhmu&lt;br /&gt;aku&lt;br /&gt;suka                                                                                                                        &lt;br /&gt;lekuk&lt;br /&gt;tubuhmu&lt;br /&gt;aku suka lekuk tubuhmu&lt;br /&gt;a k u s u k a l e k u k t u b u h m u&lt;br /&gt;aku suka lekuk tubuhmu&lt;br /&gt;tubuhmu&lt;br /&gt;lekuk&lt;br /&gt;suka&lt;br /&gt;aku&lt;br /&gt;lekuk tubuhmu&lt;br /&gt;aku suka&lt;br /&gt;tubuhmu&lt;br /&gt;lekuk&lt;br /&gt;suka&lt;br /&gt;aku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2156930008317982785-7824892821206860088?l=menubul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menubul.blogspot.com/feeds/7824892821206860088/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2156930008317982785&amp;postID=7824892821206860088' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/7824892821206860088'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/7824892821206860088'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menubul.blogspot.com/2010/03/edisi-8.html' title='Edisi 8'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18266239886781897605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/TL7RnaMrAUI/AAAAAAAABcM/oNoOzQriCvA/S220/Potret+Diri+1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2156930008317982785.post-1189777443265401461</id><published>2010-03-31T09:09:00.000-07:00</published><updated>2010-03-31T19:30:15.864-07:00</updated><title type='text'>Edisi 9</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Eko Suryadi WS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;     (Kotabaru - Kalsel)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Di Batas Laut&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kau rindukan kekosongan&lt;br /&gt;di dada yang biru&lt;br /&gt;lewat jari tanganku yang terbakar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku larut ketika kau mengaca&lt;br /&gt;menghias buih-buih yang mengelana&lt;br /&gt;ada yang membekas ketika menatap&lt;br /&gt;dari hampa ke rindu yang dikuburkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;waktu meraba bibirnya matahari&lt;br /&gt;cuacamu berdetak keras&lt;br /&gt;gugurkan mimpi laut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di batas laut satu sukma menyapaku&lt;br /&gt;dari cahaya tubuhmu&lt;br /&gt;biru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kotabaru, 1981&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ellis Reni Artyana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;         (Bandung)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Wanita dan Kalajengking&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu menemukan anak-anak kalajengking di selangkangannya&lt;br /&gt;Matanya masih saja berheran durja&lt;br /&gt;Kalajengking-kalajengking itu melambaikan tangan mereka&lt;br /&gt;Wanita itu tersenyum, di matanya hanya ada naluri seorang ibu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu persatu mereka menjepit kulit paha&lt;br /&gt;si wanita merasa geli yang hebat&lt;br /&gt;tawanya pecah seiring menyemburnya racun-racun&lt;br /&gt;Tubuh wanita itu berguncang karena tawa&lt;br /&gt;Hingga jepitan anak-anak kalajengking terlepas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka jatuh dan hanyut oleh airmata wanita yang&lt;br /&gt;tak sadar teralirkan&lt;br /&gt;Wanita hanya mendapati pahanya yang biru-biru saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menangisi anak-anak kalajengking dengan parau&lt;br /&gt;Di matanya hanya ada naluri seorang ibu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;EM. Yogiswara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;           (Jambi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Belajarlah, Anakku Soco&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;belajarlah menangis, anakku soco&lt;br /&gt;sebab kita sudah kehilangan air mata&lt;br /&gt;sumur yang mengalirkan keadilan dan kesengsaraan&lt;br /&gt;kini mengering&lt;br /&gt;berubah warna menjadi sumber mata air berbisa&lt;br /&gt;: tangis tak sepenuhnya menitikan bening&lt;br /&gt;dari padang alam yang menyihirkan cahaya-Nya&lt;br /&gt;                &lt;br /&gt;belajarlah mendengar, anakku soco&lt;br /&gt;sebab gendang telinga kita sudah tertusuk&lt;br /&gt;desah duka, lapar, dan erangan&lt;br /&gt;: suara tak selamanya ikhlas mendalilkan ujud&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;belajarlah membaca, anakku soco&lt;br /&gt;sebab mata kita sudah kehilangan jarak&lt;br /&gt;dari penaklukan sepenggal harapan&lt;br /&gt;belajarlah merasa anakku soco&lt;br /&gt;sebab kita telah dibina tanpa rasa&lt;br /&gt;: perjalanan hanya tuk menyambut senyum&lt;br /&gt;               &lt;br /&gt;belajarlah, anakku soco&lt;br /&gt;sebab kelahiran sudah lama tertunda&lt;br /&gt;dihapus keping rindu tanpa rasa&lt;br /&gt;: usah terapung di kegelapan dunia&lt;br /&gt;sebab gelembung bayang tak kan terima cahaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Endang Supriadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;          (Depok)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jauh Ke Ujung Sunyi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku meninggalkanmu jauh ke ujung sunyi&lt;br /&gt;berbekal lempengan dendam yang berkarat&lt;br /&gt;tak peduli lagi aku pada tanah yang belum&lt;br /&gt;selesai kugali, masa bodoh dengan airmata&lt;br /&gt;yang menetes di pintu-pintu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dunia yang baru telah terbentuk dari&lt;br /&gt;riak gelombang, dengan kota-kota&lt;br /&gt;yang melahirkan anak-anak tanpa bapak&lt;br /&gt;hewan-hewan akan sekandang denganku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jika laut yang kulayari ini mengandung&lt;br /&gt;garam, kelak akan terasa manis di gelasku&lt;br /&gt;jiwa akan berpegang pada tiang matahari&lt;br /&gt;meskipun aku tak merisaukan lagi ke mana&lt;br /&gt;bayanganku saat matahari memperjelas denyutnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku meninggalkanmu jauh ke ujung sunyi&lt;br /&gt;membentuk peradaban dari kerak luka&lt;br /&gt;tangan-tangan yang melambai dari halaman rumah&lt;br /&gt;telah kujadikan dayung bagi hidup dan matiku&lt;br /&gt;ketahuilah, tak ada lagi alasan bagi kesendirianku&lt;br /&gt;yang memisahkan antara rasa dan raga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merak-Bakauheni, Maret 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Esti Ebhi Evolisa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;     (Mataram)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tunggu                                                                                                                            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kuberbincang dengan malam                                                                                                              &lt;br /&gt;kapan datang kepastian                                                                                                               &lt;br /&gt;lolong anjing di kejauhan                                                                                                               &lt;br /&gt;membuat jiwaku terseret                                                                                                          &lt;br /&gt;apakah batas penantian sebuah jawaban                                                                                    &lt;br /&gt;meski kutunggu dengan kian berjalannya sang waktu ?&lt;br /&gt;                                                                                   aku hanya bisa berangan tunggu!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2156930008317982785-1189777443265401461?l=menubul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menubul.blogspot.com/feeds/1189777443265401461/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2156930008317982785&amp;postID=1189777443265401461' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/1189777443265401461'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/1189777443265401461'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menubul.blogspot.com/2010/03/edisi-9.html' title='Edisi 9'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18266239886781897605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/TL7RnaMrAUI/AAAAAAAABcM/oNoOzQriCvA/S220/Potret+Diri+1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2156930008317982785.post-3343370988567483199</id><published>2010-03-31T09:06:00.002-07:00</published><updated>2010-03-31T19:32:21.729-07:00</updated><title type='text'>Edisi 10</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Eza Thabri Husano&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;      (Banjarbaru)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tasbih Perahu      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kubangun rindu pada lembah sunyi, tanah-tanah gelisah&lt;br /&gt;dijebakan liukan sungai mengalirkan riak tasbih perahu&lt;br /&gt;dalam tubuhku melahirkan isakan muara mengekalkan&lt;br /&gt;ajal manusia&lt;br /&gt;bunga petaka yang liar telah kujadikan nisan di antara&lt;br /&gt;orang-orang yang gagal memanjatkan duka&lt;br /&gt;siapapun berkabung, usia tetap bergegas seperti kupu-kupu&lt;br /&gt;meninggalkan kepompong di serumpun bunga&lt;br /&gt;menulis tangis dan darah pada lembaran runtuhan sejarah&lt;br /&gt;tanah air kitakah di sini batu zamrud kehilangan kebijaksanaan&lt;br /&gt;atau yakut kuning ditinggalkan kesetiaan ?&lt;br /&gt;o dimana aku ? tanya tumpukan kegelisahan itu&lt;br /&gt;orang-orang pun berduyun sepanjang jalan sambil menyapu&lt;br /&gt;kenangan dan kesunyian yang melepuh&lt;br /&gt;itulah manusia hari ini bercermin menikmati kegelisahan itu&lt;br /&gt;menjadi orang paling tulus berabad-abad yang hilang&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;dunia lunglai sehabis senggama dengan matahari&lt;br /&gt;gelombang peluh meneteskan detik-detik menjadi hari&lt;br /&gt;tanahku tenggelam dalam desau sperma, sudah kau tangisi&lt;br /&gt;sepanjang hari ?&lt;br /&gt;bumi  mencair waktu membeku dalam tidur penghabisan&lt;br /&gt;o tanah air, tanah airmata !&lt;br /&gt;wajah kita terbelah rata dalam cermin merindukan cahaya&lt;br /&gt;robek di lembaran sejarah dilipat-lipat dijadikan perahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banjarbaru (2003)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Fina Sato&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Subang-Jabar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kuserahkan Tubuhku Pada Kesunyian&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan bila jalanan, lampu-lampu kota&lt;br /&gt;berteriak lagi, yang tersisa kemudian hanyalah serpihan luka&lt;br /&gt;di ujung bibir yang menggigir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tiada suara yang mengeruh sunyi&lt;br /&gt;tak lagi jawab memecahkan gendang sunyi tubuh&lt;br /&gt;yang terperangkap terali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;malam ini di dingin tubuhmu yang berbalut kesunyian&lt;br /&gt;kuserahkan tubuhku pada tanya&lt;br /&gt;(tubuhku dan tubuhmu)&lt;br /&gt;sebagian nisan yang berlumut hitam&lt;br /&gt;dalam permainan tuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terus bisu&lt;br /&gt;tak selalu sisakan perih mengadu&lt;br /&gt;lalu tersenyum dalam dekapan&lt;br /&gt;pelan kelam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(dan tubuh kita)&lt;br /&gt;masih bermain pada tanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bumi singgah,2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Fitriyani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Murung Pudak - Kalsel)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bagaimanapun Aku Tak Ingin Selingkuh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Andai ada yang bertanya&lt;br /&gt;Siapa yang paling miskin di kampung ini&lt;br /&gt;Akulah jawabnya&lt;br /&gt;Yang tak tahu rasa roti, pizza, dan kentucky&lt;br /&gt;Yang lidahnya akrab tahu tempe dan asinnya ikan teri&lt;br /&gt;Miskin aku&lt;br /&gt;tapi aku masih setia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andai ada yang bertanya&lt;br /&gt;Siapa yang paling jelek di kampung ini&lt;br /&gt;Akulah orangnya&lt;br /&gt;Kulit hitam tulang terbungkus&lt;br /&gt;Berbadan kurus tiada terurus&lt;br /&gt;Jelek aku&lt;br /&gt;Tapi aku tetap setia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andai ada yang bertanya&lt;br /&gt;Siapa yang paling udik di kampung ini&lt;br /&gt;Aku juga orangnya&lt;br /&gt;Yang tak pernah melihat wajah kota&lt;br /&gt;Yang tak pernah masuk plaza dan menginjak lantai dansa&lt;br /&gt;Udik aku&lt;br /&gt;Tapi aku tetap setia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, tanya itu berharga fana&lt;br /&gt;Kalian pasti tak pernah tahu&lt;br /&gt;Karena kalian tak pernah bertanya&lt;br /&gt;Siapa yang paling kaya, paling gagah, dan paling modern di kampung ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasti aku orangnya&lt;br /&gt;Jawabku pasti membuat kalian semakin bertanya-tanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memang miskin tapi aku kaya di mata kekasihku&lt;br /&gt;Aku paling jelek tapi aku tampak gagah dalam pandangan kekasihku&lt;br /&gt;Kata kekasihku, aku sangat modern karena gayaku,gaulku, rayuku, dan cumbuku&lt;br /&gt;Asli barang import dari negeri nurani&lt;br /&gt;Bangga kekasihku karena setiaku&lt;br /&gt;Dan aku pun tak ingin selingkuh dari-Nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Murung Pudak, 29 April 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gunawan Triatmodjo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;       (Pekanbaru-Riau)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ritus Kesunyian&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lelaki itu pergi menunggang angin&lt;br /&gt;ketika warna langit gelap belum lengkap&lt;br /&gt;dan perempuan di dalam rumah&lt;br /&gt;memahami peristiwa itu sebatas lanskap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hanya tersisa perih di ranjang putih&lt;br /&gt;sebuah dosa yang menggeliat mencari bentuknya&lt;br /&gt;dan patahan-patahan rel kereta&lt;br /&gt;yang tak akan mengarak rencana sampai tujuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dentang kesekian&lt;br /&gt;perempuan itu beranjak mencari sapu tangan&lt;br /&gt;yang telah lapuk terjemur di dalam hujan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ketika ia seka air mata yang setajam kaca&lt;br /&gt;parit-parit kecil bermunculan di telapak tangan&lt;br /&gt;seakan menagih peluh seusai persetubuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di luar&lt;br /&gt;gerimis kecil turun&lt;br /&gt;rinai yang teramat lembut&lt;br /&gt;untuk meliriskan sebuah prosesi kehilangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gaung kereta telah senyap di telinga&lt;br /&gt;tak ada bayangan wajahnya di jendela&lt;br /&gt;tak ada lagi yang mengetuk pintu untuk bertamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semua kembali seperti semula&lt;br /&gt;ditinggalkan dan kesepian&lt;br /&gt;seperti yang lalu-lalu&lt;br /&gt;perempuan itu melewati semuanya&lt;br /&gt;dengan membaca buku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solo,  2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2156930008317982785-3343370988567483199?l=menubul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menubul.blogspot.com/feeds/3343370988567483199/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2156930008317982785&amp;postID=3343370988567483199' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/3343370988567483199'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/3343370988567483199'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menubul.blogspot.com/2010/03/edisi-10.html' title='Edisi 10'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18266239886781897605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/TL7RnaMrAUI/AAAAAAAABcM/oNoOzQriCvA/S220/Potret+Diri+1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2156930008317982785.post-229008348163122088</id><published>2010-03-31T09:06:00.001-07:00</published><updated>2010-03-31T19:35:55.226-07:00</updated><title type='text'>Edisi 11</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hamami Adaby&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;     (Banjarbaru)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tentang Rasa&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(:&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ide Nusantara,Arsyad Indradi)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terasaku serasa rasa seperti kamu&lt;br /&gt;yang terasa dalam perasaan ada rasaku&lt;br /&gt;rasa nikmat terasa dalam perasaan&lt;br /&gt;disyukuri nikmat bertaut makna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di darah merah kita mewarna sewarna&lt;br /&gt;lalu bagaimana rasa yang ditiup hembus angin&lt;br /&gt;bermakna esa nafas yang ada rasa&lt;br /&gt;diraba rasa dirasa belum lagi sempurna&lt;br /&gt;dikepak sayap usia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kau beri aku rasa susu lezatkah rasa ?&lt;br /&gt;dalam kental warna teraba rasa&lt;br /&gt;antara buah jakun dan perut, habis warna&lt;br /&gt;makna terasa dalam seribu rasa&lt;br /&gt;            &lt;br /&gt;Tapi ada zat pewarna yang mengubah rasa&lt;br /&gt;cacing-cacing melipat tanah, ulat melipat warna&lt;br /&gt;gulung menggulung daun perasa terhimpit sisa warna&lt;br /&gt;cahaya siapa datang membangun rasa&lt;br /&gt;dalam rumah tanpa penghuni&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada jendela rasa yang mengeliatkan rasa&lt;br /&gt;dalam rasa, rasaku dan rasanya&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;Adalah rasanya seniman lapar tak terasa&lt;br /&gt;haus dahaga menatah rasa jadi perasa sejati&lt;br /&gt;seniman kutub berkiblat rasa renyuh suara kecapi&lt;br /&gt;katanya adakah seniman yang kaya raya&lt;br /&gt;kalau ada potong lidahnya, rasakan perihnya&lt;br /&gt;berdarah-darah dalamkeping rasa&lt;br /&gt;            &lt;br /&gt;Adakah seniman terdengar korupsi ?&lt;br /&gt;kalau dugaan itu benar, paling mengorup kata-kata&lt;br /&gt;boleh juga kalau memang demikian&lt;br /&gt;Rasaku, rasa engkau dan kalian berbeda warna.&lt;br /&gt;            &lt;br /&gt;Banjarbaru, 10 Februari 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Handoyo Wibowo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Oei Tjhian Hwat)&lt;br /&gt;(Yogyakarta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rindu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;( rindangnya syahdu )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;benarkah bertemu menetralkan rindu&lt;br /&gt;yang selama ini senantiasa mengganggu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dimana telah lama menggeliat indah dikalbu&lt;br /&gt;ber asa agar selalu hangat bersua tiada berlalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sampai malupun terselimut kangen menggebu&lt;br /&gt;walau semalam sudah memetik nuansa semu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;y o g y a k a r t a&lt;br /&gt;13 desember 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Harta Pinem&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;     (Medan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gebyar Suara&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk siapakah gebyar suara ini&lt;br /&gt;Semua dihadirkan di aula Hotel Nuansa Pekanbaru&lt;br /&gt;Malam kian bergemuruh&lt;br /&gt;Ditambah musik karaoke di gedung sebelah&lt;br /&gt;Inikah pergulan manusia menjelang maut tiba&lt;br /&gt;Sementara Dita dan Widyawati asyik bicara tentang pergulatan&lt;br /&gt;Hari esok&lt;br /&gt;Sepulang menonton pertunjukan ABCD-nya musik masa kini&lt;br /&gt;Kita tiduran di ranjang sunyi&lt;br /&gt;Mengenang Chairil dan Raja Ali Haji&lt;br /&gt;Gurindam itu kekasih bisakah menenangkan kita&lt;br /&gt;Puisi-puisi luka itu dapatkah kita cerna lagi di sini&lt;br /&gt;Kabarkanlah semua rindu ini pada Koran pagi&lt;br /&gt;Aku tak punya kekuatan menahan sakit&lt;br /&gt;Jika esok kita harus pulang&lt;br /&gt;Semoga kenangan manis jadi ingatan sampai nanti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Medan, 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hasan Bisri BFC&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Bekasi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Thawaf Qudum&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kirimkan serimbun doa&lt;br /&gt;Diiringi melodia talbiah&lt;br /&gt;Seraya mengasah malam&lt;br /&gt;Menajamkan iman yang melimpah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyampang musim ini&lt;br /&gt;Musim bercinta&lt;br /&gt;Bagi umat Muhammad&lt;br /&gt;Yang didalamnya hamparan syafaat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kukembarai sunyi dan belantara malam&lt;br /&gt;Bening embunnya kutampung&lt;br /&gt;Tuk ngeramasi iman&lt;br /&gt;Biar cahyanya nyuci jantung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah poros ‘Arsy&lt;br /&gt;Disini ruhku tenggelam dan hanyut&lt;br /&gt;Dalam kumparan waktu&lt;br /&gt;Tiada sempadan, tiada batas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Heru Mugiarso&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;     (Semarang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Puisi di Titik Nol&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat engkau kibaskan pendulum dari raut langit yang muram&lt;br /&gt;Penantian gerimis seperti lagu ngelangut&lt;br /&gt;Musim menggenang pada bau bacin selokan&lt;br /&gt;Gemetar hatimu menulis puisipuisi keruh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kuraba kenangan pada wajahmu&lt;br /&gt;Kusaksikan udara yang gemetar&lt;br /&gt;Rahasia diamdiam mengendapendap&lt;br /&gt;Meminta mulut mengucapkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kalam demi kalampun ditembakkan&lt;br /&gt;Dari ujung laras senapan&lt;br /&gt;Membidik mata waktu yang mulai rabun&lt;br /&gt;Mengoyak kesunyian yang ngungun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di titik nol&lt;br /&gt;Kembali kurayakan puisi&lt;br /&gt;Kutanam jasadku pada kubur meditasi&lt;br /&gt;Kulipat percakapan ranting dan daun&lt;br /&gt;Tentang rasa kehilangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena puisi telah lama mengigau&lt;br /&gt;Dalam sihir dan pukau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2156930008317982785-229008348163122088?l=menubul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menubul.blogspot.com/feeds/229008348163122088/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2156930008317982785&amp;postID=229008348163122088' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/229008348163122088'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/229008348163122088'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menubul.blogspot.com/2010/03/edisi-11.html' title='Edisi 11'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18266239886781897605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/TL7RnaMrAUI/AAAAAAAABcM/oNoOzQriCvA/S220/Potret+Diri+1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2156930008317982785.post-3899598299026440396</id><published>2010-03-31T09:04:00.000-07:00</published><updated>2010-03-31T19:42:10.537-07:00</updated><title type='text'>Edisi 12</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Herwan FR.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Serang-Banten)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Setia Membidikmu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi pengakuan yang kelak kekal dan menyakitkan&lt;br /&gt;aku setia membidikmu. Matamu menjadi kelereng&lt;br /&gt;di atas lantai jiwa yang oleng oleh rindu yang dungu.&lt;br /&gt;Sungsumku berhenti membeku. Aku kini lapar kembali&lt;br /&gt;mencari kekasih. Tanganku menggenggam bukit,&lt;br /&gt;menyentuh lahar yang ngalir di tiap kepndan gunung,&lt;br /&gt;jari-jari merembah liar hutan-hutan tubuhmu.&lt;br /&gt;Aku ingin menggambar lagi peta : daerah-daerah tak bertuan&lt;br /&gt;Dan menjadi petualang pertama, menjelajah dengan perkasa.&lt;br /&gt;Kulukis anak-anak di rahimmu dengan hidung panjang&lt;br /&gt;seperti Pinokio, lalu kuhidupkan dengan bayangan,&lt;br /&gt;dan kubiarkan berlarian menyusur&lt;br /&gt;lereng-lereng betismu yang bagai bukit  kapur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari keringat dan seribu gerak tubuhmu&lt;br /&gt;aku pahami seribu cara bercinta. Lalu apalagi antar kau-aku,&lt;br /&gt;guru-murid, setia bersulang dalam papa dan kegelapan ?&lt;br /&gt;Demikian kuutarakan hasrat ini dengan kerongkongan&lt;br /&gt;sedikit mau basah, jakun tertahan resah. Matamu&lt;br /&gt;rabun oleh sudut lenganmu yang memijar,&lt;br /&gt;Aku jadi Ken Arok yang lumpuh&lt;br /&gt;oleh betis Ken Dedes. Musnah dalam derjad pandang,&lt;br /&gt;lurus menembus celah dadamu yang sempit dan menghimpit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, aku nyata dan padam lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serang,2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hoesnizar Hood&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;    (Kepulauan Riau)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Aku Menulis di Toba&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air kembalilah ke hati&lt;br /&gt;Kembali kemusim percintaan&lt;br /&gt;Jangan turun dimata&lt;br /&gt;Kembalilah keawan luruhlah lagi tumpah dibadan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti danau bercinta dengan hujan&lt;br /&gt;Aku ingin melihat tajammu menusuk&lt;br /&gt;bagai lukisan barisan serdadu dalam putaran dadu nasibku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air peluklah bagai berpeluk rindu&lt;br /&gt;Pecah satu bunyi asmara&lt;br /&gt;Senandung siang malamku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menulis di Toba&lt;br /&gt;Kegelisahan berenang ke risau&lt;br /&gt;Anggun gelombang berpagut danau bertabik dengan bukit&lt;br /&gt;bangsawan&lt;br /&gt;bukit segala tuan&lt;br /&gt;Raja segala tinggi adat segala nyawa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menulis di Toba&lt;br /&gt;Seperti suratan bathinku ditulis di langit&lt;br /&gt;Seperti takdir saudaraku ditulis di tangan&lt;br /&gt;seperti nasib negeriku ditulis dilangit di&lt;br /&gt;tanganMu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung gapailah ke dasar seperti pancang yang tegak&lt;br /&gt;Dan kau hikayatkan kisah yang tenggelam berabad-abad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan tutup rahasia malam dengan bulan&lt;br /&gt;Jangan tutup rahasia siang dengan matahari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku menulis di Toba&lt;br /&gt;aku menulis di danau berahasia&lt;br /&gt;gelombang nyanyian dan bukit lagu antara batu tua kayu lama&lt;br /&gt;dalam rahasia dua kutup tangan tetua&lt;br /&gt;menarilah manarilah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seperti tak perduli angin&lt;br /&gt;dengan mesra memberikan aku gigil&lt;br /&gt;Seperti lena nasibku dalam kubang bangga bangsaku yang&lt;br /&gt;tak tau kemana akan menghala&lt;br /&gt;Seperti berjam-jam aku membaca&lt;br /&gt;kemana arusmu ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hudan Nur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   (Banjarbaru)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sempana Jiwa Bab Terakhir&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah susah membuktikan betapa ternilainya senandung sempana jiwa di bab terakhirku. Ya. Itulah adanya.&lt;br /&gt;Aku tahu tapi kejanggalan akan cermin yang kulihat kemarin tidak menimbulkan bayangan, aku hanya melihat sinar yang lelambaiannya tak nampak. Pekat pula. Sementara aku baru mempersiapkan diri untuk juga ikut pada peperangan yang salah satu pemrakasa serta pengrobohnya, aku.&lt;br /&gt;Sementara aku berkecamuk dalam diri, sekitar baik kawanan menuding sebagai insan yang naïf. Aku betul-betul aku. Hingga aku kehilangan bentuk, remuk di situ juga. Redamnya utopia di mukaku adalah berkat kesetiaanku yang selalu menyerukan senandung jiwa di bab terakhir.&lt;br /&gt;Sungguh aku malu. Maka dengan ini semua aku akan buktikan, aku akan menjauhi apa-apa yang membikin hubungan kita merenggang. Sekali lagi. Karena itulah adanya. Aku begitu memilukan, sebab jiwa yang pernah kujalankan pernah memaksakan ribuan hasrat untuk menikam dan ke langkah itu lagi. Aku pura-pura lupa dan tidak mengetahuinya bahwa suatu saat akan ada balasan dari seluruh torehan yang dieja pada sempana-sempana dari jiwa yang tak berkeseduhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banjarbaru,  12 Juni 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Husnul Khuluqi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;      (Tangerang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perempuan yang Melintasi Kampung Sunyi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;-sepenggal catatan dari Cihuni&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;engkau pergi melintasi kampung sunyi&lt;br /&gt;menyapa keheningan batu-batu, rerumputan&lt;br /&gt;hijau, dan reranting semak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebuah kota yang lama tumbuh di kepalamu&lt;br /&gt;mendadak muncul lagi, seperti lengkung pelangi&lt;br /&gt;di senja hari, bermain di pelupuk matamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;melintasi perkampungan yang senantiasa lenggang&lt;br /&gt;engkau serasa memasuki negeri tanpa tuan. negeri&lt;br /&gt;yang tumbuh dalam dongeng, yang tak luput diceritakan&lt;br /&gt;dari mulut ke mulut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di tapal batas, engkau hanya menemukan&lt;br /&gt;gerbang kayu, mengering dibakar waktu, letih&lt;br /&gt;seperti bocah kecil yang lama menunggu ibu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kota yang sekian lama tumbuh dikepalamu&lt;br /&gt;seperti sesayup lagu jauh yang tak tersentuh, tak&lt;br /&gt;juga bisa engkau masuki pintu-pintunya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di manakah kota itu, tempat pijak denyut&lt;br /&gt;jantungku? Di manakah negeri itu, tempat berlayar&lt;br /&gt;seluruh mimpi-mimpiku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setengah berteriak engkau bertanya pada retak&lt;br /&gt;tanah di bawah sengat matahari merah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2156930008317982785-3899598299026440396?l=menubul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menubul.blogspot.com/feeds/3899598299026440396/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2156930008317982785&amp;postID=3899598299026440396' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/3899598299026440396'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/3899598299026440396'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menubul.blogspot.com/2010/03/edisi-12.html' title='Edisi 12'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18266239886781897605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/TL7RnaMrAUI/AAAAAAAABcM/oNoOzQriCvA/S220/Potret+Diri+1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2156930008317982785.post-3978693522169804983</id><published>2010-03-31T09:03:00.000-07:00</published><updated>2010-03-31T19:46:49.531-07:00</updated><title type='text'>Edisi 13</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;I Made Suantha&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;             (Bali)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Equilibrium Kupu-kupu (1)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Malam terlahir karena kerlip kunang-kunang&lt;br /&gt;Siapa terlahir ditengah isak.  Didalam perasan mawar&lt;br /&gt;Dipusaran madu yang terperah dari lenguh lembu&lt;br /&gt;“mata air !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peladang kabut menyemai ilalang disebuah taman bunga&lt;br /&gt;Menjadi gubuk dengan tiang pohon tanpa getah !&lt;br /&gt;Kunang-kunang menyembunyikan gema&lt;br /&gt;Menenggelamkan senja disela bayangan&lt;br /&gt;Yang melengkung di dalam cahaya. Angin menyentuhmu&lt;br /&gt;Sangat pekat.  Kau berdiam&lt;br /&gt;Dingin karam di diri : kulintasi matahari&lt;br /&gt;Mengenal air mata yang sudah terbakar&lt;br /&gt;Dibawah ufuk:burung-burung berganti kicau&lt;br /&gt;Dengan lenguh sapi meluku endapan air&lt;br /&gt;Menera panas&lt;br /&gt;Dan ngiang kupu-kupu memekarkan musim bunga ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam tanpa jarak dengan terbang kelekatu&lt;br /&gt;Siapa menunggu di rumah ilalang : menyamak lelehan&lt;br /&gt;Madu dan memahami rahasia kupu-kupu di sekuntum bunga ?&lt;br /&gt;Kunang-kunang menera sinar bulan,”aku jadi beku&lt;br /&gt;Pada panas kalbu !”&lt;br /&gt;Jiwaku limbung, menanam warna terburai&lt;br /&gt;Dari bayangan lembab !&lt;br /&gt;Cuaca kembar berdarah : singatan dan gigilan&lt;br /&gt;Pohon terpaku diantaranya !&lt;br /&gt;Patung air. Patung air. Kupu-kupu membentuknya&lt;br /&gt;Kusemai pada lendir darah : tumbuhlah hamparan&lt;br /&gt;Memuati pelabuhan burung&lt;br /&gt;Dan cahaya dingin teduh&lt;br /&gt;Memanjangkan jejak kupu-kupu yang kembali&lt;br /&gt;               &lt;br /&gt;“aku telah menulis bening mata air !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ian Sancin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Pangkal Pinang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sungai Yang Mengalir Di Wajah Bunda&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;: 18-11-2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rembulan hinggap di padang keningmu yang lapang&lt;br /&gt;meruapi danau bening matamu mengairi sungai jernih nadi hidupku&lt;br /&gt;dan anak-anakmu selalu gelisah hendak mencium punggung tanganmu&lt;br /&gt;tangan yang membuat mereka perkasa sepanjang masa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakmu yang berpunya menanamkan pangkat&lt;br /&gt;mewah dipundaknya menjadi jenderal kapan saja ia suka&lt;br /&gt;anakmu yang perwira menjadi malu-malu dengan wibawanya&lt;br /&gt;anakmu yang bintara menjadi kepala rumah tangga&lt;br /&gt;menyiapkan angan-angan serba ada&lt;br /&gt;anakmu yang serdadu tetaplah biasa&lt;br /&gt;menjadi pasukan melengkapi suasana&lt;br /&gt;dan anakmu yang tiada telah menjadi bunga&lt;br /&gt;harum dalam doa&lt;br /&gt;tetapi semuanya tetaplah anakmu&lt;br /&gt;tak ada emas, perak, ataupun tembaga&lt;br /&gt;anakmu adalah permatamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesta hari raya adalah kumpul bocah bermanja suka&lt;br /&gt;Dan untuk menyiapkan tanganmu yang sama&lt;br /&gt;mesti menanak ketupat beratus buah jumlahnya&lt;br /&gt;tak ada gulai angsa, hanya ada ayam dan lembu&lt;br /&gt;di santan berpuluh kelapa jumlahnya&lt;br /&gt;tak ada sayur biasa di hari raya, hanya ada sayur&lt;br /&gt;beraroma mentega, cengkeh dan pala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hari raya kedua, gulai dan ketupat terasa&lt;br /&gt;surut di lidah yang manja maka ikan segar bakar&lt;br /&gt;menjadi penyelah suasana&lt;br /&gt;tapi tak cukup satu ataupun dua&lt;br /&gt;sehabis pesta piring dan gelas berbaris di tengah meja&lt;br /&gt;dan tanganmu pula yang menjamahnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanganmu yang perkasa telah membesarkan semua prajurit&lt;br /&gt;hingga menjadi perwira atau tetap serdadu biasa&lt;br /&gt;tanganmu adalah tangan sepanjang masa&lt;br /&gt;karena itu hari kelima di hari raya engkau rubuh kehilangan tenaga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kini sungai mengalir di wajahmu&lt;br /&gt;arusnya perlahan hingga rembulan yang terbias di riaknya&lt;br /&gt;teramat kusam dan buram padahal anak-anakmu belumlah&lt;br /&gt;puas mencium&lt;br /&gt;punggung tanganmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungai yang dulu mengalir di wajahmu melayarkan semua&lt;br /&gt;angan-angan anakmu ke samudra bebas&lt;br /&gt;dan kembali setelah penjelajahan puas&lt;br /&gt;melabuhkan dan menunaikan apa yang belum kau punya&lt;br /&gt;kau tak pernah berkata apakah kau suka&lt;br /&gt;kau tak pernah berduka apakah kau merana&lt;br /&gt;kau tak pernah membantah apakah kau payah&lt;br /&gt;karena kau tak mau mengeruhkan sungai jernih&lt;br /&gt;yang mengalir di wajahmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mak...... rembulan pasti padam&lt;br /&gt;ia hanya bersinar dalam semalam dan esok pagi&lt;br /&gt;kan berganti matahari&lt;br /&gt;dan jika kelak Sang fajar menjemput&lt;br /&gt;kami ikhlas menebus rasa angkuh ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pangkal Januari 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Iao Suwati S.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;      (Mataram)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sinta&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam tubuh setiap perempuan&lt;br /&gt;ada bilik untuk mengabadikan&lt;br /&gt;darah seorang lelaki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karena awan pun&lt;br /&gt;tak berhak memilih&lt;br /&gt;derajat keasaman&lt;br /&gt;air hujan dalam tubuhnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebagai capung bersayap perak bening&lt;br /&gt;dengan ekor berbuku ganjil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apakah yang lebih menyentak&lt;br /&gt;selain saat menyentuh kulit air&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;membuat paham&lt;br /&gt;mengejar bayang&lt;br /&gt;adalah prosesi menuju petaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka jangan pertanyakan&lt;br /&gt;garam peluh purusa        &lt;br /&gt;yang menggumpal&lt;br /&gt;menyumbat lubang porimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebab&lt;br /&gt;dalam tubuh&lt;br /&gt;setiap perempuan&lt;br /&gt;ada bilik&lt;br /&gt;untuk mengabadikan&lt;br /&gt;darah seorang lelaki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Iggoy El Fitra&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;      (Padang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Abrakadabra&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sehasta pijarmu padam&lt;br /&gt;asap menjejaki wewangian masa datang yang terlalu pagi kuhirup&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  pada selesat angin silam&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;terlalu cepat&lt;br /&gt;sedangkan aku baru bisa menyetubuhi kujur laut bila tak pernah ada lagi surut&lt;br /&gt;sekantong harap di semenanjung matamu meletup-letup&lt;br /&gt;alangkah sansai getir alur napas nantinya&lt;br /&gt;sebagaimana buaian laksamana yang sempat memitoskan keabadian&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  alaika&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;sekepal kebebasan&lt;br /&gt;juga sekuntum pergerakan berada dalam tafsir kungkungan aksaramu&lt;br /&gt;aku tengadah&lt;br /&gt;melayah ketimbang menjihadkan kerinduan ke bumbungan langit&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  di aliran lazuardi merah&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;sujudmu lekat&lt;br /&gt;isakmu alunkan bahana ke pelosok telinga&lt;br /&gt;merenangi kabut&lt;br /&gt;sumbumu lebur&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  abrakadabra&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;datanglah ke rengkuhanku&lt;br /&gt;kita sepakat menelurkan dosa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padang,  22 Desember 2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2156930008317982785-3978693522169804983?l=menubul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menubul.blogspot.com/feeds/3978693522169804983/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2156930008317982785&amp;postID=3978693522169804983' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/3978693522169804983'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/3978693522169804983'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menubul.blogspot.com/2010/03/edisi-13.html' title='Edisi 13'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18266239886781897605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/TL7RnaMrAUI/AAAAAAAABcM/oNoOzQriCvA/S220/Potret+Diri+1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2156930008317982785.post-8964244989855567463</id><published>2010-03-31T09:02:00.000-07:00</published><updated>2010-03-31T19:52:07.600-07:00</updated><title type='text'>Edisi 14</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Iif Ranupane&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;     (Jambi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jarak Ruang dan Waktu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tiba tiba aku melesat menembus  dan  menembus   tegak lurus   dengan mengabaikan   resiko  berhenti  dengan    kecepatan   ribuan juta  tahun cahaya bahkan lebih jangankan uranus atau nepturnus pluto pun  sudah aku lewati hingga aku tak lagi melihat adanya warna dan cahaya seperti di bumi sementara  cahaya  matahari pun sudah  hilang dari  pandangan fungsi dan keperkasaan panasnya  matahari  tak lagi   berpengaruh   apa apa matahari hilang keberadaannya matahari tak  kuperhitungkan lagi  &lt;br /&gt;                      &lt;br /&gt;entah berapa ribu juta jarak galaksi telah  aku lewati entah  berapa  ribu juta waktu ke waktu telah aku tinggalkan entah berapa ribu  juta   ruang atmosfir  telah  aku jelang  ketika  aku  memandang  jauh  ke   belakang mataku tak menemukan sesuatupun  yang  kumengerti   bumi   matahari  dan seluruh planet yang mengelilinginya   hanya tinggal   dalam ingatan sementara aku masih terus melesat    menembus  dan   menembus tegak lurus dengan mengabaikan resiko berhenti dengan kecepatan ribuan juta tahun cahaya bahkan lebih meski   telah begitu  jauh aku melesat belum juga aku temukan batas akhirmu batas jarah ruang dan waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wahai jarak ruang dan waktu dimanakah titik awal dan akhirmu apakah engkau menempati dan melewati  segala yang ada  dan segala yang tak ada menembus  gugusan     tata  surya  alam  semesta   apakah   engkau diciptakan  tuhan sama sepertiku  mahluk dan benda benda fana lainnya berawal dan berakhir aku terkungkung  dalam kefanaanku  di balik satu atmosfir selalu ada  atmosfir yang lain meski  aku telah  menembus dari satu  lapisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;atmosfir ke lapisan atmosfir  yang lain  ternyata aku masih berada  di dalam aku tak pernah  bisa ke luar  aku  terkungkung    dalam keterasingan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dengan  kedua  telapak   tanganku  aku   hanya  bisa   bersujud perlahan kutarik  nafasku  dalam  dalam  sayup  aku  mendengar     bisikan yang datang  entah  dari  mana    sedikitpun  aku   tak   sanggup    memahami maknanya sementara batinku masih terus bertanya  tanya dimana  batas jarak  ruang    dan    waktu  yang  tak  berawal   tak  berujung    dan tak berkesudahan  itu  dengan  kedua   telapak  kakiku  ternyata   aku harus berjalan bukan seperti burung yang terbang    ke gigir     cakrawala atau menyelam  seperti  ikan  ke dasar  lautan  tapi  berjalan  seperti manusia membebaskan   kegelapan  dan  segala  keraguan  dengan    mata hatiku perjalanan      adalah    padang    tanpa   batas   tuju  dengan    iman  dan keyakinanku aku akan terus berjalan menuju rabbMu&lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;1993&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ikhtiar Hidayati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;      (Palembang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kutunggu Maharmu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahkah kausiapkan mahar untukku ?&lt;br /&gt;Tujuh perangkat alat sholat, sayang&lt;br /&gt;Sedikitnya tujuh.&lt;br /&gt;Lengkap dengan Al-Quran,&lt;br /&gt;kitab-kitab Hadis Shohih dan Hadis Qudsi,&lt;br /&gt;serta kitab-kitab fiqih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu untukku : satu akan kuhadiahkan kembali bagimu.&lt;br /&gt;Sebab tujuh adalah sebab kumau sedikitnya lima anak&lt;br /&gt;menyandang namamu di belakang namanya.&lt;br /&gt;Kuingin, Sayangku,&lt;br /&gt;satu anak berketuhanan yang mahaesa ;&lt;br /&gt;(yang benar-benar berketuhanan, Sayang,&lt;br /&gt;bukan yang meledakkan bom sambil pura-pura menyebut-nyebut&lt;br /&gt;nama Tuhan)&lt;br /&gt;satu anak berkemanusiaan yang adil dan beradab ; (yang kalau dia sudah baligh, dia akan jadi manusia semanusia-manusianya&lt;br /&gt;serta beradab sebagai manusia seberadab-beradabnya)&lt;br /&gt;satu anak berpersatuan Indonesia ;&lt;br /&gt;(yang merindukan manis-lezatnya ukhuwah)&lt;br /&gt;satu anak berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan&lt;br /&gt;dalam permusyawaratan / perwakilan ;&lt;br /&gt;(bukan maksudku ingin punya anak yang jadi anggota dewan&lt;br /&gt;perwakilan rakyat, Sayang,&lt;br /&gt;bukan ; beban-dunia akhiratnya akan terlalu berat untuk&lt;br /&gt;dipertanggungjawabkannya,&lt;br /&gt;padahal di padang mahsyar tidak mustahil&lt;br /&gt;kita berdua —kali jadi kau pinang aku—&lt;br /&gt;akan terpaksa ikut mempertanggungjawabkan, kan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan satu anak berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.&lt;br /&gt;(yang kalau dia jadi menteri social.&lt;br /&gt;dia akan mengusahakan kesejahteraan hidup di tiap lapisan sosial&lt;br /&gt;akan terasa benar adilnya&lt;br /&gt;tanpa harus jadi komunis atau apa pun yang membuat alergi&lt;br /&gt;penguasa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahkah kau siapkan mahar itu ?&lt;br /&gt;Kalau bisa lebih dari tujuh, Sayang.&lt;br /&gt;Aku juga mau anak yang bertumpah darah yang satu, tumpah&lt;br /&gt;darah Indonesia ; &lt;br /&gt;sekaligus berbangsa satu, bangsa Indonesia ;&lt;br /&gt;sekaligus menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;                &lt;br /&gt;Jangan dakwa aku mengada-ada atau mengimpi-ngimpi, Sayang.&lt;br /&gt;Siapkan saja mahar itu.&lt;br /&gt;Soal anak-anak itu,&lt;br /&gt;biar Tuhan yang menyiapkan,&lt;br /&gt;biar Tuhan yang mengurus,  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Malam Takbiran 1426 Hijriah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Imraatul Jannah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;     (Martapura)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Engkaukah Ababilku, Akhuya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;engkaukah ababilku, akhuya ?&lt;br /&gt;musim yang beringas memangku piala keangkuhan abrahah&lt;br /&gt;dan tentara bergajah. bulan yang berdarah membentangkan&lt;br /&gt;sisi kemanusiaan yang menyanyikan tembang kepedihan&lt;br /&gt;di hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kepakkan sayapmu yang indah. bumi yang kita huni&lt;br /&gt;begitu merindukan jejak perjalananmu menjadi pilar&lt;br /&gt;tegaknya sebuah peradaban dan mengembalikan kehidupan kita&lt;br /&gt;yang pernah tercabik, ketika granadapun pecah dan berdarah&lt;br /&gt;turki usmani telah tiada, bahkan abbasiyah&lt;br /&gt;hanya tinggal nama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;akhuya, jika engkau ingin memahami laut, belajarlah&lt;br /&gt;kepada gelombang atau karang-karang. kesetiaan&lt;br /&gt;yang kita miliki, tak semestinya membuat kita kehilangan&lt;br /&gt;jati diri kita yang hakiki. biarlah airmatanya menulis               &lt;br /&gt;sajak-sajak kelahiran yang tumbuh dari cermin jiwa&lt;br /&gt;keletihan seorang bidadari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hari ini, kukecup tanganmu penuh rindu. dan kusematkan&lt;br /&gt;mahkota kebesaran seorang mujahid, jika engkau anggukkan&lt;br /&gt;kepalamu, seraya memelukku, kemudian berkata&lt;br /&gt;“akulah ababilmu, ukhti,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(30052005)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Indra Tjahyadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Malang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rontokan Gerhana&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rontokan gerhana yang larut dalam mimpi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;meludahkan kabut. Dengan kepala kucing terpenggal,&lt;br /&gt;ajalku yang berbaju kusta menghidupkan belatung.&lt;br /&gt;Aku rupa kekosongan, menggigil menyerupai hantu.&lt;br /&gt;Melebihi kebosanan, gerak-gerik tikus sekarat kobarkan&lt;br /&gt;sakratul. Para perusuh susuri kampung-kampung dosa&lt;br /&gt;dendam masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir riwayat muasal perdu mabuk hujan,&lt;br /&gt;menggerongsongkan lindu. Aku diam, gadis-gadis Cina&lt;br /&gt;dengan onggokanbangkai anjing di tangan umumkan&lt;br /&gt;mendung. Malaikat-malaikat purba berjatuhan di antara&lt;br /&gt;kegelapan memenuhi nafsuku. Kilau salju membusuk.&lt;br /&gt;Seluruh cahaya telanjang bersabitan di jidatku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala fenomena meletus, tapi aku cucup kedua&lt;br /&gt;puting hitam susumu seolah peluru. Tatapanku rabun,&lt;br /&gt;bergulingan di sepanjang batas hujan. Aku&lt;br /&gt;kutuki segenap lanskap pembunuhan, berabad-abad&lt;br /&gt;memulai syair dengan lumpur. Kerentaan menghuni mayatku.&lt;br /&gt;Dingin berhari-hari selekasnya membisikkan serenada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruh para pelacur terbahak di Neraka. Isyarat bianglala&lt;br /&gt;gaib dalam ingatan menekar-nekar zakar rasa sakit kenanganku.&lt;br /&gt;Di gelung pinggulmu yang igal, keterpencilanku meminta&lt;br /&gt;setubuh. Sunyata! Aku bangun candi-candi keperihan. Aku&lt;br /&gt;niscaya dengan nyawa yang menorehkan angus bekas luka persis&lt;br /&gt;di ujung pelupukmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiang-tiang hijau cuaca membersitkan kelenyapan.&lt;br /&gt;Daun-daun luruh tanpa nama, di beranda, jadi monumen&lt;br /&gt;seratus derita. Sepanjang kemayaan, arwahku menguak&lt;br /&gt;rahasia rindu kekejaman. Ajalku melolong sepanjang siul.&lt;br /&gt;Rasa laparku kehilangan gema. Deritaku meracau, membakar&lt;br /&gt;kota-kota dengan cumbu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, apakah yang akan ditulis matahari pada sisa senja,&lt;br /&gt;sayangku? Percayalah bahwa akulah sang pecinta yang teguh&lt;br /&gt;dan tak tahu malu. Takdirku tercekik sepanjang pengap&lt;br /&gt;mirip pisau yang biasa kau hunjamkan ke dadaku! Di dasar&lt;br /&gt;kematian, akulah seratus darah perawan yang pernah teguk&lt;br /&gt;dengan kufur. Segala pengetahuan tinggal ingatan penuh perusuh!&lt;br /&gt;Fantasiku berbalik arah. Harapanku berjalan mundur, menginsyafi teluh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2002-2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2156930008317982785-8964244989855567463?l=menubul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menubul.blogspot.com/feeds/8964244989855567463/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2156930008317982785&amp;postID=8964244989855567463' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/8964244989855567463'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/8964244989855567463'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menubul.blogspot.com/2010/03/edisi-14.html' title='Edisi 14'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18266239886781897605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/TL7RnaMrAUI/AAAAAAAABcM/oNoOzQriCvA/S220/Potret+Diri+1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2156930008317982785.post-7943259581871127294</id><published>2010-03-31T08:59:00.000-07:00</published><updated>2010-03-31T19:57:24.301-07:00</updated><title type='text'>Edisi 15</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Inggit Putria Marga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Lampung)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Melihat Awan di Jalan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taburan burung gereja&lt;br /&gt;Dibawah&lt;br /&gt;Awan kota&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lingkaran semesta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang berlarian, menenggelamkan jalan&lt;br /&gt;Yang berjalan, lebur di pelarian&lt;br /&gt; Di padam lampu&lt;br /&gt;Memenuhi tujuan mata sepatu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, tak berlaku&lt;br /&gt;Bagi yang menunggu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergi dan kembali&lt;br /&gt;Hanya sebagian komposisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga burung,&lt;br /&gt;Yang terbang dan mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kota ini&lt;br /&gt;                 &lt;br /&gt;Mei, 05&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Isbedy Stiawan ZS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Lampung)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jadi Burung Di Ruang Ini     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;di ruang ini aku jadi burung&lt;br /&gt;sedang kau sebagai sarang&lt;br /&gt;lalu bagaimana bisa&lt;br /&gt;burung pergi dari sarang ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka aku mengeram di dalammu&lt;br /&gt;aku beternak ruh yang&lt;br /&gt;bersayap di masa datang&lt;br /&gt;kepakkan segala kata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jadi kalimat&lt;br /&gt;rimba keramat&lt;br /&gt;yang kau eram pula&lt;br /&gt;sehabis hujan luruh&lt;br /&gt;di luar rencana …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku jadi burung di ruang ini&lt;br /&gt;mengeram di sarangmu&lt;br /&gt;beternak kalimat – kalimat&lt;br /&gt;dusta,&lt;br /&gt;tumbuh sayap di masa datang&lt;br /&gt;yang pulang dengan kaki patah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;merimba keramat …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21-22 Juli 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jimmy Maruli Alfian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Lampung)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Merajang Lajang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERAWAN : Inilah tanahku, tak pernah tandus ! mata air,dan rahim yang sopan memilih percintaan&lt;br /&gt;                  &lt;br /&gt;BUJANG : Aku ingin dilupakan dari takdir, tak perduli harum rahim ataupun mata air tempat pemandian terakhir. Aku pertapa dengan nafas sengal dan asmara yang bebal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERAWAN : Tempo hari, hasrat seperti apa yang ingin kau jerat?&lt;br /&gt; Karena genit, kita diusir dari surga. Pindah ke kota yang hanya ditanami pepohonan kaktus dan cinta yang tandus.&lt;br /&gt; Kau ingin es buah ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUJANG : Seharusnya dulu aku tak perlu mengenalmu. Cerita pilu membuat darah bergenang di jantungku !      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERAWAN : Dan kau harus menanggung kesalahan untuk semua angan-angan !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUJANG : Tak ada benar salah dalam keiinginan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERAWAN : Tapi, seekor ular diketeduhan surga, kelak  membuat resah  dua anak lelaki kita. Lalu kebencian menjadi kaca setiap perjumpaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUJANG : Aku haus. Segala cemas sepanjang umur akan kutanggalkan,&lt;br /&gt;                       Boleh aku hisap putingmu ? Ada yang bilang, dadamu muasal ingatan. Tapi bagiku, merah putingmu merupa pangkal embun jatuh kebatu.&lt;br /&gt;                                      &lt;br /&gt;PERAWAN : Aku lamunkan luka di segala keindahan. Dau kau, akan gembira menamainya perjuanagn.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUJANG : Hijrah burung-burung. Menandakan ada lumbung di ujung jantung.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERAWAN : Alah mak jang ! Kau penyair ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUJANG : Kau hitung, berapa banyak nyeri yang membuat kita berulangkali bunuh diri! Mungkin, ratusan.Itulah sebabnya, aku ingin mangkir dari takdir.       &lt;br /&gt; Setiap waktu, mendaki puncak mendorong batu. Sampai akhirnya dijatuhkan lagi menyusuri sepi.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;PERAWAN : Kau mulai sentimental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUJANG : Bukan! Lepas dari sesal, aku ingin tahu berapa lama usia kenangan mampu bertahan dalam ingatan ? Karena pikiran terkadang menutupi tubuhnya dengan suara hujan dan remang malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERAWAN : Aah, apakah semua penyair ngaco dan sentimentil?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sudahlah, kau masih haus ? Buka mulutmu, ada celah daging yang membuat dapat menyelinap dari segala ratap.&lt;br /&gt; Jangan sekali-sekali kau tanyakan tentang kenangan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depok, 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jose Rizal Manua&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Jakarta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bulan Sepotong Meronda Kota Jakarta  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari, minggu-minggu&lt;br /&gt;tahun-tahun belakangan ini ;&lt;br /&gt;masyarakat sibuk kasak- kusuk&lt;br /&gt;mass media asyik kipas-kipas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan sepotong meronda kota Jakarta&lt;br /&gt;sambil melagu malu-malu :&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; “ya yaya ya yaya&lt;br /&gt;ya kredit ya macet&lt;br /&gt;ya yaya ya yaya&lt;br /&gt;ya kejepit ya kejencet”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Mereka bergunjing di rumah-rumah, di hotel-hotel&lt;br /&gt;tentang moler,sawer, dower, teler, ngeper dan besar&lt;br /&gt;tentang sogok, mogok, pasok, momok, rampok dan gorok&lt;br /&gt;kisah sekamar melar sepasar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari, minggu-minggu&lt;br /&gt;tahun-tahun  belakangan ini ;&lt;br /&gt;masyarakat sibuk kasak-kusuk &lt;br /&gt;mass media asyik kipas-kipas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan sepotong meronda kota Jakarta&lt;br /&gt;sambil melagu ragu-ragu  :&lt;br /&gt;“ya yaya ya yaya&lt;br /&gt;ya narko ya tikno&lt;br /&gt;ya yaya ya yaya &lt;br /&gt;ya narkotik ya no no”   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bergunjing di kampus-kampus, di kantor-kantor&lt;br /&gt;tentang cekal, mental, jegal, kapal, rudal dan tumbal&lt;br /&gt;tentang doping,shoping,jogging, kancing, beking dan jaring&lt;br /&gt;kisah sekota melar sebenua.   &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;Jakarta, 22 Juni 1993.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2156930008317982785-7943259581871127294?l=menubul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menubul.blogspot.com/feeds/7943259581871127294/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2156930008317982785&amp;postID=7943259581871127294' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/7943259581871127294'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/7943259581871127294'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menubul.blogspot.com/2010/03/edisi-15.html' title='Edisi 15'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18266239886781897605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/TL7RnaMrAUI/AAAAAAAABcM/oNoOzQriCvA/S220/Potret+Diri+1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2156930008317982785.post-3709018372269394215</id><published>2010-03-31T07:45:00.000-07:00</published><updated>2010-03-31T07:48:36.075-07:00</updated><title type='text'>Edisi 16</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Juftazani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Jakarta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kenangan Atas Maria Nikolaievna&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;barisan kesedihan seperti&lt;br /&gt;nyanyian balalaika&lt;br /&gt;menyanyikan “kenangan abadi” atas musim berlari&lt;br /&gt;“siapa yang akan dimakamkan ?”&lt;br /&gt;“dr zhivago !”&lt;br /&gt;“pantas”&lt;br /&gt;“bukan dia ! tapi istrinya !”&lt;br /&gt;“apa bedanya ?”&lt;br /&gt;angin menderukan nyanyian itu&lt;br /&gt;seperti gembala meniup balalaika&lt;br /&gt;di padang siberia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di saat terakhir&lt;br /&gt;pendeta menebarkan tanah&lt;br /&gt;dalam bentuk salib&lt;br /&gt;keranda ditutup, dipaku&lt;br /&gt;dan diturunkan&lt;br /&gt;gumpalan-gumpalan tanah&lt;br /&gt;seperti hujan menimpa peti mati&lt;br /&gt;kesedihan dan nyanyian abadi&lt;br /&gt;tak juga surut&lt;br /&gt;tatkala pidato terakhir&lt;br /&gt;melepas jenazah maria nikolaievich&lt;br /&gt;ke hadirat yang kuasa&lt;br /&gt;kematian nyonya zhivago&lt;br /&gt;diikuti kematian-kematian nurani,&lt;br /&gt;revolusi dan pembunuhan-pembunuhan&lt;br /&gt;tak bertepi&lt;br /&gt;seperti mendung begitu cepat berubah hitam&lt;br /&gt;hujan deras pemberontakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;atap kerajaan tsar yang kokoh&lt;br /&gt;hancur-lebur diremukkan hujan salju&lt;br /&gt;yang jatuh sekepal batu koral&lt;br /&gt;darah dan airmata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nyanyian sunyi diiringi tiupan balalaika&lt;br /&gt;di padang-padang siberia&lt;br /&gt;di timurnya terbentang kepulauan “GULAG”&lt;br /&gt;kampung putra-putri terbaik rusia&lt;br /&gt;merintih meneteskan darah dan kelaparan&lt;br /&gt;siksaan dan bencana !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciputat, 20 Desember 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jumari HS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Kudus)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Episode Anak Zaman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seperti malam ditinggal sepi&lt;br /&gt;Anak-anak itu, tak lagi bisa tidur&lt;br /&gt;Mereka bermain kabut, di tangannya&lt;br /&gt;Memegang pisau ditusuk-tusukan ke udara&lt;br /&gt;Sampai gerimis dari langit ketentraman&lt;br /&gt;Teriris, dan merintih-rintih kesakitan&lt;br /&gt;Anak-anak itu, terus menusuk-nusukan pisau ke udara&lt;br /&gt;Sampai hati ibu mengelabu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak itu semakin liar&lt;br /&gt;Menusuk-nusuk pisau ke udara&lt;br /&gt;Tak perduli hujan debu menderas&lt;br /&gt;Tak perduli mendung menggelantung&lt;br /&gt;Tak perduli peta hidup berkaburan&lt;br /&gt;Anak-anak itu, tak lagi mengenal sunyi&lt;br /&gt;Airmatanya yang polos telah tumbuh benalu&lt;br /&gt;Menghisap jiwanya sendiri&lt;br /&gt;Aneh, mereka tak pernah mengaduh&lt;br /&gt;Melainkan semakin deras tusukannya ke udara&lt;br /&gt;Tak perduli angin resah&lt;br /&gt;Tak perduli puisi berdarah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak itu&lt;br /&gt;Anak-anak kita&lt;br /&gt;Airmatanya, airmata kita&lt;br /&gt;Bahasanya, bahasa kita&lt;br /&gt;Nyanyiannya, nyanyian kita&lt;br /&gt;Anak-anak itu&lt;br /&gt;Kita!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kudus,  2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Katrin Bandel&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Yogyakarta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Malam Pertama Di Medan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aspal jalan-jalan kotaMu&lt;br /&gt;kuhirup bersama kedip sapa lampu warna-warni&lt;br /&gt;dan ramai klakson sudako&lt;br /&gt;asing di telingaku.&lt;br /&gt;di mana jantung kota? aku&lt;br /&gt;rindu loncat terbang-melayang&lt;br /&gt;ke awan-awan.&lt;br /&gt;toh hanya berlari di tempat.&lt;br /&gt;aspal menganga lapar&lt;br /&gt;dan rangda dari seberang benua&lt;br /&gt;mengirimkan sepotong lidah busuk.&lt;br /&gt;bercak darah tertinggal di atas sprei&lt;br /&gt;mabuk sendiri&lt;br /&gt;berputar sampai terbenam&lt;br /&gt;ke dasar.&lt;br /&gt;tersengal-sengal aku mencoba&lt;br /&gt;satukan napasku dengan napasMu.&lt;br /&gt;teringat trisandhya bermain dengan awan-awan&lt;br /&gt;tapi kutinggalkan jauh di punggung, di telapak kaki&lt;br /&gt;menjadi tak lagi penting karena&lt;br /&gt;bau rambutMu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Medan, 19-2-2002&lt;br /&gt;Jogja, 22-4-2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kiki Turki&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Cirebon)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Surat Untuk Kekasih I&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di malam sunyi ku terbangkan daun-daun doa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampaikan pesanku pada-Mu ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekasih, aku alpa pada-Mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tidakkah Kau ampuni aku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2004&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2156930008317982785-3709018372269394215?l=menubul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menubul.blogspot.com/feeds/3709018372269394215/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2156930008317982785&amp;postID=3709018372269394215' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/3709018372269394215'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/3709018372269394215'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menubul.blogspot.com/2010/03/edisi-16.html' title='Edisi 16'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18266239886781897605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/TL7RnaMrAUI/AAAAAAAABcM/oNoOzQriCvA/S220/Potret+Diri+1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2156930008317982785.post-196424788572081033</id><published>2010-03-31T07:42:00.000-07:00</published><updated>2010-03-31T19:58:54.755-07:00</updated><title type='text'>Edisi 17</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kony Fahrain&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Tenggarong)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Untuk Mim&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa itu, Mim-bukan bayang&lt;br /&gt;Seperti angin yang dapat dirasa tak ada wujud&lt;br /&gt;Ia nyata seperti yang kumaknakan lewat sentuhan&lt;br /&gt;Bukan hanya menyatu raga semata&lt;br /&gt;Jiwamu dan jiwaku tak berjarak&lt;br /&gt;Diputaran pundak waktu yang mulai terbungkuk&lt;br /&gt;                &lt;br /&gt;Ya, Mim.&lt;br /&gt;Usahlah meramu rasa sebatas badani&lt;br /&gt;Di ujung waktu tersisa milik kita ini&lt;br /&gt;Kau sepertinya membunuh kegairahan&lt;br /&gt;Begitu bukti persentuhan ke-25 tahun&lt;br /&gt;Gelegak kemudian diketuaan kita kau abaikan&lt;br /&gt;Rohanimu dan rohaniku dalam memagut sisa asmara&lt;br /&gt;Sepertinya tinggal sentuhan badani yang di luarnya meraja sepi&lt;br /&gt;Dan terwariskan pada dinding-dinding kamar goresan waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Mim, jangan kau bekukan gairah&lt;br /&gt;Ia adalah bahasa kalbu&lt;br /&gt;Dan hidup di jiwa anak-anak kita) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tgr/Bjm Des 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kurnia Effendi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Jakarta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cisadane&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rembulan yang berkeramas hujan&lt;br /&gt;Curahkan leleh emas di atas Cisadane&lt;br /&gt;Serupa lampu yang berenang dari hulu ke batang kuala&lt;br /&gt;Tak lelah ikan bercumbu, di antara jarum air menembusi punggung sungai&lt;br /&gt;Mungkin awan lupa menyembunyikan mata bulan&lt;br /&gt;Memandang penuh cinta kepada sepasang tawanan yang pulang kemalaman&lt;br /&gt;“Aku harus menyeberang, melawan arus yang membentang,” ujar sang pelarian.&lt;br /&gt;“Bayiku menunggu dalam demam. Ingin kutanam benih dendam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subuh tertunda oleh kabut yang bersusun-susun&lt;br /&gt;Muadzin di sudut surau merasa matanya rabun&lt;br /&gt;Ia terlambat membangunkan jemaah lelap mimpi ngungun&lt;br /&gt;“Hujan semalam melindungi langkah maling dari penglihatan siskamling.”&lt;br /&gt;Sang imam tertunduk : ragu pada petunjuk&lt;br /&gt;Dua batang kelapa rebah menjadi jembatan&lt;br /&gt;Sepasang pencuri selamat dari kejaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi pecah oleh tangis bocah&lt;br /&gt;Arus sungai seperti kekal membuncah&lt;br /&gt;Matahari sumringah menatap pohon dan rumah&lt;br /&gt;Perahu dan sampah&lt;br /&gt;Sayur-mayur tumpah-ruah&lt;br /&gt;Sejumlah pertengkaran tak selesai, namun hidup menuntut damai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungai melukis sejarah dengan kuas kemarau dan warna musim hujan&lt;br /&gt;Dusun dibangun dari keringat orang lurus dan para penjahat&lt;br /&gt;Cisadane mengaliri abad demi abad dengan cinta&lt;br /&gt;Yang tak setiap sukma sanggup membalasnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senja yang berlindung pada sutra lembayung&lt;br /&gt;Agar cahaya terakhir tak sentuh kulit perawan di tepi bengawan&lt;br /&gt;Sisa air mandi menetes menjadi jejak cinta&lt;br /&gt;Dikuntit setiap perjaka menjelang petang&lt;br /&gt;Mereka beranak-pinak, lahir dan mangkat&lt;br /&gt;Bersetubuh dan selibat, berdoa dan khianat&lt;br /&gt;Tak lepas dari aroma sungai&lt;br /&gt;“Apakah penarik riba yang loba itu telah menjadi rangkaya ?”&lt;br /&gt;tanya seorang teraniaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gemuruh pabrik menjadi cerita, buruh memekik berbuah canda&lt;br /&gt;Sepasang di antara mereka, berjanji jumpa di tepi kali&lt;br /&gt;Hendak menyerahkan buah dada, sebagai upeti&lt;br /&gt;Hikayat pun mengalir seperti arus mendesir :&lt;br /&gt;Cisadane membesarkan butir-butir padi&lt;br /&gt;Namun sekali waktu kerontang seperti wadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bercermin kemilau air sungai : wajah lazuardi Tangerang&lt;br /&gt;Pesawat terbang seperti belalang terperangkap cuaca&lt;br /&gt;Cetak biru pencakar langit di benak kaum arsitek,&lt;br /&gt;Memesan tempat di tepi Cisadane&lt;br /&gt;“Selamat datang keluarga urban, tinggallah di sini sampai merata uban.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air ketuban rasa kelapa puan&lt;br /&gt;Tak tercatat jumlah liter air yang terminum,&lt;br /&gt;amis sungai telah membentuk sumsum.&lt;br /&gt;Adalah sungai yang rindu menggenangi kota,&lt;br /&gt;setelah sewindu tak diajak bicara&lt;br /&gt;“Kemari, Nak. Kenalkan ini arus cinta, yang telah&lt;br /&gt;membuat kita melepaskan kasta. Kenalkan arus cinta&lt;br /&gt;yang mengubah duka menjadi bahagia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di seribu pematang bercecabang, masih tertera jalan pulang&lt;br /&gt;Di atas gelombang Cisadane , masih tersimpan pundi harapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Marhalim Zaini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Pekanbaru)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Desember, Sebuah Makam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebelum memudar&lt;br /&gt;batas cadas&lt;br /&gt;dan pasang siang&lt;br /&gt;surut di cangkang,&lt;br /&gt;telapak kaki kita&lt;br /&gt;disengat Penyengat.&lt;br /&gt;Sebuah makam&lt;br /&gt;sebuah masa silam&lt;br /&gt;saling menabik salam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat di belakang punggung&lt;br /&gt;sebuah rumah panggung&lt;br /&gt;seperti sedang berkabung.&lt;br /&gt;Seperti ada yang lepas&lt;br /&gt;membekas di tingkap&lt;br /&gt;dan aroma cempaka&lt;br /&gt;yang menyergap.&lt;br /&gt;Duh, hujan jantan&lt;br /&gt;mengintip di selatan&lt;br /&gt;siapa yang berdiam&lt;br /&gt;di sampan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau pernah bilang,&lt;br /&gt;ada desember datang&lt;br /&gt;menjemput seseorang&lt;br /&gt;yang kerap duduk&lt;br /&gt;di pintu makam.&lt;br /&gt;Seseorang bermata sembab&lt;br /&gt;berkerudung warna gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menjumpai sultan&lt;br /&gt;di ujung pelabuhan,&lt;br /&gt;dan seorang perempuan&lt;br /&gt;yang mejunjung beban.&lt;br /&gt;Mereka tak saling berteguran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kita pun&lt;br /&gt;saling berpandangan.&lt;br /&gt;Sepasang lengang terbang&lt;br /&gt;dari lorong ingatan.&lt;br /&gt;Lalu pada laut, atau&lt;br /&gt;pelataran yang asing,&lt;br /&gt;kita jemput para peziarah&lt;br /&gt;yang berjalan beriring&lt;br /&gt;mencari berkah&lt;br /&gt;mencari tuah.&lt;br /&gt;Kau melihat malaikat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihat gurindam itu,&lt;br /&gt;gundukan-gundukan sepi&lt;br /&gt;sehitam malam, dan&lt;br /&gt;tak sesiapapun tahu&lt;br /&gt;di mana bait-bait waktu&lt;br /&gt;bersembunyi,&lt;br /&gt;pada nisan,&lt;br /&gt;dalam bungkusan&lt;br /&gt;kain kafan,&lt;br /&gt;atau pada serpihan&lt;br /&gt;tanah-tanah kuburan,&lt;br /&gt;atau pada kuning,&lt;br /&gt;atau pada putih.&lt;br /&gt;Kita kehilangan warna, katamu.&lt;br /&gt;Bahkan warna rambut kita sendiri.&lt;br /&gt;Lalu mau apa kita?&lt;br /&gt;Bernyanyi seperti anak muda&lt;br /&gt;atau berdoa seperti lansia?&lt;br /&gt;Di pulau kecil ini, tuan&lt;br /&gt;hidup seolah melapuk,&lt;br /&gt;tinggal huma,&lt;br /&gt;lumut pada usia,&lt;br /&gt;dan dentang jam&lt;br /&gt;yang tak setia.&lt;br /&gt;Terlampau berat&lt;br /&gt;sejarah&lt;br /&gt;mencatat&lt;br /&gt;hikayat,&lt;br /&gt;terlampau jauh&lt;br /&gt;hikayat&lt;br /&gt;meninggalkan&lt;br /&gt;sejarah.&lt;br /&gt;Bukankah kita&lt;br /&gt;Orang-orang&lt;br /&gt;yang kalah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau mengaku&lt;br /&gt;kerap mimpi bertemu hantu&lt;br /&gt;dan menemukan wajahmu.&lt;br /&gt;Serupa foto yang buram&lt;br /&gt;atau peta yang kusam,&lt;br /&gt;kau mulai ragu&lt;br /&gt;pada ingatan,&lt;br /&gt;pada pandangan&lt;br /&gt;atau harapan-harapan.&lt;br /&gt;Kesepian lebih meruyak&lt;br /&gt;di antara hutan-hutan&lt;br /&gt;yang tumbuh&lt;br /&gt;di sekujur&lt;br /&gt;tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar&lt;br /&gt;tak ada jawaban&lt;br /&gt;hanya, sekali lagi, hujan.&lt;br /&gt;Dan suara teriakan-teriakan,&lt;br /&gt;bunyi ketukan sandal kayu,&lt;br /&gt;gesekan daun-daun jatuh,&lt;br /&gt;lalu bau kemenyan,&lt;br /&gt;dan tinta hitam&lt;br /&gt;yang netes&lt;br /&gt;diam&lt;br /&gt;diam.&lt;br /&gt;Wahai, raja ali haji,&lt;br /&gt;dikau belum mati?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyengat, 2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2156930008317982785-196424788572081033?l=menubul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menubul.blogspot.com/feeds/196424788572081033/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2156930008317982785&amp;postID=196424788572081033' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/196424788572081033'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/196424788572081033'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menubul.blogspot.com/2010/03/edisi-17.html' title='Edisi 17'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18266239886781897605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/TL7RnaMrAUI/AAAAAAAABcM/oNoOzQriCvA/S220/Potret+Diri+1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2156930008317982785.post-757219821253832590</id><published>2010-03-31T07:38:00.000-07:00</published><updated>2010-03-31T19:59:32.852-07:00</updated><title type='text'>Edisi 18</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mariana Lewier P.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Ambon)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hujan Di Cengkareng&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan menikam bumi&lt;br /&gt;pada aspal dan lampu bandara Cengkareng&lt;br /&gt;senja ini&lt;br /&gt;kuyup&lt;br /&gt;seorang wanita asyik dengan bacaan&lt;br /&gt;dan syal yang melilit leher&lt;br /&gt;memanjang pada blus putihnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dari jendela kaca Eva Airways&lt;br /&gt;langit terlihat kelabu&lt;br /&gt;sementara musik klasik terus mendengung,&lt;br /&gt;penerbangan ini (akan segera) menerpa gerimis&lt;br /&gt;tak ada yang menahan                                                                                     &lt;br /&gt;wan kelabu bertabrakan&lt;br /&gt;berlomba menyiram hujan (getar cair)&lt;br /&gt;menggigiti angin&lt;br /&gt;langit pun menahan kata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku belum lagi mengulum&lt;br /&gt;(kepenuhan) hujan di Cengkareng&lt;br /&gt;ketika pesawat telah mengangkasa&lt;br /&gt;dan meninggalkan kekelabuan&lt;br /&gt;berganti kecerahan biru&lt;br /&gt;angkasa senja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jkt 22 Nov-Taipei 23 Nov.2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Marlen Alfons&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Ambon)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“ Kau Hanya… “&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila murai ingin terbang … biarkan saja&lt;br /&gt;Nanti juga kan bosan dan lelah&lt;br /&gt;Bila angin ingin berembus biarkan saja&lt;br /&gt;Nanti juga kan tenang dan tak ada&lt;br /&gt;Begitu juga denganmu …&lt;br /&gt;Biar saja apa yang kau pandang itu tetap&lt;br /&gt;Karena memang seperti itu …&lt;br /&gt;Kau tak dapat bergerak …&lt;br /&gt;Kau tak dapat mengerling … tak dapat !&lt;br /&gt;Kau tak dapat melangkah dan berayun&lt;br /&gt;Itu sebabnya kau tetap membisu …&lt;br /&gt;Terus menatap hingga lumutan …&lt;br /&gt;Tidur pun kau takkan bisa&lt;br /&gt;Kau berdiri dalam ganasnya terik&lt;br /&gt;Kau kokoh dalam siraman hujan&lt;br /&gt;Bias saja kau berlindung&lt;br /&gt;Tapi tak bias …&lt;br /&gt;Karena kau hanya sebuah patung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29 November 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Marlha Maspaitella&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Ambon)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rumah  Khalawat&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah jalan yang lurus&lt;br /&gt;Di antara banyaknya penginapan di kota Batu&lt;br /&gt;Berdiri sebuah rumah yang penuh kenangan&lt;br /&gt;Dengan bungabunga yang indah melingkari sebuah kolam ikan&lt;br /&gt;Menguak kisah di bulan Desember&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua mobil LG membunyikan klakson&lt;br /&gt;Menyentak sebuah tangan kasih&lt;br /&gt;Senyuman seorang perempuan berkerudung&lt;br /&gt;Menyambut dua puluh empat orang yang turun&lt;br /&gt;Dengan gaya masingmasing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dendam terbawa dalam nafas dan sikap&lt;br /&gt;Kemunafikan dan kebohongan hadir dalam canda dan tawa&lt;br /&gt;Ketika sebagian terlena melepas lelah&lt;br /&gt;Kelompok penyanyi bersenandung dalam Latihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Detak waktu mendekati pukul tujuh&lt;br /&gt;Kolam ikan terpantau dalam cahaya bulan&lt;br /&gt;Kedua puluh empat tamu rumah khalawat&lt;br /&gt;Merenung dalam ibadah yang khusuk&lt;br /&gt;Masingmasing melepas rantai yang  membelenggu hati&lt;br /&gt;Mengangkat balok yang menindih kasih&lt;br /&gt;Menanggalkan tabir hitam yang berbenih dendam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah khalawat penuh tangisan&lt;br /&gt;Ketika semua berserah untuk bertobat&lt;br /&gt;Rumah khalawat memancarkan kasih&lt;br /&gt;Ketika belenggu dendam terhapus dengan pelukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarak menjadi tak berarti&lt;br /&gt;Ambisi bingung mencari tempat bernaung&lt;br /&gt;Karma cinta dan kasih telah menjadi udara&lt;br /&gt;Yang melepas malam di rumah khalawat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malang, Desember 20025&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mas Yayun&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Sukabumi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Elton John&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seperti sodom gomorah&lt;br /&gt;menolak luth&lt;br /&gt;menghunjamlah batu-batu&lt;br /&gt;                &lt;br /&gt;satu teriakan saja&lt;br /&gt;setelah itu sunyi&lt;br /&gt;pompeii dilumat gemuruh vesuvius&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi naples dan capri&lt;br /&gt;lupa menggali sejarahnya sendiri&lt;br /&gt;nudisnya kini juga diperdaya mithraic ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu aku melihatmu, john&lt;br /&gt;di windsor buildhall kamu tersenyum lucu&lt;br /&gt;kepada david furnish di sampingmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku memang cuma terkesima&lt;br /&gt;tetapi selanjutnya menyimak&lt;br /&gt;: aku, kamu dan kekasihmu, waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sambil kubaca kembali&lt;br /&gt;sodom gomorah dan pompeii&lt;br /&gt;lewat sejarah dan kitab suci&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kamu bacalah roma dalam injilmu&lt;br /&gt;atau pada ayat-ayat al qur’an mulia&lt;br /&gt;juga fosil-fosil itu, peristiwa yang dihentikan waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ternyata Tuhan mengazab sementara tiba-tiba&lt;br /&gt;bagi kamu cukup satu teriakan saja&lt;br /&gt;sebelum lumat seketika !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukabumi, Desember 2005&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Melody Muchransyah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Bogor)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hidup&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hidup adalah kehampaan suara-suara pada malam tak berbintang&lt;br /&gt;adalah kenangan indah tentang manisnya rasa kecup cinta&lt;br /&gt;adalah sebuah perjuangan pahit yang berujung pada asa&lt;br /&gt;adalah nyanyian merdu nan sendu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hidup tak hanya hidup namun pula merasa&lt;br /&gt;hidup adalah tentang tangisan dan tawa&lt;br /&gt;tentang kebenaran dan esensi dari rasa percaya&lt;br /&gt;adalah kemesraan dua insan yang mabuk bercinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hidup meski tak bergeming namun pula tak berlari&lt;br /&gt;hidup memang hanya ada bila kau menikmatinya&lt;br /&gt;hidup adalah merasa bersyukur&lt;br /&gt;dan hidup, bagiku, adalah berada di sisimu dan mencintaimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bogor, 16 Januari 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2156930008317982785-757219821253832590?l=menubul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menubul.blogspot.com/feeds/757219821253832590/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2156930008317982785&amp;postID=757219821253832590' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/757219821253832590'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/757219821253832590'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menubul.blogspot.com/2010/03/edisi-18.html' title='Edisi 18'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18266239886781897605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/TL7RnaMrAUI/AAAAAAAABcM/oNoOzQriCvA/S220/Potret+Diri+1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2156930008317982785.post-9149961808787077462</id><published>2010-03-31T07:36:00.000-07:00</published><updated>2010-03-31T20:00:08.850-07:00</updated><title type='text'>Edisi 19</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Micky Hidayat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Banjarmasin)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Meditasi Rindu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bagi ayahnda Hijaz Yamani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;Mengingat kembali dirimu&lt;br /&gt;Keterasingan dan sunyi pun menyapa&lt;br /&gt;Menulisi air mata, di antara kata-kata liar buruanku&lt;br /&gt;Mengaliri duka cita tak pernah terucapkan&lt;br /&gt;Sekelompok camar membelah laut&lt;br /&gt;Kumandang takbir melayang-layang di udara&lt;br /&gt;Menyusun riwayat dunia yang tak pernah tamat kubaca&lt;br /&gt;Selalu kubaca, berulang-ulang  aku membacanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.&lt;br /&gt;Tiba-tiba rinduku padamu&lt;br /&gt;Menjelma sebuah menara menjulang&lt;br /&gt;Mengajari udara beterbangan&lt;br /&gt;Dengan kesabaran&lt;br /&gt;Mengusik cuaca dan angin&lt;br /&gt;Cahaya matahari mengirimkan salam dan doa&lt;br /&gt;Yang tumpah dalam kenikmatan ruang dan waktu&lt;br /&gt;Dalam keheningan sempurna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.&lt;br /&gt;Bayang-bayang wajahmu&lt;br /&gt;Menjelma rembulan dan bintang-bintang&lt;br /&gt;Di hamparan sajadah kebijaksanaan&lt;br /&gt;Kekhusukan tasbih dan tahmid&lt;br /&gt;Dengan kesetiaan samudera&lt;br /&gt;Berkelebatan ayat-ayat&lt;br /&gt;Berkilauan rahasia-rahasia&lt;br /&gt;Tebing-tebing mimpi dunia&lt;br /&gt;Yang diselimuti kabut&lt;br /&gt;Dalam tahajud sunyi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.&lt;br /&gt;Mendaki, mendaki&lt;br /&gt;Mendakilah !&lt;br /&gt;Semadi, semadi&lt;br /&gt;Semadilah !&lt;br /&gt;Hingga ke puncak zikir kembara&lt;br /&gt;Telah engkau reguk kehidupan fana dengan air mata&lt;br /&gt;Telah engkau enyahkan kilau-kemilau dan kecemasan dunia&lt;br /&gt;Menuju ketenangan maha sempurna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.&lt;br /&gt;Telah engkau tamatkan membaca beribu ayat&lt;br /&gt;Hingga menerangi alam semesta&lt;br /&gt;Telah engkau tuntaskan tafakur dalam keheningan&lt;br /&gt;Berkhalwat dalam salawat&lt;br /&gt;Cahaya nabi dan para rasul&lt;br /&gt;Mengembara menuju mahsyar&lt;br /&gt;Bertakbir tak habis-habis takbir&lt;br /&gt;Di keluasan sajadah&lt;br /&gt;Hingga sujud dalam rakaat demi rakaatmu&lt;br /&gt;Menyentuh surga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.&lt;br /&gt;Dan aku di sini, di puncak kerinduan ini&lt;br /&gt;Beribu tahun memunguti kesepian tak terperi&lt;br /&gt;Dalam ketidakberdayaan, di ruang kefanaanku&lt;br /&gt;Dan menanti, akankah kau datang lagi dengan senyum khasmu&lt;br /&gt;Kemudian pergi tanpa pamit bersama mimpiku yang mawar&lt;br /&gt;Juga rinduku tak terpuaskan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.&lt;br /&gt;Sebagaimana sajak-sajak yang mengalir&lt;br /&gt;Dari kawah batinku, pada setiap puncak pendakianku&lt;br /&gt;Selalu saja menulisi kecemasan dunia&lt;br /&gt;Menangisi luka bulan, bintang-bintang, dan matahari&lt;br /&gt;Mentasbihkan kebijakan dan kebajikan&lt;br /&gt;Menzikirkan kebaikan dan kebenaran&lt;br /&gt;Yang pernah kau ajarkan diam-diam padaku&lt;br /&gt;Seperti kediaman batu-batu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.&lt;br /&gt;O, bapak, sebagaimana puisi-puisimu&lt;br /&gt;Yang kini tak bisa lagi bicara&lt;br /&gt;Tetapi masih berulang-ulang kubaca&lt;br /&gt;Aku baca !&lt;br /&gt;Sebagaimana aku terus belajar mengeja&lt;br /&gt;Dan mencari kata-kata&lt;br /&gt;Sebagaimana aku terus belajar membaca&lt;br /&gt;Isyarat dan gerak zaman&lt;br /&gt;Sambil mengumandangkan ayat-ayat kebenaran&lt;br /&gt;Dengan cahaya zikir dan air mata doa&lt;br /&gt;Mengkristal dalam jiwamu yang mawar&lt;br /&gt;Bersemayam cahaya maha cahaya-Nya                                       &lt;br /&gt;                &lt;br /&gt;2001/2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Miziansyah J.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Samarinda)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dendang Duka&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Sajak ta’ziah bagi Alm.H.Zailani Ideris)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangis tabur bunga menghentikan deru angin seketika&lt;br /&gt;Seekor rangkong turut merenungi musim berganti&lt;br /&gt;Mengapa dawai sampe yang dipetik tiba-tiba putus&lt;br /&gt;Padahal melodi Tepian Pandan masih didendangkan&lt;br /&gt;Padahal pesta mentari masih kita inginkan sepanjang pagi&lt;br /&gt;Tangis tabur bunga dalam ini duka menghentikan segala pesta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana kaku membujurkan jasad saudaraku&lt;br /&gt;Inilah sebuah kepergian tanpa ditahan&lt;br /&gt;Tertinggallah masalalu dengan sejuta kenangan&lt;br /&gt;Pupuslah cita dan cinta&lt;br /&gt;Atas kebiruan langit dan keindahan dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada sekeping mimpipun tertinggal&lt;br /&gt;kecuali renda-renda kerinduan&lt;br /&gt;Kerinduannya adalah arus yang mengalir&lt;br /&gt;kemuaraNya&lt;br /&gt;Adalah kita yang tertinggal&lt;br /&gt;Adalah dia yang mencapai samapai                   &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Samarinda, 1999&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan :&lt;br /&gt;Rangkong  = burung anggang&lt;br /&gt;Tepian Pandan = julukan untuk kota Tenggarong&lt;br /&gt;Sampe = alat musik petik suku Dayak Benuaq&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Choirul Anam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Boyolali)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mengeja Malam Runtuh dan Kejatuhan Bintang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gununggunung malam runtuh&lt;br /&gt;ketika bintang sedang menjaga kejatuhannya&lt;br /&gt;kabut gelisah dengan warna hitam yang mengitari tubuhnya&lt;br /&gt;sementara langit hanya bersedekap&lt;br /&gt;menunggumatahari yang sebentar lagi akan naik di punggungnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku lupa memandang gelap&lt;br /&gt;aku luput menghitung cahaya&lt;br /&gt;sementara rekaat telah memburai menjadi neraka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ruang renung, mei4, 2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2156930008317982785-9149961808787077462?l=menubul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menubul.blogspot.com/feeds/9149961808787077462/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2156930008317982785&amp;postID=9149961808787077462' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/9149961808787077462'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/9149961808787077462'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menubul.blogspot.com/2010/03/edisi-19.html' title='Edisi 19'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18266239886781897605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/TL7RnaMrAUI/AAAAAAAABcM/oNoOzQriCvA/S220/Potret+Diri+1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2156930008317982785.post-744048119578880002</id><published>2010-03-31T07:33:00.000-07:00</published><updated>2010-03-31T20:00:47.601-07:00</updated><title type='text'>Edisi 20</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Muhammad Husyairi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Jambi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pacarku Hans&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;: dalam kenangan Hamid Djabar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pacarku sudah sore di puri dua&lt;br /&gt;dekat simpang rimbo terminal baru&lt;br /&gt;jalan pulang yang kelelahan, hasrat kita&lt;br /&gt;telah jadi berita kepergian, dari koran pagi&lt;br /&gt;aku berangkat dengan airmata&lt;br /&gt;sesore ini, jalan pulang seperti lelaki asia&lt;br /&gt;berjalan dalam keremangan lampu taman&lt;br /&gt;dan pohon-pohon kering, langkah kita yang tertunda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pacarku amarah dan kesedihan perempuan melayu&lt;br /&gt;cara cinta yang menakutkan dalam sebuah perjalanan&lt;br /&gt;pulang dan pergi seperti diam, di pemberhentian&lt;br /&gt;kita kenal peristiwa barisan kaki pucat&lt;br /&gt;pada malam naas itu ; satu sajakmu melambai, tubuhmu&lt;br /&gt;bergetar seperti lelah, hans di sana. anak sulung yang&lt;br /&gt;kecewa di matamu.&lt;br /&gt;hans berarti hidup di negeri penjajah, pacarku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sejarah taman ini, sebuah terminal baru dengan keberangkatannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jambi, 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Muhammad Natsir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Nasir A.NF)&lt;br /&gt;(Aceh)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pasir-pasir Barzanzi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sketsa-sketsa dunia visual barzanzi&lt;br /&gt;Sumpah angin dan ombak&lt;br /&gt;Terikat firman alam Tuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karang terjepit onggok dosa&lt;br /&gt;Murka menganga langit merah menyala&lt;br /&gt;Sebagai episontrik yang terus berlanjut&lt;br /&gt;Camar putih memanggil nama Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neraka dan surga itu&lt;br /&gt;Adalah sambungan episode&lt;br /&gt;Dalam naskah baik buruk dunia&lt;br /&gt;Atas sumpah angin dan ombak&lt;br /&gt;Terus mengikis pasir-pasir dosa&lt;br /&gt;Berkilau, semakin memutih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deru menyatu dalam sedu sedan&lt;br /&gt;Hikayat pasir-pasir barzanzi&lt;br /&gt;Tidak lagi terdengar di pesisir Alif&lt;br /&gt;Menggumpal menjadi dongeng batu !&lt;br /&gt;Yang menerjang pintu barzah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pigura meluntur usang&lt;br /&gt;Antara bongkah-bongkah tajam&lt;br /&gt;Jerat membingkai&lt;br /&gt;Dengan memose tanah berpasir itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini …&lt;br /&gt;Terdengar bisik-bisik sumbang&lt;br /&gt;Membawakan&lt;br /&gt;Hikayat pasir-pasir barzanzi&lt;br /&gt;Yang berujung kalimat ampuh&lt;br /&gt;Setelah Mungkar dan Nangkir&lt;br /&gt;Mengusik tidur panjang&lt;br /&gt;Para tanah yang berdosa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banda Aceh, 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Muhammad Nur Hasib&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Jakarta Utara)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Musafir Kelana&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daun daun kemesraan berhamburan&lt;br /&gt;dipersada sunyi&lt;br /&gt;kuncup kuncup mekar mewangi&lt;br /&gt;dipelataran hati yang redup&lt;br /&gt;Musafir kelana&lt;br /&gt;nyaris terhempas dialas&lt;br /&gt;permadani surgawy&lt;br /&gt;tetesan iman bentengi diri&lt;br /&gt;dialam mayapada kekhilafan&lt;br /&gt;Musafir kelana&lt;br /&gt;mengembara gantungkan cita     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;melepas kuncup kuncup nan mekar&lt;br /&gt;dilandasan penantian tiada pasti&lt;br /&gt;Musafir kelana&lt;br /&gt;mengawan dilangit biru&lt;br /&gt;menyusup ketebalan dirgantara kelabu&lt;br /&gt;dengan sinar rembulan semu&lt;br /&gt;menyambut kumbang kumbang&lt;br /&gt;pengisap madu bersayap tradisi kaku&lt;br /&gt;Musafir kelana&lt;br /&gt;merantai janji menyulam ikrar bersama&lt;br /&gt;bintang-gemintang dilangit malam&lt;br /&gt;bertabur cahaya kedamaian abadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, November 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Muhammad Saribi AFN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Jakarta Timur)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Seperti Masjid Indragiri&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin punya kekuatan iman seperti&lt;br /&gt;kekuatan Masjid Indragiri&lt;br /&gt;Menahan goncangan gempa 9 skala richter&lt;br /&gt;hantaman deras arus tsunami&lt;br /&gt;Hitam pekat sarat potongan beton&lt;br /&gt;patahan batang kayu akar besi jembatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah-rumah dan pondok-pondok runtuh&lt;br /&gt;terhempas kapal bertonase puluhan ribu ton&lt;br /&gt;ke darat berkilometer jauh&lt;br /&gt;Lintang pukang orang-orang menghindar&lt;br /&gt;ratap tangis isak sendu terpendam gemuruh&lt;br /&gt;suara gelombang arus membentur&lt;br /&gt;gedung-gedung berdinding batu&lt;br /&gt;Tubuh-tubuh luruh tidak berdaya&lt;br /&gt;hanyut dalam gulungan arus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masjid Indragiri berkerangka kayu&lt;br /&gt;didirikan Sultan Iskandar Muda&lt;br /&gt;4 abad silam tegak berdiri&lt;br /&gt;tak tersentuh amuk tsunami&lt;br /&gt;Arus hitam pekat pelahan melintasi&lt;br /&gt;kawasan masjid seputar serambi&lt;br /&gt;kehilangan kekuatan amarah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelombang arus tsunami seakan&lt;br /&gt;memberi salam pada kubah Indragiri&lt;br /&gt;Dan beratus-ratus pengungsi selamat&lt;br /&gt;Di teras Majid Baiturahman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin punya kekuatan iman seperti&lt;br /&gt;kekokohan Masjid Indragiri&lt;br /&gt;menepis ancaman&lt;br /&gt;syirik&lt;br /&gt;kemunafikan&lt;br /&gt;serakah&lt;br /&gt;hawa napsu&lt;br /&gt;takabur&lt;br /&gt;ketidakadilan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehancuran akhlak&lt;br /&gt;sedang semarak&lt;br /&gt;merambah remaja dan anak-anak&lt;br /&gt;meracun akal budi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin punya kekuatan iman jadi&lt;br /&gt;pelindung orang-orang lemah&lt;br /&gt;dan orang-orang terzalimi&lt;br /&gt;Carilah aku di antara&lt;br /&gt;Orang-orang lemah kalian …*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) hadis Nabi saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5 Pebruari 2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2156930008317982785-744048119578880002?l=menubul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menubul.blogspot.com/feeds/744048119578880002/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2156930008317982785&amp;postID=744048119578880002' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/744048119578880002'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/744048119578880002'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menubul.blogspot.com/2010/03/edisi-20.html' title='Edisi 20'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18266239886781897605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/TL7RnaMrAUI/AAAAAAAABcM/oNoOzQriCvA/S220/Potret+Diri+1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2156930008317982785.post-4463137870377253105</id><published>2010-03-31T07:31:00.000-07:00</published><updated>2010-03-31T07:33:33.251-07:00</updated><title type='text'>Edisi 21</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Muhammad Tajuddin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Majalengka)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Namaku Air&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Namaku air. Aku mengalir dalam tubuh sungai&lt;br /&gt;Mengarak rohku dari hulu firman-Mu menuju&lt;br /&gt;Laut. Aku memasuki tulang badai. Aku berguncang bersama&lt;br /&gt;Ikan-ikan yang lapar. Merindu. Menari-nari hingga gila&lt;br /&gt;Aku muntah dan berputar mengelilingi lukisan kosong&lt;br /&gt;Namaku tetap air. Betapa dalam cahaya matahari. Lalu&lt;br /&gt;Aku menjelajah menapak langit. Tubuhku disapa angin&lt;br /&gt;Lebur mengikuti musim. Bermanja-manja dalam cuaca. Aku&lt;br /&gt;Menunggal dalam udara. Berjalan bersama arakan awan&lt;br /&gt;Aku letih. Menjelma mendung. Aku akan kembali ke kelahiran&lt;br /&gt;Abadi. Maka namaku kini hujan. Aku berjalan. Aku air&lt;br /&gt;Yang kekal dalam tubuh pohon. Aku tidur di akar-akar&lt;br /&gt;Aku juga menjelma bunga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Muhary Wahyu Nurba&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Makassar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jalan Pulang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“semuanya, semuanya telah kuberi&lt;br /&gt;dan kini harus beranjak pergi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untukku janganlah kau terlalu sedih&lt;br /&gt;semasa bersamamu, di musim-musim yang lalu&lt;br /&gt;bukankah kau telah mengajariku kegembiraan puisi&lt;br /&gt;dan membiarkanku menghirup aroma tubuhmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;matahari bangkit menyepuh wajah-wajah pilu&lt;br /&gt;mataku berpijar menyusuri cahaya langit yang terang&lt;br /&gt;sehabis hujan, selepas angin yang biru&lt;br /&gt;di antara harum tarian bunga rumputan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gelisahku pun menjelma bagai sayap kupu-kupu merah&lt;br /&gt;pada senja yang basah rinduku kian bertambah&lt;br /&gt;waktu kusadari tak sepenuhnya bisa kukuasai diriku&lt;br /&gt;kata-kataku bersilangan dan menampakkan kekanakanku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sayang, bantulah aku menemukan jalan pulang&lt;br /&gt;agar aku segera menyisih dari percakapan riuh duniawi&lt;br /&gt;seperti halnya cintaku padamu, telah kurencanakan&lt;br /&gt;sejak mula aku memetik mawar matamu yang sunyi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tubuh-tubuh yang lelah berkilauan di angkasa&lt;br /&gt;berputar-putar dan bernyanyi tanpa suara&lt;br /&gt;sayang, bantulah aku menafsir hakekat ketiadaan&lt;br /&gt;sebagaimana kehidupan dan kematian erat berdampingan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makassar, 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;NF. Muhaiminati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Kebumen)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kartini #3&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak kartini di kampung ini&lt;br /&gt;umumnya mereka bertubuh gembrot&lt;br /&gt;dengan daster kedodoran tanpa lengan&lt;br /&gt;muka berminyak dan bulu ketek bersembulan&lt;br /&gt;duduk berurutan mencari kutu rambut&lt;br /&gt;sambil bercerita pertengkaran tetangga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi ada juga yang duduk melongo dalam warungnya&lt;br /&gt;atau mencuci piring dalam keranjang sampah penuh lalat&lt;br /&gt;umumnya mereka punya betis besar&lt;br /&gt;berwarna gelap berhias varises dan luka bekas garukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan anak-anak mereka yang masih balita&lt;br /&gt;bermain dengan ingus melewati bibir sambil sesekali&lt;br /&gt;menggaruk benjolan di kaki&lt;br /&gt;hingga lelehan nanah berganti lelehan darah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kartini tak melihatnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papringan, Mei 200&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Novieta Dura&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Sleman)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tepung Tawar&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada seseorang seorang belian menghampiri&lt;br /&gt;Bersembunyi di balik kelukaan segala sakit penyakit&lt;br /&gt;Seperti hari ini seseorang mampir sehari pada takdir&lt;br /&gt;Bukan lagi pada belian melainkan pada belian-belian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang selalu meneriakkan abaaba&lt;br /&gt;Tentang rohmati yang tak lagi bernadi&lt;br /&gt;Tetapi&lt;br /&gt;sisasisa sakit selalu menyentuh melalui jampi dan tulahtulah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30 Nov ‘05&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2156930008317982785-4463137870377253105?l=menubul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menubul.blogspot.com/feeds/4463137870377253105/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2156930008317982785&amp;postID=4463137870377253105' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/4463137870377253105'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/4463137870377253105'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menubul.blogspot.com/2010/03/edisi-21.html' title='Edisi 21'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18266239886781897605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/TL7RnaMrAUI/AAAAAAAABcM/oNoOzQriCvA/S220/Potret+Diri+1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2156930008317982785.post-2455510835161809291</id><published>2010-03-31T07:27:00.000-07:00</published><updated>2010-03-31T20:03:40.965-07:00</updated><title type='text'>Edisi 22</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nur Azizah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Jakarta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kalian, Tak Lagi Bernama&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Berhari kupikir puisi apa yang pantas untuk kalian&lt;br /&gt;Seonggok janin yang kita tanam dalam rahim yang kita paksa sama&lt;br /&gt;Akan pergi bersama debu-debu kayu yang membakar jasad Ibrahim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlarut kufahami&lt;br /&gt;Apa yang tak kudapat dari-Nya&lt;br /&gt;Semua&lt;br /&gt;Termasuk kalian&lt;br /&gt;Gemuruh&lt;br /&gt;Muntahan darah&lt;br /&gt;Makian ombak&lt;br /&gt;Layang-layang roh&lt;br /&gt;Menjauh tinggi&lt;br /&gt;Membayangi sunyi dalam suci dan wangi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada lagi&lt;br /&gt;Merdu laut mendayu&lt;br /&gt;Tiada lagi murka, marah, tawa bernama&lt;br /&gt;Semua serba hitam, dan lari, jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan,&lt;br /&gt;Sungguh,&lt;br /&gt;Makna kalian tak terucap&lt;br /&gt;Tersimpan hangat&lt;br /&gt;Dalam sanubari&lt;br /&gt;Yang kian nikmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29 Juni 05&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nur Wahida Idris&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Yogyakarta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tubuh Gaib&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;: olivia Laurent&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;memahamimu&lt;br /&gt;seperti memaknai gerhana&lt;br /&gt;dimana wujud gelap tertangkap&lt;br /&gt;tapi terlepas dari pandangan&lt;br /&gt;dan kau dianggap tak ada&lt;br /&gt;kalau kuberikan kau setangkai bunga&lt;br /&gt;lalu terpegang durinya&lt;br /&gt;apa beda jerit kita ?&lt;br /&gt;mungkin setitik darah&lt;br /&gt;sedetak waktu yang menyerap kepedihan&lt;br /&gt;membuat tubuh kita tak lagi gaib&lt;br /&gt;— kulahirkan seorang anak&lt;br /&gt;kau lahirkan anak wujudmu sendiri&lt;br /&gt;retakan perut dan keratan di dada&lt;br /&gt;jadi garis nasib&lt;br /&gt;membuat angin di raut tubuh&lt;br /&gt;menolak cermin, merajam bayangan&lt;br /&gt;tapi udara di ufuk angan&lt;br /&gt;tak akan terhapus&lt;br /&gt;segala yang tak diinginkan&lt;br /&gt;dan dianggap tak ada&lt;br /&gt;terbit dari mata anak-anak&lt;br /&gt;yang menyusu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sawit-yogya, 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Prakoso Bhairawa Putra S&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Palembang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bercerita Sekawanan Camar &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;;episode Tiga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pagi baru saja bermula bersama kepak sayap sekawanan camar&lt;br /&gt;mengiring nyanyian anak pesisir yang malu&lt;br /&gt;bercengkerama dengan ombak&lt;br /&gt;dan menarikan saman diantara riak gelombang&lt;br /&gt;yang selalu menjilati telapak mungil mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di timur sinar matahari masih satu-dua mencumbui bibir pantai barat Aceh&lt;br /&gt;kepak camarpun terlalu berat buat mengangkasa&lt;br /&gt;tapi interaksi lempeng Indo-Australia dan Eurasia&lt;br /&gt;telah memaksa bocah pantai berlari&lt;br /&gt;mengemasi ikan-ikan yang tak bisa berenang&lt;br /&gt;lantaran air laut tiba-tiba lenyap&lt;br /&gt;“ aku tak bisa mencegah mereka”&lt;br /&gt;seekor camar tersudut hampa memandang&lt;br /&gt;perkampungan nelayan yang kini rata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sekawanan camar coba menerbangkan diri lebih tinggi&lt;br /&gt;butir partikel derita anak tanah rencong&lt;br /&gt;memulai hingga ke langit dan mengirim nyeri keseluruh tubuh&lt;br /&gt;di Meulaboh sekelompok camar kecil berputar&lt;br /&gt;ada ribuan malaikat pengangkut roh di sana&lt;br /&gt;berjaga diantara ratap, tangis dan puing tsunami&lt;br /&gt;siap membuat jiwa putih naik ke surga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;camar mulai tak sanggup bercerita&lt;br /&gt;“ dua generasi hilang”&lt;br /&gt;camar besar terbata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cinta para peri ada di mana&lt;br /&gt;pada laut Aceh dengan kapal induk asing&lt;br /&gt;atau pada tanah perjuangan Cut Nyak Dien&lt;br /&gt;dengan dipadati kamp hijau pengungsian&lt;br /&gt;dan ditiap jengkal bumi serambi&lt;br /&gt;telah sesak oleh kuburan massal&lt;br /&gt;sedang rumah pesisir tak bisa diandalkan&lt;br /&gt;“ camar besar, matahari telah mengirim cahaya&lt;br /&gt;pembasuh tiap rona anak-anak Aceh&lt;br /&gt;daratan telah diluluhlantakkan tapi di hati&lt;br /&gt;mereka tertancap asa keceriaan muda&lt;br /&gt;camar, mari terbang ada yang harus dibangun di sana!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Puput Amiranti N.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Surabaya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menuju Bulan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I.  malam merekam pucat bayangan&lt;br /&gt;suara-suara ketakterhinggaan  &lt;br /&gt;timbul tenggelam, tubuhku menelikung&lt;br /&gt;remuk&lt;br /&gt;oleh keberadaan waktu&lt;br /&gt;hanya mitos-mitos kelelawar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.  mungkin kita saling berciuman&lt;br /&gt;di bawah bulan tak mengenal&lt;br /&gt;tubuh kita perdu terbakar&lt;br /&gt;cahaya-cahaya lalu lalang&lt;br /&gt;menggambar bayangan sendiri&lt;br /&gt;gedung-gedung ingatan pecah di arus matamu&lt;br /&gt;penglihatan yang tak kita yakini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.  kita tak lagi hujan&lt;br /&gt;kita tak lagi sunyi&lt;br /&gt;selain merangkum kemarau bimbang&lt;br /&gt;di patahan ranting, benak kita licin&lt;br /&gt;lebih terjal dari impian bibir musim&lt;br /&gt;sementara pantulan-pantulan gema&lt;br /&gt;kita terbang&lt;br /&gt;terbaring, seperti ular yang baru dijinakkan&lt;br /&gt;tanpa gairah apa-apa&lt;br /&gt;selain bukan keinginan tak berdosa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 2004&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2156930008317982785-2455510835161809291?l=menubul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menubul.blogspot.com/feeds/2455510835161809291/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2156930008317982785&amp;postID=2455510835161809291' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/2455510835161809291'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/2455510835161809291'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menubul.blogspot.com/2010/03/edisi-22.html' title='Edisi 22'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18266239886781897605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/TL7RnaMrAUI/AAAAAAAABcM/oNoOzQriCvA/S220/Potret+Diri+1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2156930008317982785.post-1079373326751819608</id><published>2010-03-31T07:24:00.000-07:00</published><updated>2010-03-31T20:04:25.844-07:00</updated><title type='text'>Edisi 23</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Purhendi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Palembang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rumah Musi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah aku yang kan menjaga&lt;br /&gt;rumah dengan bilah bilah lapuk papan&lt;br /&gt;dan racuk racuk gelam penyangga&lt;br /&gt;begitu sepuh.&lt;br /&gt;waktu telah mengulitinya&lt;br /&gt;bersama bulan dan matahari&lt;br /&gt;dan arus musi setia menggelayut&lt;br /&gt;berkecipak setiap saat.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(angin masih saja gelisah&lt;br /&gt;menanti senja yang resah)    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah aku yang kan menjaga&lt;br /&gt;rumah yang begitu senyap di atas riak&lt;br /&gt;begitu lelah&lt;br /&gt;begitu pasrah&lt;br /&gt;ditanggalkan keabadian sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebilah lading&lt;br /&gt;sebilah lading&lt;br /&gt;masih saja memicingkan matanya !)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Palembang, 26 Juli 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Putu Arya Tirtawirya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Mataram)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Duka Aceh Adalah Duka Kita&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari pertama mengajar&lt;br /&gt;seorang ibu guru berdiri depan kelas&lt;br /&gt;saputangan menempel di kelopakmata :&lt;br /&gt;dua pertiga jumlah bangku, kosong –&lt;br /&gt;tentunya mereka tertindih bangunan rumah&lt;br /&gt;dan hanyut saat banjir bandang airlaut&lt;br /&gt;begitu gempa tektonik disusul gelombang tsunami&lt;br /&gt;melanda wilayah Nanggroe Aceh Darusalam&lt;br /&gt;Anak-anak melongo natap gurunya menangis&lt;br /&gt;kemudian menoleh ke bangku-bangku kosong&lt;br /&gt;mata mereka mengejap dikuyupi airmata&lt;br /&gt;menyadari kematian teman-teman sekelas&lt;br /&gt;sementara masing-masing belum mengetahui&lt;br /&gt;betapa ibu guru kehilangan empat anaknya :&lt;br /&gt;tewas tertimpa runtuhan rumah&lt;br /&gt;tewas tenggelam terseret arus tsunami &lt;br /&gt;                          &lt;br /&gt;                                            **&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Putu Sugih Arta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Mataram)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Taman Sangkareang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Akasara Sang&lt;br /&gt;angka tahun seribu delapan ratus sembilan puluh empat&lt;br /&gt;dalam rekaman pujanggga eropa&lt;br /&gt;bening sungai Jangkok&lt;br /&gt;dibakar sepi&lt;br /&gt; Aksara Bang&lt;br /&gt;pada tahun yang sama&lt;br /&gt;sisa laskar Diponegoro menerjang logam mata pancing&lt;br /&gt;ikan terjerat arus ombak embun&lt;br /&gt;dibilas sepi&lt;br /&gt; Aksara Tang&lt;br /&gt;air Gangga membasuh muka&lt;br /&gt;bait gitanjali menghentak nurani&lt;br /&gt;lereng-lereng Himalaya&lt;br /&gt;dihembus sepi&lt;br /&gt; Aksara Ang&lt;br /&gt;seratus sebelas tahun kemudian, pada bulan kelima&lt;br /&gt;tiga kota terkikis doa:&lt;br /&gt;perempuan-perempuan terbujur air mata&lt;br /&gt;ratapi matahari tenggelam pada  muara      Nya&lt;br /&gt;tinggalkan siluet semu&lt;br /&gt;tentang rindu aliran air&lt;br /&gt;yang membasahi sawah-sawah dan ladang petani&lt;br /&gt; Aksara Ing&lt;br /&gt;amtenar kota dan buruh lading memaki nasib&lt;br /&gt;berkolaborasi dengan syahwat&lt;br /&gt;membunuhi pohon-pohon demi sesuap nasi impor&lt;br /&gt;tiada mengaca pada waktu : dulu, kini dan nanti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aksara Nang&lt;br /&gt;bunga-bunga kelahiran&lt;br /&gt;temui batu nisan&lt;br /&gt;antara mata&lt;br /&gt; Aksara Mang&lt;br /&gt;o, tiada lagi pelangi pada gemericik air&lt;br /&gt;tiada lagi rembulan pada beningnya&lt;br /&gt;hanya batu dan pasir muntahan Rinjani&lt;br /&gt;menyeruak jati diri yang hampa makna&lt;br /&gt;menganga di palung sungai&lt;br /&gt; Aksara Sing&lt;br /&gt;kisah taman sangkareangku&lt;br /&gt;hanya jerit ruas bambu&lt;br /&gt;pernah tumbuh pada hamparan abrasi pantai&lt;br /&gt;saat transformasi kekal membelai akar-akar Rinjani&lt;br /&gt; Aksara Wang&lt;br /&gt;Ancar, Jangkok dan Gangga menyatu pada samudera&lt;br /&gt;kabari semua yang hidup :&lt;br /&gt;“dasar bumi tak pernah sabar manuai berkah”&lt;br /&gt; Aksara Yang&lt;br /&gt;somasi hanya pada pagi&lt;br /&gt;saat sayap merpati mewariskan gelombang kasih&lt;br /&gt;pada perilaku mahluk Tuhan&lt;br /&gt;ikhlas dibuai paradoks retorika basi&lt;br /&gt; Aksara Aum&lt;br /&gt;akhirnya, semua nikmati sengggama :&lt;br /&gt;air&lt;br /&gt; api&lt;br /&gt;angin&lt;br /&gt;Tuhan jebak aku dalam pusaran sungai Mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataram, 10 Mei 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;R. Hamsyah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Banten)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Catatan Ayah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan kau terlahir kembali&lt;br /&gt;sebagai diriku&lt;br /&gt;sebagai biji-biji batu&lt;br /&gt;sebagai buah dari kenangan&lt;br /&gt;              &lt;br /&gt;aku mencari jejak lampau&lt;br /&gt;dimana kau belajar pada hujan&lt;br /&gt;mengakrapi wangian tanah&lt;br /&gt;memanggil-manggil nenek moyang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;adakah ibu tercipta&lt;br /&gt;dari sepi ?&lt;br /&gt;dan kau lahir mengisi ruang-ruang kosong&lt;br /&gt;menjadi catatan pertamaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banten, Desember 2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2156930008317982785-1079373326751819608?l=menubul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menubul.blogspot.com/feeds/1079373326751819608/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2156930008317982785&amp;postID=1079373326751819608' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/1079373326751819608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/1079373326751819608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menubul.blogspot.com/2010/03/edisi-23.html' title='Edisi 23'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18266239886781897605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/TL7RnaMrAUI/AAAAAAAABcM/oNoOzQriCvA/S220/Potret+Diri+1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2156930008317982785.post-1327380825459793935</id><published>2010-03-31T07:21:00.000-07:00</published><updated>2010-04-03T07:51:27.705-07:00</updated><title type='text'>Edisi 24</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ragdi F. Daye&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Padang)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mencari Mak&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencari mak di lekuk kota&lt;br /&gt;Obituari berjatuhan di singkapan kainmu&lt;br /&gt;Memintaku mengukir cinta ringan&lt;br /&gt;Gelembung air sabun plaza plaza&lt;br /&gt;Melintangkan betisnya&lt;br /&gt;Mak tak tampak kucari di lorong lorong&lt;br /&gt;Lengket cerita lama bau parfum sangit bau lado&lt;br /&gt;dan bawang putih mak mencari di mata penjaga toko&lt;br /&gt;Bioskop lift abu abu agen perjalanan&lt;br /&gt;Mak mak mak kudengar gemericik Yaasiin&lt;br /&gt;Bertemperasan musik hip hop&lt;br /&gt;Pejabat baru panggilan telepon yang basah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencari mak di balik etalase obat&lt;br /&gt;Masuk angin dan terlambat datang bulan&lt;br /&gt;Berkeretap di telapak orang-orang berkulit mamalia&lt;br /&gt;Celoteh gadis gadis wangi plastik&lt;br /&gt;Counter masakan lezat liur babi&lt;br /&gt;Mencari mak di kolong kangkang kaca kaca&lt;br /&gt;Di lapak bau jengkol&lt;br /&gt;Ceceran keringat&lt;br /&gt;Semilir doa doa mata penjual ikan asin&lt;br /&gt;Lado dan tomat tomat membusuk&lt;br /&gt;Hanya air mata mak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Padang, 2005)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rahmatiah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Banjarbaru)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perempuan Yang Mencintai Kunang-Kunang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teringat Ibu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia perempuan yang selalu meletakkan lelampu&lt;br /&gt;          Di belakang pintu&lt;br /&gt;Lalu kemudian pergi setelah menidurkan gerimis&lt;br /&gt;Yang tergenang di anak rambutmu&lt;br /&gt;          Setelah bercerita&lt;br /&gt;Ada kunang-kunang terjebak di rendaman aurmata&lt;br /&gt;Dan tak sempat lagi meneukan lorong cahaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuab itukah yang dulu pernah menjelajah gelisahmu ?&lt;br /&gt;Menangisi bau rambutmu&lt;br /&gt;Meniupkan selembar rindu yang setiap malam&lt;br /&gt;Meriap di atap-atap&lt;br /&gt;Sebab rumah adalah tempat menumbuhkan kenangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi&lt;br /&gt;Mungkin perempuan itu kini pun telah menjadi batu&lt;br /&gt;                                        Dalam sumur ingatanmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banjarbaru,Januari 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ramayani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Jambi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Aku Ingin Mencium Bau Adam&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin mencium bau adam&lt;br /&gt;Dalam birahi yang selalu perkasa&lt;br /&gt;Membentang dada menyambutku dalam pelukan hangat&lt;br /&gt;Dan segalanya  akan menjadi begitu indah&lt;br /&gt;Rona mawar tersungging dibibirku&lt;br /&gt;Menyusun rapi harapan harapan baru&lt;br /&gt;Tak mesti lelah dalam berhayal melulu&lt;br /&gt;Aku menanti waktu yang tertunda&lt;br /&gt;Dimana bendera kebersamaan yang abadi berkibar perkasa&lt;br /&gt;Disetiap jalan&lt;br /&gt;Cinta memang tak selamanya pahit,tak selamanya  indah&lt;br /&gt;Dan juga tak selamanya membingungkan&lt;br /&gt;Cinta hanya  pantas dijalani bagi manusia&lt;br /&gt;yang selalu ingin berbagi kesempatan&lt;br /&gt;dan selalu  ingin melengkapi hidup&lt;br /&gt;karna kita tak pernah selalu sempurna&lt;br /&gt;bau adam dan hawa  akan selalu pasti dalam cinta&lt;br /&gt;akan selalu pasti pada sebuah ikatan bathin&lt;br /&gt;yang dipersatukan dari segala kekurangan dan kepercayaan&lt;br /&gt;aku ingin mencium bau adam&lt;br /&gt;dari sebuah kenyataan&lt;br /&gt;bahwa cinta itu memang nyata adanya&lt;br /&gt;dan selalu bermekaran dihati&lt;br /&gt;hingga pantas untuk selalu dikenang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bohemian Jambi, Dec 23,2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rara Gendis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Jakarta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Doa Terakhir Perempuan Rapuh&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan, ribuan telapakku telah membekas&lt;br /&gt;diusiaku yang kemarin&lt;br /&gt;bayanganku sudah lelah bergayut sebagai teman&lt;br /&gt;kesendirian yang kucicipi jadi selezat roti dan&lt;br /&gt;           anggur yang nikmat&lt;br /&gt;aku telah kenyang dan hampir muntah&lt;br /&gt;dijejali tuba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan, kapan Kau berhenti mencipta lelaki&lt;br /&gt;mungkin Kau sudah lupa&lt;br /&gt;siapa dari mereka yang&lt;br /&gt;iganya adalah aku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan, sudahlah&lt;br /&gt;kini darahku kering&lt;br /&gt;rasaku menghilang …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok hari, perempuan itu terpejam kaku&lt;br /&gt;ada senyum dalam tidur panjangnya&lt;br /&gt;: seorang adam menemukan&lt;br /&gt;belahan iganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taman Ismail Maszuki, Jakarta&lt;br /&gt;17 Nov 2004&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2156930008317982785-1327380825459793935?l=menubul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menubul.blogspot.com/feeds/1327380825459793935/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2156930008317982785&amp;postID=1327380825459793935' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/1327380825459793935'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/1327380825459793935'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menubul.blogspot.com/2010/03/edisi-24.html' title='Edisi 24'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18266239886781897605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/TL7RnaMrAUI/AAAAAAAABcM/oNoOzQriCvA/S220/Potret+Diri+1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2156930008317982785.post-6398337614885515749</id><published>2010-03-31T07:09:00.000-07:00</published><updated>2010-03-31T20:08:36.047-07:00</updated><title type='text'>Edisi 25</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Raudal Tanjung Banua&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Yogyakarta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kami Bertukar Kisah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Di Ujung Puntung Kenangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kami bertukar kisah&lt;br /&gt;di ujung puntung&lt;br /&gt;kenangan. Kalau untung&lt;br /&gt;kami bertemu sisa bara&lt;br /&gt;guratan retak telapak tangan&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Atau abu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;sia-sia kami genggam.&lt;br /&gt;Begitulah kami mengais&lt;br /&gt;dalam abu&lt;br /&gt;dengan perih luka tersiram&lt;br /&gt;Dan ketika kami dapatkan&lt;br /&gt;bara nyala di masing mata&lt;br /&gt;Tak ada lagi yang kami pinta&lt;br /&gt;selain buta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab retak untung terlanjur bicara&lt;br /&gt;Puntung dan abu tak mungkin kembali kayu&lt;br /&gt;di rimba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kami tinggal bertukar kisah&lt;br /&gt;dalam kelam buta. Dan terasa&lt;br /&gt;puntung padam&lt;br /&gt;kembali nyala&lt;br /&gt;Tangan kami&lt;br /&gt;terasa bara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pun kekal&lt;br /&gt;dalam dendang harap si kisah lama:&lt;br /&gt;Kalau tak untung di hidup nyata&lt;br /&gt;di gaib hidup kita berjumpa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta, 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rian Angkasa Pinem&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Bandung)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Semalam Cahaya Surut&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maafkan, bila purnama muram&lt;br /&gt;sukmaku di hujam panah malam&lt;br /&gt;sisa hujan selalu membungkam&lt;br /&gt;terbayang ruang sunyi mengancam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;peristiwa alam adalah mutiara&lt;br /&gt;saat kerinduan memuncak di udara&lt;br /&gt;ada getar pertemuan yang bermuara&lt;br /&gt;tapi kehinaan semakin nyaring bersuara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;adakah tumpahan cinta bagi keterasingan&lt;br /&gt;perjalanan tak selesai dalam hitungan&lt;br /&gt;hingga luka tak henti bergandengan&lt;br /&gt;kupercaya do’a sebagai nadi kenangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kita bersama mewarnai lukisan dunia&lt;br /&gt;membingkai catatan waktu yang tersedia&lt;br /&gt;dengan ketulusan langkah begitu setia&lt;br /&gt;menatap esok bersama bidadari yang ceria&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tetaplah tersenyum saat kematian tiba&lt;br /&gt;walau sejagad resah terus meraba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kobong Sunyi, 26 Pebruari 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rizki Sharaf&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Bandung)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tangis Pengemis&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Airmata mengalir&lt;br /&gt;jadi air bah.&lt;br /&gt;Semua hanyut&lt;br /&gt;oleh kesakitan anak kecil&lt;br /&gt;yang hilang bapak-ibunya,&lt;br /&gt;bergayut pada kaleng kosong&lt;br /&gt;sebagai sampan&lt;br /&gt;penadah rupiah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uang tak bisa hentikan tangisan Tuan!&lt;br /&gt;Silakan berlalu-lalang&lt;br /&gt;bersama dompet yang enggan&lt;br /&gt;melepas lajang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tidak untuk dipandang,&lt;br /&gt;tapi untuk direnungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandung,  2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rohadi Noor&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Kudus)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Silhouette&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; : M&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kegelisahan yang menancap di matamu&lt;br /&gt;adalah usia yang mengendap-endap&lt;br /&gt;menerjemahkan waktu yang mengalir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pokok-pokok tanjung di halaman&lt;br /&gt;tempat kau belenggu hatimu telah usai berbuah&lt;br /&gt;sementara engkau terus menunggu bunganya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(merpati yang engkau lepas kemarin&lt;br /&gt;mengapa juga tak kunjung pulang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu cinta,&lt;br /&gt;cuma terlipat di celana&lt;br /&gt;menebak birahi yang meronta-ronta&lt;br /&gt;menerkammu dari segala penjuru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gadis yang selalu muncul di dalam mimpi&lt;br /&gt;menjelma perempuan renta&lt;br /&gt;karena tak pernah kau sapa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tangismu pecah bersama gerimis&lt;br /&gt;pucuk-pucuknya menjelma anak panah&lt;br /&gt;yang memasuki belantara hatimu&lt;br /&gt;terus dan terus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;adakah senyum itu kemenangan atas sakit&lt;br /&gt;atau kau terlalu bodoh&lt;br /&gt;membaca bayangmu sendiri !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekalongan,  29 Juli 2003&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2156930008317982785-6398337614885515749?l=menubul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menubul.blogspot.com/feeds/6398337614885515749/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2156930008317982785&amp;postID=6398337614885515749' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/6398337614885515749'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/6398337614885515749'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menubul.blogspot.com/2010/03/edisi-25.html' title='Edisi 25'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18266239886781897605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/TL7RnaMrAUI/AAAAAAAABcM/oNoOzQriCvA/S220/Potret+Diri+1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2156930008317982785.post-6124828048390905024</id><published>2010-03-31T07:07:00.000-07:00</published><updated>2010-03-31T20:09:53.976-07:00</updated><title type='text'>Edisi 26</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rosni Idham&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Aceh)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bunga Setaman&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(kepada anak-anakku korban tsunami)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini&lt;br /&gt;Ketika aku memandang orang-orang memetik bunga di taman&lt;br /&gt;Lalu meletakkannya di air kolam yang mengalir jernih&lt;br /&gt;Dan mengalir seiring senyum semekar sukma&lt;br /&gt;Berdegup aku tiba-tiba&lt;br /&gt;Bergoncang kencang dada gemuruh&lt;br /&gt;Telah gugur bunga-bungaku yang tumbuh&lt;br /&gt;Di bawah siraman alir peluh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;Sinar kesadaran menyentak jiwa&lt;br /&gt;Engkau titipkan bunga-bunga itu&lt;br /&gt;Sebagai amanah atas kepercayaan Mu&lt;br /&gt;Kewajibanku memelihara dan memupuknya&lt;br /&gt;Dengan siraman kasih segenap cinta&lt;br /&gt;Hari demi hari bunga-bungaku tumbuh mekar&lt;br /&gt;Harumnya menebar&lt;br /&gt;Dalam pelukan manik embun yang segar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunga setaman, wahai ….&lt;br /&gt;Mengalirlah bersama kebeningan air mata kami&lt;br /&gt;Tersenyumlah bersama keagungan cinta illahi&lt;br /&gt;Menziarahimu dengan rangkaian do’a&lt;br /&gt;Butir hujan adalah kain kafan&lt;br /&gt;Hanya yang Maha Tahu yang kenal pusaramu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunga-bungaku, wahai …&lt;br /&gt;Disisinya engkau adalah kesuma&lt;br /&gt;Damailah dalam pelukan Kasihnya&lt;br /&gt;Ikhlas kami melepas&lt;br /&gt;Selamat jalan bunga-bungaku&lt;br /&gt;Di gapura Syurga kita bertemu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meulaboh, 26 Januari 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ryan Rachman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Kebumen)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Drama Tiga Babak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Babak I&lt;br /&gt;Kemarin lusa, Turiman membersihkan sangkar Si Bejo,&lt;br /&gt;seekor perkutut kesayangan majikannya, dengan hati&lt;br /&gt;gelisah.  Sebab, dia mendapat kabar dari tetangganya jika&lt;br /&gt;Sapto, anak bungsunya, dibawa ke rumah sakit karena&lt;br /&gt;demam berdarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Babak II&lt;br /&gt;Kemarin, Turiman tidak masuk kerja karena harus&lt;br /&gt;memanggul keranda yang di dalamnya terbaring mayat&lt;br /&gt;Sapto yang mati kemarin malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Babak III&lt;br /&gt;Hari ini,  Turiman tidak masuk kerja lagi karena dipecat&lt;br /&gt;majikannya tadi pagi.  Sebab,  Si Bejo meninggal, karena lupa&lt;br /&gt;dimandikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Purwokerto,  2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;S. Yoga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Ngawi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kitab Kehidupan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak ada rasa sesal&lt;br /&gt;dan ketakutan yang nyata&lt;br /&gt;semua aku jalani dari muasal&lt;br /&gt;seperti binatang mencari mangsa&lt;br /&gt;dogma dogma telah aku lupakan tanpa kesal&lt;br /&gt;yang ada hanya perasaan menjebak seolah sabda&lt;br /&gt;kematian hanya duri yang menancap kekal&lt;br /&gt;rasa sayur menjadi hambar tanpa mantra&lt;br /&gt;telah kubuka semua kitab yang bermanfaat tanpa kuhapal&lt;br /&gt;namun semua tak bisa melupakan luka&lt;br /&gt;dan kebencian pada hidup yang dangkal&lt;br /&gt;kini telah musnah menjadi getaran tak teraba&lt;br /&gt;pendulum malam telah memupus semua impian yang terpental&lt;br /&gt;kenangan menjadi neraka menuju surga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ibarat lumpur kaulah air yang mengalir ke hilir&lt;br /&gt;sejak subuh telah kuserahkan sajadah panjang&lt;br /&gt;aku ingin bertempur dalam cahaya langit&lt;br /&gt;yang menusuk-nusuk ini&lt;br /&gt;ingin kukuak rahasia yang terkandung&lt;br /&gt;hingga penasaran ini mati&lt;br /&gt;rasanya hidup hanya buang buang waktu&lt;br /&gt;tanpa rasa yang menjelma dan rindu&lt;br /&gt;menuju tempat perjanjian di altar semesta&lt;br /&gt;ikan ikan telah terbakar dalam gairah malam&lt;br /&gt;bersama para nelayan di ujung pantai&lt;br /&gt;jalur perahu dan jalan angsa&lt;br /&gt;rasa nikmat telah lenyap sejak cecap pertama&lt;br /&gt;tertuang pias di atas kuah kehidupan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang kucari hanya rasa nikmat&lt;br /&gt;yang tak terganti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rasakan manis garam kehidupan&lt;br /&gt;seperti melumat bayang bayang&lt;br /&gt;wajah kekasih yang pergi&lt;br /&gt;saat saat ada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;memang seolah boneka&lt;br /&gt;yang abadi&lt;br /&gt;patung purba yang dipuja&lt;br /&gt;saat saat tiada&lt;br /&gt;memang seolah bantal guling&lt;br /&gt;yang fana&lt;br /&gt;patung kenangan yang mendera dan mentakik&lt;br /&gt;seolah suara malam yang menusuk&lt;br /&gt;dan kau khusuk&lt;br /&gt;di langgar mengeja alif&lt;br /&gt;aku duduk di bawah meja&lt;br /&gt;mencuri pandang dengan doa&lt;br /&gt;rasa kepergian hanya sesat sesaat&lt;br /&gt;yang membekas hingga sekarat&lt;br /&gt;kini kueja diri sendiri&lt;br /&gt;di rumah tua&lt;br /&gt;karena dosa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;paginya kubuka kitab kehidupan&lt;br /&gt;kutelusuri lading lading luas tak bernama&lt;br /&gt;semak belukar dan Lumpur Lumpur kematian&lt;br /&gt;petir perang, puing, kuburan dan bencana air mata&lt;br /&gt;tak kutemukan perasaan yang satu&lt;br /&gt;sejengkal tanah ini apa gunanya aku injak&lt;br /&gt;bila pedih terus mengeram dan mendera&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seperti sepur tua memasuki stasiun&lt;br /&gt;ah rasanya aku hanya penumpang yang tertinggal&lt;br /&gt;di stasiun terakhir tanpa karcis&lt;br /&gt;bila waktunya tiba jemputlah aku&lt;br /&gt;di malam yang terakhir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gelap bila kulihat siang&lt;br /&gt;dan terang bila kuberada dalam gelap&lt;br /&gt;dapat kulihat wajah bulan di atas&lt;br /&gt;meski tanggal muda&lt;br /&gt;semua tak terbayangkan&lt;br /&gt;wajah wajah sayu menemuiku di setiap jalan&lt;br /&gt;hanya bayang bayang yang berwajah ganda&lt;br /&gt;baju baju baru tak pernah kupakai&lt;br /&gt;hanya kenangan yang ingin kukenakan&lt;br /&gt;asin rasa garam tapi terasa manis di mulut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ketika kau hidangkan sepiring nasi kehidupan&lt;br /&gt;yang terbayang hanya sekelumit demit&lt;br /&gt;senyum terkulum seolah doa yang gaib&lt;br /&gt;kini bayang bayang gelap selalu menghantui&lt;br /&gt;kemana langkah hijauku tertuju&lt;br /&gt;seiring kepergianmu yang tak berbekas&lt;br /&gt;cinta memang manis bila di dekatnya&lt;br /&gt;tapi sepahit empedu bila mengenangnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kepergian yang sempurna dan punah&lt;br /&gt;bila kau tak pernah berpamitan dan istirah&lt;br /&gt;dan kepergian yang terburuk dan sesat&lt;br /&gt;bila kau mencuri kenanganku yang lekat&lt;br /&gt;dan tak terlupakan&lt;br /&gt;jangan sebut ini dusta&lt;br /&gt;bila kau memandangku seperti tugu mati&lt;br /&gt;perasaan tak bisa ditipu dan ditiru&lt;br /&gt;dan kenangan hanya kejahatan kecil&lt;br /&gt;yang tersembunyi dalam kehidupan ruhani&lt;br /&gt;kematian hanya jembatan yang terbentang&lt;br /&gt;di antara batas impian yang belum tergapai&lt;br /&gt;yang kelak akan bertemu di muara api&lt;br /&gt;kabut pagi seperti akan menjemput&lt;br /&gt;seseorang atau mungkin panji panji&lt;br /&gt;segelas kopi di beranda&lt;br /&gt;sambil memandangmu&lt;br /&gt;yang jauh tak bersauh&lt;br /&gt;terpana tanpa busana &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebusuk  inikah rencanamu&lt;br /&gt;menemuiku di saat aku melupakanmu&lt;br /&gt;jalan jalan masih berjelaga dan berkabut&lt;br /&gt;sedang malam kelam segera menjemput&lt;br /&gt;tak ada ramah roti&lt;br /&gt;segelas kopi telah tandas&lt;br /&gt;kesepian menjadi akut yang maut&lt;br /&gt;disaksikan cicak yang memandang&lt;br /&gt;tanpa pejam yang rejam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seolah kenangan dangkal terpasang&lt;br /&gt;di dinding rumah berbingkai kayu randu&lt;br /&gt;kepalsuan yang ringkih&lt;br /&gt;surat surat tak terbalas dalam setahun&lt;br /&gt;di sore hari anjingku yang patuh&lt;br /&gt;telah berlarian di antara ilalang panjang&lt;br /&gt;mengejarku di tubir jurang&lt;br /&gt;menyaksikan kenangan yang terperosok&lt;br /&gt;ke dasar lembah merah&lt;br /&gt;kuhadapkan wajah di beranda rumah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sesosok wajah jahat penuh rajah&lt;br /&gt;telah memahat hatiku yang membatu&lt;br /&gt;rambutnya tergerai&lt;br /&gt;seperti peri&lt;br /&gt;atau ilahi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setelah peristiwa itu&lt;br /&gt;ingin kupastikan perasaan hatiku yang luput&lt;br /&gt;apakah aku masih milikmu&lt;br /&gt;kepercayaan kepercayaanku yang purba&lt;br /&gt;telah longsor menghadapi kenyataan cacat&lt;br /&gt;debu debu kehidupan berjaket biru&lt;br /&gt;telah menyelimuti tubuhku&lt;br /&gt;ingin kupastikan lagi&lt;br /&gt;apakah aku masih milikmu&lt;br /&gt;seperti apakah perasaanmu terbuat&lt;br /&gt;sehingga kau selalu menerima diriku&lt;br /&gt;dan maaf yang berulang ulang&lt;br /&gt;hanya satu kesalahanku&lt;br /&gt;mencarimu dalam rawa-rimba-gelap&lt;br /&gt;dengan mambang dan banaspati&lt;br /&gt;roh halus yang tulus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;besok jemputlah aku&lt;br /&gt;di dermaga pertama&lt;br /&gt;bila semua ini telah berakhir&lt;br /&gt;rumah telah kudirikan sebelum karam&lt;br /&gt;doa doa telah kusempurnakan sebelum dusta&lt;br /&gt;ladang ladang telah kugarap sebelum musnah&lt;br /&gt;sebagaimana sirkus kehidupan&lt;br /&gt;jalan jalan telah kumaknai sebelum terluka&lt;br /&gt;atas peristiwa yang medera&lt;br /&gt;semua kerabat telah kudatangi sebelum kebencian&lt;br /&gt;tapi perasaan ini tak terselesaikan&lt;br /&gt;bayang bayang kekhawatiran&lt;br /&gt;menjadi kasat mata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hanya bayang bayang yang dapat kukejar&lt;br /&gt;dan kueja dalam penyamaran&lt;br /&gt;samar  samar wajahmu yang kekal dan berjamak rupa&lt;br /&gt;selalu menghantui jalan pikiran&lt;br /&gt;kemanapun aku berada dalam duka rindu dan bahagia racun&lt;br /&gt;bila cintamu murni 24 karat&lt;br /&gt;tunjukan padaku wajah yang asli&lt;br /&gt;tanpa topeng dan samadi&lt;br /&gt;aku manusia perasa&lt;br /&gt;mau menerima apa adanya&lt;br /&gt;bila telah kujatuhkan pilihan&lt;br /&gt;keyakinanku akan tenggelam dan mati&lt;br /&gt;bersama jasad yang tak berguna ini&lt;br /&gt;bila waktunya tiba&lt;br /&gt;dengan apa aku harus menjemputmu&lt;br /&gt;sedang peta sudah lupa akan batas&lt;br /&gt;bila kau datang tiba tiba&lt;br /&gt;seret aku dalam ketelanjangan imanku&lt;br /&gt;yang buta ini&lt;br /&gt;pulang&lt;br /&gt;ke rumah&lt;br /&gt;mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumenep, 2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2156930008317982785-6124828048390905024?l=menubul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menubul.blogspot.com/feeds/6124828048390905024/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2156930008317982785&amp;postID=6124828048390905024' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/6124828048390905024'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/6124828048390905024'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menubul.blogspot.com/2010/03/edisi-26.html' title='Edisi 26'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18266239886781897605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/TL7RnaMrAUI/AAAAAAAABcM/oNoOzQriCvA/S220/Potret+Diri+1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2156930008317982785.post-5753940584969897534</id><published>2010-03-31T07:02:00.000-07:00</published><updated>2010-03-31T20:10:55.640-07:00</updated><title type='text'>Edisi 27</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Saad Toyib&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Pulau Bangka)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Di Siang Itu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di siang itu&lt;br /&gt;Cuaca terang&lt;br /&gt;Angin kencang&lt;br /&gt;Debu-debu beterbangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang jalan&lt;br /&gt;Terdapat hamparan sampah berserakan&lt;br /&gt;Seperti kota tua yang terbuang&lt;br /&gt;Ditinggalkan penghuninya menghilang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang tua manatap lantang&lt;br /&gt;Dengan mata yang jalang&lt;br /&gt;Di hadapannya membentang&lt;br /&gt;Jalan luas dan panjang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikirannya menerawang&lt;br /&gt;Jauh melayang&lt;br /&gt;Kapankah akan datang&lt;br /&gt;Waktu yang luang&lt;br /&gt;Membenahi kota yang telah terbuang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih terasa dalam pikirannya&lt;br /&gt;Masa jaya kota tua&lt;br /&gt;Yang menjadi tumpuannya&lt;br /&gt;Untuk menapak hari esok&lt;br /&gt;Yang lebih bahagia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pangkalpinang, 1 Agustus 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Saff Muhtamar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Makassar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Merobohkan Rumah Tuhan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia telah membangun rumahnya sendiri dengan dindin-&lt;br /&gt;dinding teori ilmu, menopangnya dengan batu bata eksperimen&lt;br /&gt;dan penelitian dan atapnya disanggah dengan balok-balok akal&lt;br /&gt;yang merdeka dari selain dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia telah membangun peradabannya dari keringat alam&lt;br /&gt;yang telah diikat sebagai budak dalam istana pengetahuan&lt;br /&gt;dan harus melayani seluruh hasrat mewah dari tubuh-tubuh&lt;br /&gt;yang telah dimesinkan oleh teknologi secara total.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia telah hidup mewah dalam istana akalnya yang berdiri&lt;br /&gt;megah mengangkang di atas rintihan alam yang dipaksa menjadi&lt;br /&gt;pelacur di ranjang-ranjang para raja yang selalu aman dalam&lt;br /&gt;perlindungan para serdadu berseragam harimau liar padang tandus&lt;br /&gt;dan deretan senjata yang bersiaga dengan otak elektronik.               &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia dengan kekuasaan yang diramu biji-biji debu yang&lt;br /&gt;berkeliaran telah merobohkan rumah tuhan karena suara-suara&lt;br /&gt;mendendangkan keabadian dari menara dan lonceng-lonceng&lt;br /&gt;suci hanya mengganggu tidurnya pada waktu pagi dan pada&lt;br /&gt;waktu petang.               &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Samsuddin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Aceh)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kuluahkan Perasaanku Padamu Tuhan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ku ucapkan kata, terasa sulit tuk kuungkapkan pada-Mu&lt;br /&gt;Biarlah kan ku ukir, ringkai hati yang rindu akan keagungan-Mu&lt;br /&gt;Ingin kujadikan sebuah cerita dalam memori hidupku&lt;br /&gt;Kucurahkan semua perasaan, jadikan harapan tuk bertemu dengan-Mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keagunganmu, mampu sejukkan jiwaku&lt;br /&gt;Rahmatmu, hilangkan gelisah dalam kalbu&lt;br /&gt;Tuhan teriring do’a, ku panjatkan jua pada-Mu&lt;br /&gt;Satukanlah jiwa ini, yang rindu akan surga-Mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kutatap bumimu, dan ketika kudengar keagungan-Mu&lt;br /&gt;Sering hati ini menangis untuk-Mu&lt;br /&gt;Seakan diri ini terlukiskan rindu, dan selalu mengharapkan rahmat-Mu&lt;br /&gt;Hasrat hati betapa ingin mengagungkan-Mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga terpancar dalam sanubariku&lt;br /&gt;Betapa ku ingin memuji-Mu&lt;br /&gt;Tuhan dengarkan do’aku untuk-Mu&lt;br /&gt;Cukuplah cintamu, dan kesetiaanku pada-Mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andainya engkau terima sujudku&lt;br /&gt;Dan takkan mungkin kau menolak hasratku pada-Mu&lt;br /&gt;Biarlah semuanya, kucurahkan dalam do’aku&lt;br /&gt;Tuhan bentengilah hamba ini dengan nikmat-Mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah keseharianku, terasa kaku dalam ketiadaan-Mu&lt;br /&gt;Dan betapa aku ingin, hadirmu selalu ada disisiku&lt;br /&gt;Namun biarlah semuanya kuserahkan pada-Mu&lt;br /&gt;Dan jadikanlah hamba ini orang yang beriman pada-Mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banda Aceh, 10 Maret 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sarabunis Mubarok&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Tasikmalaya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Alif Minor&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Galaksi bima sakti, beribu-ribu tahun yang berat,&lt;br /&gt;bumi telah melahirkan bayi luka, bagi penyair&lt;br /&gt;yang memelihara kata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassyuaraau yattabiuhumul ghaawuun! *)&lt;br /&gt;Dan para penyair itu diikuti oleh orang-orang sesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah aku, rumah singgah bagi segala&lt;br /&gt;kesesatan, jembatan beribu syetan yang berbaris&lt;br /&gt;dalam pikiran. Adalah aku, ladang bagi segala&lt;br /&gt;benih ketabuan, bagi segala bisikan yang berbuih,&lt;br /&gt;menajamkan segala tuah, memburu satu-satunya&lt;br /&gt;mata air, sumur yang mengalirkan puisi-puisi yang&lt;br /&gt;lapar dan memar, yang tegang dan mengerang, yang&lt;br /&gt;diburu dan dicemburu para pecundang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi seratus tahun sunyi, sebilah puisi menyaingi&lt;br /&gt;doa-doa, meyiksa para pecinta, dan menggiringnya&lt;br /&gt;menuju sejatinya kehidupan dan kematian.&lt;br /&gt;Bagi sekejap ajal, segala kata memantul dan&lt;br /&gt;menggandakan diri sendiri, meremukkan risau&lt;br /&gt;dan segala yang memukau, menjelma benih-benih&lt;br /&gt;puisi yang dikafani retorika dan ribuan basa-basi.&lt;br /&gt;Lalu aku menjadi rasul bagi ayat-ayat yang tak&lt;br /&gt;terkitabkan, bagi jalan-jalan yang tak tersinggahi dan&lt;br /&gt;tak terpetakan, bagi zaman yang disandera dan&lt;br /&gt;dikokang dalil-dalil kefakiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singaparna, 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) QS. As-Syuara: 224&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2156930008317982785-5753940584969897534?l=menubul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menubul.blogspot.com/feeds/5753940584969897534/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2156930008317982785&amp;postID=5753940584969897534' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/5753940584969897534'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/5753940584969897534'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menubul.blogspot.com/2010/03/edisi-27.html' title='Edisi 27'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18266239886781897605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/TL7RnaMrAUI/AAAAAAAABcM/oNoOzQriCvA/S220/Potret+Diri+1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2156930008317982785.post-7771742048693527053</id><published>2010-03-31T06:58:00.000-07:00</published><updated>2010-03-31T20:14:59.060-07:00</updated><title type='text'>Edisi 28</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Saut Situmorang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Yogyakarta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Air, Air Di Mana Mana Cuma Airmata&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;tiba tiba saja langit roboh,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jadi laut, tumpah ke mana mana,&lt;br /&gt;ke kota kota, ke kampung kampung&lt;br /&gt;menghantam segalanya&lt;br /&gt;memusnahkan segalanya –&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hanya separoh memori,&lt;br /&gt;ribuan kuburan tak bernisan,&lt;br /&gt;lumpur amis asin di peta sobek tak terbaca,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang ditinggalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air, air di mana mana&lt;br /&gt;tapi Cuma airmata...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kota dan kampung binasa&lt;br /&gt;hanya berkubur lumpur&lt;br /&gt;bernisan gelombang&lt;br /&gt;batu batu karang duka maha duka&lt;br /&gt;monumen khianat samudera yang tak setia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air, air di mana mana&lt;br /&gt;tapi Cuma airmata...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ribuan mata yatim piatu,&lt;br /&gt;setajam sembilu,&lt;br /&gt;lebih lara dari zikir tasbih segala ulama,&lt;br /&gt;lebih luka dari segala airmata doa,&lt;br /&gt;menuntutMu,&lt;br /&gt;ke manapun Kau berlalu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jogja, 3 Feb 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sedopati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Yogyakarta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Malam Itu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu kta terakhir berhasil kau sematkan&lt;br /&gt;dalam sajakmu. Dan kemudian kau tutup buku&lt;br /&gt;harianmu. Seketika bayang menyelinap&lt;br /&gt;mengendap-endap ke luar selimutmu. Meloncat&lt;br /&gt;dari mimpimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di halaman rumahmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang menghardik deru nafasmu. Ada&lt;br /&gt;yang mendahului kerlip matamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat, saat angin membasuh menyepuh&lt;br /&gt;isi malam dan dingin merapat. Sekelompok&lt;br /&gt;kelopak bunga mengepak merekah. Sendiri;&lt;br /&gt;sehelai daun mengeleyang rebah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yk, oktober 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Shantined&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Balikpapan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Di Kamar 308&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;( I )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hening&lt;br /&gt;Hanya lamat lamat suara lambung&lt;br /&gt;Dan dzikir terselubung&lt;br /&gt;Oleh amuk enzim&lt;br /&gt;Yang bah di tubuhku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini kota asing&lt;br /&gt;Kenapa musti disini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku teringat  pulang&lt;br /&gt;Betapa harum pesing anakku diranjang&lt;br /&gt;Dan alangkah nikmat segala pekerjaan rumah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;( II )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;petang&lt;br /&gt;matahari sembunyi di kolong lemari&lt;br /&gt;dan bulan tiada benderang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tidurku memang lelap&lt;br /&gt;tapi hati masih begadang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ceritakan padaku&lt;br /&gt;dengan apakah aku akan pulang&lt;br /&gt;nuju rumahMu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;( III)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kerinyit , desah, dan erangku&lt;br /&gt;barangkali tertangkap kameraMu&lt;br /&gt;tapi lihatlah, dengarlah&lt;br /&gt;aku juga masih mengucap syukur&lt;br /&gt;dibalik kemalanganku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gelimang sinar yang tumpah&lt;br /&gt;saat keluar dari pintu&lt;br /&gt;menyiram mukaku&lt;br /&gt;menyiram sujudku&lt;br /&gt;di sajadah yang kasat mata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;telah kurasa duka musafir&lt;br /&gt;kurasa manfaat muhabbat&lt;br /&gt;dan kuamini doa sahabat&lt;br /&gt;ditengah sakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samarinda, 11 Desember 2005&lt;br /&gt;Di  RS H Darjat , kamar 308&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sige Haryadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Yogyakarta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Engkaukah Juliet * Itu?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkaukah itu?&lt;br /&gt;saat senja gelap meracuni hutan kosong dan kupu-kupu bersayap                                                 &lt;br /&gt;hitam terkapar di telaga&lt;br /&gt;kering sunyi&lt;br /&gt;jika ya,&lt;br /&gt;berlarilah kau menjauh mencabik mimpi panjang mengusir angin ke&lt;br /&gt;persembunyian&lt;br /&gt;purba: ranting pepohonan rapuh&lt;br /&gt;sebab ada masa ada kala duka tak tertepis angin&lt;br /&gt;sebab ada masa ada kala angin terbius bisu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkaukah itu?&lt;br /&gt;serigala terasing yang melolong di perbukitan sepi&lt;br /&gt;tersisih dari perjalanan panjang tak kenal musim:&lt;br /&gt;memang terkadang cinta tak mengenal jalan pulang&lt;br /&gt;memang terkadang cinta tak akan beringsut dari rindu hampa&lt;br /&gt;yang terombang-ambing&lt;br /&gt;itulah persimpangan tempat kebingunagn menyatukan arah barat timur&lt;br /&gt;utara selatan&lt;br /&gt;jika ya,&lt;br /&gt;bersampanlah menuju muara, singgah di delta, kemudian terbang bersama&lt;br /&gt;bersama camar terbius&lt;br /&gt;angin laut&lt;br /&gt;(tapi engkaukah Juliet itu?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Juliet*: terinspirasi dari cerita Romeo dan Juliet&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jogyakata, 2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2156930008317982785-7771742048693527053?l=menubul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menubul.blogspot.com/feeds/7771742048693527053/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2156930008317982785&amp;postID=7771742048693527053' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/7771742048693527053'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/7771742048693527053'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menubul.blogspot.com/2010/03/edisi-28.html' title='Edisi 28'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18266239886781897605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/TL7RnaMrAUI/AAAAAAAABcM/oNoOzQriCvA/S220/Potret+Diri+1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2156930008317982785.post-7072806183334052920</id><published>2010-03-31T06:55:00.000-07:00</published><updated>2010-03-31T20:15:45.631-07:00</updated><title type='text'>Edisi 29</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sigit Rais&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Bandung)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;E&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;pisode Kelahiran&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;untuk perempuan hebat yang melahirkan aku dan saudara-saudaraku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1983-kelahiran senyum ranum-&lt;br /&gt;tangan-tangan takdirlah yang memisahkan Nakula dan Sadewa.  O, garis nasib dipucuk mimpi, perpisahan mereka terlalu dini.&lt;br /&gt; “bunda, aku pergi.  Jangan galau masih ada saudaraku tertanam di istana rahimmu”&lt;br /&gt;o, ada senyum ranum di gumpal darah merah.  Tetesan beku itu berkata-kata tentang pisah yang akan berbalas pertemuan.  Suatu saat nanti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1984-kelahiran di pematang hari-&lt;br /&gt;langit dipayungi sayap bidadari.&lt;br /&gt;di situ ada rintih sakit seorang perempuan yang&lt;br /&gt;telah menyempurnakan keperempuannya&lt;br /&gt;kedatangannya adalah gempita cinta di&lt;br /&gt;mata bunda.  Timang sayang, o, lelaki suci di pematang pagi&lt;br /&gt;berselimut ribu-ribu mimpi, bertahta cahaya di altar sarat do’a&lt;br /&gt;timang sayang, o, lelaki suci di pematang pagi&lt;br /&gt;lihatlah, di situ ada jalan setapak.  Jalan sunyi yang diarungi sendiri&lt;br /&gt;o, lelaki suci di pematang pagi&lt;br /&gt;“jangan pergi sendiri!”&lt;br /&gt;o, lelaki suci di pematang pagi, pergi sendiri bersama empat matahari&lt;br /&gt;kematian terlalu dini, lelaki berwujud mimpi!&lt;br /&gt;malam datang bersama malap cahaya bulan mati&lt;br /&gt;perempuan itu kini ditikam sunyi&lt;br /&gt;“anakku telah pergi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1984-kelahiran pengemban imajinasi-&lt;br /&gt;adakah senja jadi saksi pasti atas kedatanganku di riuh hari?&lt;br /&gt;ingatlah!&lt;br /&gt;di situ ada rintih sakit seorang perempuan yang&lt;br /&gt;telah menyempurnakan keperempuaannya&lt;br /&gt; : sebagai ibu atas benih lelaki sehidup semati&lt;br /&gt;muncrat keringat campur darah hebat di ketegangan urat&lt;br /&gt;tangis menyengat penat; ini saat yang tepat, saya yang dinanti&lt;br /&gt;“anakku telah kembali!”&lt;br /&gt;suci bayi suci, o, pengemban imajinasi.  Itu aku&lt;br /&gt;mereguk cinta bunda dari perempuan bermata permata&lt;br /&gt;astaga, bayi itu tak lagi jadi bayi&lt;br /&gt;              “jangan pernah pergi lagi !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1987- kelahiran bidadari bunga-&lt;br /&gt;o, belahan jiwa bunda.  Di mata itu ada prasasti semesta jiwa&lt;br /&gt;segala penjuru adalah padanya.  O, belahan jiwa bunda&lt;br /&gt;bidadari bunga menari di galau hati.  Ingin dicinta dan mencinta&lt;br /&gt; “jangan pergi, tetap di sisi”&lt;br /&gt;bidadari bunga merasa degup hidup meletup.  Nyaris lupa pada isak&lt;br /&gt;serak seorang bunda saat beranak.&lt;br /&gt;Hai ingatlah!&lt;br /&gt;di situ ada rintih sakit seorang perempuan yang&lt;br /&gt;telah menyempurnakan keperempuanannya.&lt;br /&gt;“kembalilah menyemai benih cinta bersamaku&lt;br /&gt;agar tumbuh menjadi bunga di sepanjang hidupku”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1994-kelahiran pamungkas-&lt;br /&gt;senyap malam membungkus kemukus, wahai penina-bobo malam&lt;br /&gt;sudah hampir pagi.  Di tengah rasa sakit yang tak bisa ditawar lagi&lt;br /&gt;lelaki sehidup semati datang torehkan arti&lt;br /&gt;o, bibir pagi yang jadi saksi pasti&lt;br /&gt;d itu ada rintih sakit seorang perempuan yang&lt;br /&gt;telah menyempurnakan keperempuanannya. Ibu semesta jiwaku&lt;br /&gt;Allahu Akbar...Allahu Akbar...Allahu Akbar...&lt;br /&gt;kumandang tewrang adalah senandung cinta perempun bernama bunda&lt;br /&gt;   “ini cinta adalah nyawa dari ikatan kita&lt;br /&gt;jadilah matahari yang terbit di mula hari!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bunda, kami ingin selalu di sisimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14/12/05&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sihar Ramses&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Jakarta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kabut Duka Mawar&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;engkaukah mawar yang mengandung duka&lt;br /&gt;melepas kenangan aek sibundong&lt;br /&gt;dan lembah penatapan&lt;br /&gt;hingga tiada lagi sisa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebab bagimu cerita masa lampau&lt;br /&gt;adalah pelangi yang telah busuk jadi warna kelabu&lt;br /&gt;tak ada lagi kau sisakan&lt;br /&gt;tanah toba&lt;br /&gt;pada padang-padang hatimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pergi menjauh&lt;br /&gt;serupa mawar yang percaya&lt;br /&gt;akan ada yang dibawa kumbang negeri asing&lt;br /&gt;tentang keelokan tanah-tanah baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengembara&lt;br /&gt;mengembara&lt;br /&gt;serupa penjelajah tak kenal wajah aslinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(adakah itu akan memuaskan seluruh&lt;br /&gt;dahagamu.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;atau sungguh masa lalu&lt;br /&gt;adalah duka tersendiri&lt;br /&gt;menyayat-nyayat  hati&lt;br /&gt;serupa belati…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sindu Putra&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Mataram)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Terracota Garam&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;: Devian Branitasandhini dan Ravikan Varapanna                      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ini babad manusia garam, menatah nama di air : dengarkanlah !&lt;br /&gt;cakup tanganku,       aku singa bersayap    masuki hutan lambang&lt;br /&gt;aku tanam air   api   tanah  kayu  dan  logam mulia&lt;br /&gt; lubdaka berburu dan diburu di hutan ini&lt;br /&gt;  rama pun singgah dan membangun kemah&lt;br /&gt;   sepanjang pencariannya menemukan sita&lt;br /&gt;  arjuna bahkan bertapa dan memanah babi hutan&lt;br /&gt;   sebelum menerima senjata rahasia dan kitab suci&lt;br /&gt;suaka gunung pasir ini : tanpa pintu.  tanpa atap.  aku membungkuk  &lt;br /&gt;diam.      untuk memasuki kesenyapannya.              bertani&lt;br /&gt;melompat ke dalam api.  seseorang yang mengembara 4 yuga&lt;br /&gt;--- yang menanggung semua penyakit .      bertopeng&lt;br /&gt;karena tidak ada yang dapat diajaknya bicara---&lt;br /&gt;berkisah lelaki yang hendak menikahi ibunya&lt;br /&gt;aku menjadi ikan selama tahun tak dikenal.  menyusup kabut asap&lt;br /&gt;sampai bayanganku ditangkap.   dibalut  rumput,    ditanam&lt;br /&gt;di tanah berpagar. aku tak bisa sembunyi dari padang penangkaran ini&lt;br /&gt;aku diringkus. beringsut, berkelit         jejak dan suaraku menghujam&lt;br /&gt;sawah seluas telapak tangan.           dan oleh gigir aura auratku,&lt;br /&gt;seekor kuda menggigil.      seekor kuda bermata kunang-kunang.&lt;br /&gt;melubangi setiap tanaman sawah dengan sebelas taring sayapnya&lt;br /&gt;bau mulut daki lengan  peluh paha hingga garis telapak kakinya&lt;br /&gt;mempesingkan aku.      hanya tubuh berasap. melepas&lt;br /&gt;sisik  tikus berwarna : mengarung    tumbuh disetiap tempat upacara&lt;br /&gt;tersentuh cahaya dingin sepanjang jalan lahar.   suara seekor kera&lt;br /&gt;menunjuk ketiga mata air.        jangan pejamkan.   bayangkan&lt;br /&gt;mata lele itu seolah bulan sabit dari tempat matahari terbit&lt;br /&gt;aku  butuh seekior anjing, unruk menyeberangi kegaduhan ini&lt;br /&gt;tanganku mengupas batu-batu.   meniupkan wangi bunga      &lt;br /&gt;ke lubang hitamnya.       terjaringlah bidadari-bidadari kayu&lt;br /&gt;raksasa-raksasa padas :   banal banal kalap&lt;br /&gt;aku menyelinap ke lubang cacing          perut penyu batu&lt;br /&gt;     waktu tersobek&lt;br /&gt;hutan perlahan asam.           tinggallah seorang pendoa&lt;br /&gt;mengucapkan pengakuan dosa&lt;br /&gt;menggoreskan nama sandi dengan asin empedu pada selapaut dara&lt;br /&gt;tuhan !            tempat sucimu terbakar doa amarahku&lt;br /&gt;aku legam.     lebam.                    seragam boneka garam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2156930008317982785-7072806183334052920?l=menubul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menubul.blogspot.com/feeds/7072806183334052920/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2156930008317982785&amp;postID=7072806183334052920' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/7072806183334052920'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/7072806183334052920'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menubul.blogspot.com/2010/03/edisi-29.html' title='Edisi 29'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18266239886781897605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/TL7RnaMrAUI/AAAAAAAABcM/oNoOzQriCvA/S220/Potret+Diri+1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2156930008317982785.post-3079134409681472688</id><published>2010-03-31T06:52:00.000-07:00</published><updated>2010-03-31T20:16:56.581-07:00</updated><title type='text'>Edisi 30</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;H. Sjachrani Mataya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Kotabaru - Kalsel)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bersama Mengayuh Bahtera&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Limapuluh tahun yang lalu&lt;br /&gt;Kularutkan sebuah kapal di hulu rumahku&lt;br /&gt;Yang dirajut oleh benang kasih sayang orangtua kita&lt;br /&gt;Ketiak gerimis menggesekkan daun&lt;br /&gt;Dalam serbuk hujan&lt;br /&gt;Menyampaikan salam semesta&lt;br /&gt;Ku genggam filosofi kearifan&lt;br /&gt;Dan kasih sayang&lt;br /&gt;Yang diajarkan para guru&lt;br /&gt;Dalam setiap langkahku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih limapuluh tahun yang lalu&lt;br /&gt;Ketika isyarat itu kurasakan&lt;br /&gt;Betapa panjangnya perjalanan sebuah penantian&lt;br /&gt;Pelyaranyang bergonta-ganti nakhoda&lt;br /&gt;Pelabuhan selat karang menanti sepi&lt;br /&gt;Menunggu puteranya kembali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sjachrani kecil masih suka bermain gapu&lt;br /&gt;Membuat istana pasir&lt;br /&gt;Merajut mimpi dengan lunta&lt;br /&gt;Atau bermain perang-perangan&lt;br /&gt;Menyerukan azan dari surau ke masjid&lt;br /&gt;Seperti memainkan sebuah melodi&lt;br /&gt;Menulis mimpi masa depan&lt;br /&gt;Setinggi puncak sebatung&lt;br /&gt;Menjalani hidup&lt;br /&gt;Melewati semua ujian&lt;br /&gt;Merasakan semua kepahitan&lt;br /&gt;Selalu dengan air mata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan memberiku ujian&lt;br /&gt;Tetapi selalu diberikan jalannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika usiaku memasuki tahun emas&lt;br /&gt;Selat laut memberiku salam ombak&lt;br /&gt;Ketiakbumi saijaan menggoreskan sebuah peristiwa&lt;br /&gt;Dipundakku diserahkan sebuah tanggung jawab&lt;br /&gt;Menakhodai kapal saijaan&lt;br /&gt;Yang tetap harus berlayar&lt;br /&gt;Melewati pergantian jaman&lt;br /&gt;Merombak sistem kebekuan&lt;br /&gt;Dari orde keorde berikutnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sujud syukurku&lt;br /&gt;Terbaca peta pengabdian, sebuah tekad&lt;br /&gt;Membangun negeri saijaan&lt;br /&gt;Mengejar ketertinggalan&lt;br /&gt;Membuat jembatan sejarah&lt;br /&gt;Seperti lintasan kereta di negeri sakura&lt;br /&gt;Membaca aksara kata&lt;br /&gt;Membangun peradaban generasi&lt;br /&gt;Mendekatkan desa dan kota&lt;br /&gt;Menyelaraskan mimpi dan musim&lt;br /&gt;Dan kemakmuran kehidupan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih dalam tafakurku&lt;br /&gt;Kukayuh bahtera ini bersama ribuan tangan&lt;br /&gt;Mengarungi medan bakti, aku tidak sendiri&lt;br /&gt;Karena, warga saijaan bersamaku&lt;br /&gt;Terima kasih, tuhan&lt;br /&gt;Allahu akbar&lt;br /&gt;Majulah kotabaru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ditulis di Kotabaru, 5 Januari 2006&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;setelah terpilih sebagai Bupati Kotabaru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;pada sidang Paripurna DPRD Kabupaten Kotabaru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Slamet Rahardjo Rais&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Jakarta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Salam Matahari&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;matahari senantiasa kepadaku mengirimkan&lt;br /&gt;salamnya dan letak ihlas sujudku&lt;br /&gt;tanpa batas untuk bersabar&lt;br /&gt;maka semua detak&lt;br /&gt;baca dan simpan atas percakapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semua yang lewat mengajariku&lt;br /&gt;untuk memasuki tasbih mata langit&lt;br /&gt;dzikir kota-kota yang gelisah&lt;br /&gt;anak-anak yang berlarian&lt;br /&gt;menjauhi pintu jendela rumah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengajariku agar burung mawarku terbang&lt;br /&gt;berjabat tangan&lt;br /&gt;ke tiang-tiang pasar berteriak&lt;br /&gt;kereta api dan bis kota yang membengkak&lt;br /&gt;berjejalkan pikiran suara kehendak&lt;br /&gt;dan sedemikian perkasa membunuh&lt;br /&gt;tumpukan keputus-asaan&lt;br /&gt;dengan mengunyah&lt;br /&gt;semua hamparan sujudnya yang pasrah&lt;br /&gt;dirinya terowongan tawakal terang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;belajar terhadapnya&lt;br /&gt;sedikit tersungkur meminta ruh peristiwa&lt;br /&gt;dan membuat hujan&lt;br /&gt;atas tetesan-tetesan air pancuran&lt;br /&gt;memadamkan keluh kesah yang terbakar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta. 11.2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sosiawan Leak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Solo)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Negeri Kadal&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;negri kami negri kadal&lt;br /&gt;negri yang tidak pernah sepi dari juluran lidah&lt;br /&gt;menjelma dasi,panji-panji hingga janji-janji&lt;br /&gt;yang selalu terpelanting bacinnya ludah&lt;br /&gt;sambil melata, kami mengendap&lt;br /&gt;sesekali menelikung lawan juga kawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;negri kami negri kadal&lt;br /&gt;negri yang bersemak rempah  &lt;br /&gt;berbelukar baha tambang, berrerimbun hutan&lt;br /&gt;namun selalu lapar&lt;br /&gt;dengan pertikaian dan asap tebal&lt;br /&gt;dari berbagai kayu bakar&lt;br /&gt;; agama, harta dan kekuasaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kami selesaikan masalah&lt;br /&gt;hanya lewat desis dan kata-kata&lt;br /&gt;sedang tindakan tersembunyi dengan sempurna&lt;br /&gt;di ujung ekor yang tak berdaya&lt;br /&gt;menjelma bom, meledak sembarangan,&lt;br /&gt;curiga mulus beranak pinak di sela sisik&lt;br /&gt;malih rupa ketakutan&lt;br /&gt;yang tak pernah terungkap di pengadilan&lt;br /&gt;di negri kadal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;solo, 19 september 2000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Suarta Bagiada&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Mataram)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Semerdu Rindu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantunan nyanyian rindu&lt;br /&gt;rona sendu&lt;br /&gt;(kenang-kenangan kala itu)&lt;br /&gt;meremas nurani, yang tersangkut di sana,&lt;br /&gt;ini lamunan tak berbingkai&lt;br /&gt;dalam lengkung biru langit&lt;br /&gt;biru laut-biru buru bayang-bayang&lt;br /&gt;setandan sapa padanya,&lt;br /&gt;setandan doa untunya,&lt;br /&gt;setandan cita buat hari esok&lt;br /&gt;meski renta akhirnya harus dijelang&lt;br /&gt;“selamat malam dewi suka”&lt;br /&gt;pada megah bulan ada seuntai makna&lt;br /&gt;nyanyian semilir, anggukan bunga-bunga taman&lt;br /&gt;paduan itu tak hendak berdusta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Tanjung, 1992&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2156930008317982785-3079134409681472688?l=menubul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menubul.blogspot.com/feeds/3079134409681472688/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2156930008317982785&amp;postID=3079134409681472688' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/3079134409681472688'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/3079134409681472688'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menubul.blogspot.com/2010/03/edisi-30.html' title='Edisi 30'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18266239886781897605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/TL7RnaMrAUI/AAAAAAAABcM/oNoOzQriCvA/S220/Potret+Diri+1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2156930008317982785.post-6724628501295896942</id><published>2010-03-31T06:50:00.000-07:00</published><updated>2010-03-31T20:17:43.605-07:00</updated><title type='text'>Edisi 31</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Suhairi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Jember)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dialog Satu Arah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seusai upacara bendera di sekolah&lt;br /&gt;Aku bertanya kepada seorang guru&lt;br /&gt;“Pak, betulkah warna merah bendera pusaka kita berarti berani?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang guru tertegun sejenak&lt;br /&gt;Ia seperti menyimpan kepanikan&lt;br /&gt;yang aku sendiri tidak mampu&lt;br /&gt;menterjemahkan ke dalam bahasaku sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak, betulkah warna putih itu lambang kesucian?” tanyaku lagi.&lt;br /&gt;Sang guru tak mampu mengeluarkan sepatah katapun&lt;br /&gt;“Betul” atau “Salah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang guru sibuk membuka kamus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihat nada kecewa di wajahnya&lt;br /&gt;ketika ia melihat wajah negeri ini&lt;br /&gt;tidak sama dengan warna merah putih&lt;br /&gt;yang tertera di kamus itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunlie Thomas Alexander&lt;br /&gt;(Pangkal Pinang)&lt;br /&gt;Tembangmu Ibu, Sepanjang Badan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tembangmu ibu, lirih kekal menembang&lt;br /&gt;    dari ayunan,&lt;br /&gt;    menjadi doa panjang buaian masa depan&lt;br /&gt;lekuk tempo birama mengalun di badan&lt;br /&gt;    berhulu dari usia, bermuara pada usia&lt;br /&gt;         mengalir dalam darah, berdesir takkan moksa&lt;br /&gt;    maka kudayung perahu ke teluk teluk buana&lt;br /&gt;    menepi pada rimba rimba penuh nada&lt;br /&gt;   dan menyanyikan rembulan yang fantasia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o, betapa sepanjang badan dan bulan, harapan&lt;br /&gt;serupa tangga irama&lt;br /&gt;        kupetik umur umur yang naïf&lt;br /&gt;       dari kaki hingga kepala,&lt;br /&gt;       tembangmu ibu lebih sekedar pelita&lt;br /&gt;       yang kubawa hingga jauh ke muara;&lt;br /&gt;       laut teduh yang belum sampai sampai kukayuh juga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tembangmu ibu, sepanjang badan&lt;br /&gt;takkan fana usia ayunan&lt;br /&gt;          bagaikan bedak cendana, rekak biji merica,&lt;br /&gt;          dan hio leluhur di altar pertemuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;akan kucipta dari lirih lagumu, perempuan impian tempat berdian&lt;br /&gt;         dan kuda kuda perkasa, cambuk kenangan dan&lt;br /&gt;         kapal yang kokoh di tujuh samudera&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi ibu, tembangmu takkan kutiup dengan terompet perang&lt;br /&gt;karena lagu cinta cukuplah kujaga sebagai api asmara&lt;br /&gt;sepanjang jalan, sepanjang badan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta-Belinyu, Juli 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sutardji Calzoum Bachri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Jakarta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Berdepan –depan Dengan Ka’bah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;        Aku datang memenuhi panggilanmu. Tapi ke mana engkau datang. Engkau tak ke mana-mana. Engkau datang ke dalam dirimu kosong, bagaikan Ka’bah. Engkau terpesona, mungkin agak terperangah. Dalam rumah dirimu tak ada yang menanti, tak ada yang mengucapkan salam. Sementara tadi di airport Jeddah ada bienvenu, ada welcome, ada selamat datang, dan entah apalagi dalam kata-kata Cina dan Jepang. Engkau di sini tamu sekaligus tuan rumah. Baiklah ucapkan seperti Umar mengucap : “Allahumma zid hazalbaita tasyrifan wata’ziman watakruman wamahabatan wazid mansyarrafahu wa karramahu mimman hajjahu awi’tamarahu tasyrifan wata’ziman watakriman wabirran.”&lt;br /&gt;Jadi engkau mengucapkan harapan pada dirimu. Memang engkaulah tamu, engkaulah tuan rumah itu. Inilah rumah dirimu. Nah, mulai kini benahi lagi dirimu! O tamu dirimu, o jiwa batinmu. Roh yang lapar yang haus, ingin mereguk berpuluh-puluh shalat, mengunyah beratus doa! Jamulah dia. Ikuti maunya! Ingin berkitar-kitar tawaf, ingin bergegas bolak-balik Safa Marwah. O jiwa yang resah, kembalilah engkau kepada Tuhanmu.&lt;br /&gt;Berdepan-depan dengan Ka’bah, sampailah aku pada perpanjangan sajak-sajakku. Setelah Tanya dan resah, setelah aorta diigau risau setelah kucing meraung dalam darah. Inilah jalan itu!&lt;br /&gt;Kutanya urat, dimana darah? Darah ngalir dalam doa, dalam tawaf,dalam tegukan zamzam, dalam kecup Hazar aswad. Bismillahi Allahu Akbar. Fana fana fana. Tak ada Tardji. Tak ada kelompok yang berkitar itu. Tak Afghan, tak Irak, tak Pakistan, tak Iran. Kau panggil Ghulam, tak yang menjawab. Kau panggil Gotzadegh, yang jawab tak. Kau teriakkan Burhan, tak ada sahutan. Kau panggil nama-nama hanya doa yang bergetar.&lt;br /&gt;      Kau menatap ke langit. Awan tipis tekun bertasbih. namun jangan kau cari dia di sana. Tuhan tak ada di langit. Cari dia di hati mukmin! Kupandang dadaku, denyutnya menggetarkan hari, tempat dunia&lt;br /&gt;Melengkapkan kepunahan. Sedang tawaf mengalir mengisahkan jiwa muslim bertemu jiwa. Dimana-mana doa bergumam. O, jiwa mengalirlah engkau mengitari Ka’bah, memulai lagi langkah! Dan dari getar dadaku masih terdengar doa purba sajak lama, papaliko arukabazuku kodega lagotokoco zukuzangga zegezegeze zegezegeze zegezegeze…&lt;br /&gt;Baitullah, tempat mulainya langkah tanpa batas, perjalanan di luar daging dan kata-kata. Tempat doa bukanlah sekedar alat menyampaikan harap. Tempat doa adalah Dia! Dulu aku bawakan bunga pada-Mu tapi kau bilang masih. Aku bawakan resahku padamu tapi kau bilang hanya. Aku bawakan darahku padamu tapi kau bilang Cuma. Aku bawakan mimpiku padamu tapi kau bilang meski.Aku bawakan dukaku padamu tapi kau bilang tapi. Aku bawakan mayatku padaMu tapi kau bilang hampir. Tanpa apa aku datang padaMu. WAH!&lt;br /&gt;Kau membawa aku ke Safa ke Marwa ke Safa ke Marwa ke pasir ke gunung-gunung ke bintang-bintang. Doa tumbuh menyapu-nyapu membenahi diriku, untuk jalanmu Alina!&lt;br /&gt;Untuk tarekatku Alina, aku buatkan sujudku di makam Ibrahim, aku sampaikan harap di Multazam, aku alirkan zamzam dalam urat yang sering demam, untuk meluruskan jalan, Alina!&lt;br /&gt;Alhamdulillah, sakit, engkau telah mengakrabkan aku pada-Nya. Teriamkasih usia, engkau telah mengantarkan. Dulu bisu batu Sajakku. Kini, engkau di dekat Hajar Aswad ini&lt;br /&gt;telah mendedahkan Rahasia. Cahaya, cahaya, cahaya!&lt;br /&gt;Apa yang gumam? Doa. Ap ayang ngalir? Jiwa. Apa yang tenggelam? Silam. Apa yang Dia? Cahaya. Kupeluk Ka’bah,&lt;br /&gt;di pipi Hajar Aswad&lt;br /&gt;Kukecup secupang doa. Kukecup lagi kali berkali, lantas kucium&lt;br /&gt;Ibrahim, sarah, Ismail, Hajar, dan ahmad. dan hari Alastu&lt;br /&gt;Mengalir air mata.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2156930008317982785-6724628501295896942?l=menubul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menubul.blogspot.com/feeds/6724628501295896942/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2156930008317982785&amp;postID=6724628501295896942' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/6724628501295896942'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/6724628501295896942'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menubul.blogspot.com/2010/03/edisi-31.html' title='Edisi 31'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18266239886781897605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/TL7RnaMrAUI/AAAAAAAABcM/oNoOzQriCvA/S220/Potret+Diri+1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2156930008317982785.post-8056077016124696339</id><published>2010-03-31T06:46:00.000-07:00</published><updated>2010-03-31T20:18:41.780-07:00</updated><title type='text'>Edisi 32</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Syaifuddin Gani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Kendari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Semalam Di Uepai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;di tikungan empat lima Uepai&lt;br /&gt;daradara Konaweeha menyusuri petang&lt;br /&gt;rambut panjang digerayangi angin&lt;br /&gt;cahaya senja mengguyur kulitnya kemerahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di bawah pohonpohon kerindangan&lt;br /&gt;Putriputri Anaway berjejeran&lt;br /&gt;berceritera dengan senyum keramahan&lt;br /&gt;tentang Kapita Anamolepo lelaki kebanggaan &lt;br /&gt;              &lt;br /&gt;malam merambat&lt;br /&gt;bulan merangkak&lt;br /&gt;di sebuah lapangan hijau Uepai&lt;br /&gt;bersebelahan sebuah surau yang lengang&lt;br /&gt;digelar lingkaran sempurna seumpama kalosara&lt;br /&gt;mengalirlah pesta Lulo dengan irama dan gerak kaki yang rampak&lt;br /&gt;                     &lt;br /&gt;o bunyi gong yang rancak, tangantangan satu sentak, goyang pinggang padat,&lt;br /&gt;nafasnafas rangsang, juga nafsu sungsang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di bibir jalan, para ibu dengan anak di gendongan&lt;br /&gt;menatap penuh khayalan, ketika tiga belas tahun silam&lt;br /&gt;dinaksir lelaki saat molulo segitiga jelang subuh&lt;br /&gt;para ayah memandang dengan senyum ditelan sambil menyikut buah dada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di sungai merah kali Konawe&lt;br /&gt;bagai Anaway Ngguluri mereka merendam badan yang perawan&lt;br /&gt;menghanyutkan peluh semalaman&lt;br /&gt;sambil bercerita lelaki pujaan&lt;br /&gt;I Bio dengan rayuan pongasih tanyakan kalau sudah punya gandengan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pagi hari yang berkabut&lt;br /&gt;tersebar berita bersahut-sahut&lt;br /&gt;I Feni kabur bersama I Dedi&lt;br /&gt;saat Lulo tiga belas tuntas di puncak malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uepai, Desember 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konaweeha : Sebutan untuk orang Konawe&lt;br /&gt;                  Anaway Ngguluri : Putri jelita dalam mitologi Konawe&lt;br /&gt;                  Kalosatra : Adat tertinggi di Konawe dengan symbol lingkaran rotan&lt;br /&gt;                  Lulo/Molulo : Tarian tradisi&lt;br /&gt;                  Pongasih : Minuman khas Konawe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Syaiful A.MK.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Yogyakarta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rumahku Rahimmu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu&lt;br /&gt;Maafkanlah aku tak bisa pulang ke rumah&lt;br /&gt;Rumah pertama  yang memberikanku bahagia&lt;br /&gt;Rumah pertama yang  mengenalkanku asalmula&lt;br /&gt;Rumahku rahimmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu&lt;br /&gt;Rumah itu tak cukup lagi bagi duniaku&lt;br /&gt;Tapi bukan tak cukup bagi hidupku&lt;br /&gt;Kini terlalu bodoh untuk kembali&lt;br /&gt;Tapi bukan terlalu bodoh untuk kuhayati&lt;br /&gt;Rahimmu cahaya nurani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu&lt;br /&gt;Apakah engkau marah ?&lt;br /&gt;Rumahku kini berwarna biru, kuning, hijau,coklat dan merah&lt;br /&gt;Aku tahu rumah yang dulu tak berwarna&lt;br /&gt;Karena itu dunia pertama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu&lt;br /&gt;Aku tak ingin pulang ke rumah&lt;br /&gt;Aku ingin bermain lincah&lt;br /&gt;Hingga aku punya rumah sendiri&lt;br /&gt;Seperti rumah pertama kali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu&lt;br /&gt;Izinkanlah aku tak pulang ke rumah&lt;br /&gt;Rahimmu kutahu tak abadi&lt;br /&gt;Memancar arti untuk aku kembali suci&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogya, 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Syamsul SDP.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Tangerang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Catatan Tengah Malam&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mawar, kota begini merah berduri&lt;br /&gt;selalu saja, dia torehkan pada benakku&lt;br /&gt;sisa-sisa hurup tadi siang&lt;br /&gt;tentang beratus papan iklan&lt;br /&gt;dan koran yang tak pernah kehabisan abjad&lt;br /&gt;mengawasi nasib&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kugambar peta dengan&lt;br /&gt;kalimat itu, tapi tak juga terlacak&lt;br /&gt;alamatmu.  pintu yang terbobol arus&lt;br /&gt;waktu tak bermusim&lt;br /&gt;hanya kegelapan pantulkan&lt;br /&gt;warna selain merah&lt;br /&gt;kuduga; darah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sala, 24 Februari 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tan Lioe Ie&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Bali)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Catatan Gila&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tanganmu pucat disergap dingin&lt;br /&gt;    musim gila yang angkuh&lt;br /&gt;Seperti ketukan-ketukan hujan di genting&lt;br /&gt;Kau meracau di dunia yang kau bangun sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kita akan sendiri, katamu&lt;br /&gt;Apa salahnya terbiasa sejak dini?&lt;br /&gt;Bertarung atau berdamai dengan diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kita akan sendiri&lt;br /&gt;Lapar kita, lapar sendiri&lt;br /&gt;Mengunyah kata dari batu hidup&lt;br /&gt;Melahap kita di laju senyap waktu&lt;br /&gt;Sakit kita, sakit sendiri&lt;br /&gt;Menebar gigil di daging&lt;br /&gt;    yang lebur membumi&lt;br /&gt;Bumi yang berabad-abad berpaling dari kaummu&lt;br /&gt;Kaum yang mudah menertawakan diri&lt;br /&gt;Mudah pula menertawakan luka diri&lt;br /&gt;   yang paling perih.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Waktu mengiris senja&lt;br /&gt;Menyisakan segurat samar cahaya&lt;br /&gt;Kesamaran yang mengaburkan pandang&lt;br /&gt;    mata yang dahaga&lt;br /&gt;Mata pemburu cahaya&lt;br /&gt;Sampai kerlip terkecil kunang-kunang semu di bujur pantai&lt;br /&gt;Mata yang mencoba menembus&lt;br /&gt;Batas laut dan daratan yang dihapus malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beri aku bintang sejuta&lt;br /&gt;Bulan beribu&lt;br /&gt;Atau jadikan aku cahaya, pintamu&lt;br /&gt;   entah pada siapa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tak lagi malam menebar cekam seringai hantu&lt;br /&gt;Yang menyelinap ke benak, saat kau pejam&lt;br /&gt;Yang memburumu sekilat pikiran&lt;br /&gt;Melayang-layang tak teraih&lt;br /&gt;Mengapung-apung tak tentru arah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin pucat saja tanganmu&lt;br /&gt;Semakin angkuh saja musim gila ini&lt;br /&gt;Dan masih juga kau meracau sendiri&lt;br /&gt;Di dunia yang sendiri&lt;br /&gt;Tempat setiap kita akan sendiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2156930008317982785-8056077016124696339?l=menubul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menubul.blogspot.com/feeds/8056077016124696339/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2156930008317982785&amp;postID=8056077016124696339' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/8056077016124696339'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/8056077016124696339'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menubul.blogspot.com/2010/03/edisi-32.html' title='Edisi 32'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18266239886781897605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/TL7RnaMrAUI/AAAAAAAABcM/oNoOzQriCvA/S220/Potret+Diri+1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2156930008317982785.post-3864509148193613936</id><published>2010-03-31T06:41:00.000-07:00</published><updated>2010-03-31T20:20:12.965-07:00</updated><title type='text'>Edisi 33</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Thomas Budi Santoso&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Kudus)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Matahari Miring Di 5 April 2005&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     (mementomori: be tjien siong&lt;br /&gt;        via mutatur non tulitur&lt;br /&gt; hidup itu diubah, bukan dilenyapkan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ketika matahari miring di wajahnya&lt;br /&gt;sekuntum flamboyant, jatuh&lt;br /&gt;di wajahnya yang hilang dan&lt;br /&gt;seekor kumbang, mengusapkan serbuk bunga&lt;br /&gt;di keningnya yang biru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seolah bermimpi terdengar lembut sekali:&lt;br /&gt;langkah-langkah yang ringan, gemericik senyum&lt;br /&gt;kata-kata cinta, guratan neka suara yang&lt;br /&gt;diterpa angin – jauh&lt;br /&gt;bersamanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jam yang telah ditetapkan&lt;br /&gt;bumi yang dulu melahirkannya&lt;br /&gt;menatih lingkaran sempurna&lt;br /&gt;di akhir bayang-bayang yang&lt;br /&gt;penuh bermuatan bunga&lt;br /&gt;di atas matahari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kudus, 06.04.2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tresna Ismaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Bandung)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jika &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jika aku seorang petani,&lt;br /&gt;akan kutanam benih cinta&lt;br /&gt;jika aku seorang arsitek,&lt;br /&gt;akan kubangun kembali cinta yang porak poranda&lt;br /&gt;jika aku seorang pemadam kebakaran,&lt;br /&gt;akan kusiram cinta yang terbakar&lt;br /&gt;jika aku seorang guru,&lt;br /&gt;akan kuajarkan bagaimana bercinta&lt;br /&gt;jika aku seorang dokter,&lt;br /&gt;akan aku cari obat luka karena cinta&lt;br /&gt;jika aku seorang ibu,&lt;br /&gt;akan aku lahirkan berjuta cinta ke dunia&lt;br /&gt;jika ini bukan jika,&lt;br /&gt;aku bahagia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25 Agustus 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Triyugi Rizki Windarsi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Yogyakarta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penjaga Kebun&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami hanya penjaga kebun&lt;br /&gt;Kebun yang pernah kami beli tiga puluh tahun yang lalu&lt;br /&gt;Yang selalu kami usahakan pengelolaannya&lt;br /&gt;Dari menanam sampai menyemprot hama&lt;br /&gt;Yang setiap tahun buahnya kami jual&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami ini hanya penjaga kebun&lt;br /&gt;Yang tidak pernah percaya akan ilmu pasti&lt;br /&gt;Hingga suatu saat kebun kami tak berbuah&lt;br /&gt;Walau seperti biasa kami sirami&lt;br /&gt;Pelajaran selalu datang kepada kami&lt;br /&gt;Karena setelah berupaya, hanya menunggu yang kami mampu&lt;br /&gt;Kemurahan dari pemilik kebun itu&lt;br /&gt;Yang hanya berikan kami satu kesulitan di atas dua sembilan&lt;br /&gt;kemudahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kami ini hanya penjaga kebun&lt;br /&gt;Yang tetap akan menunggu&lt;br /&gt;Sampai hari yang terbatas bagi napas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Uni Sagena&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Samarinda)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perempuan Ilalang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;--buat @&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini,&lt;br /&gt;Ilalang tak pernah mati&lt;br /&gt;Si liar setubuhi gairah pada tandusnya jiwa sang pencinta&lt;br /&gt;Garang matahari Membakar ubun-ubun&lt;br /&gt;Sia-sia …&lt;br /&gt;Dan  ilalang tak juga mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini ilalang&lt;br /&gt;Di sini tak juga mati&lt;br /&gt;Si binal menggeliat dalam pesona yang ringkih&lt;br /&gt;Terbius meradang&lt;br /&gt;Menembus sum-sum&lt;br /&gt;Sia-sia saja…&lt;br /&gt;karena ilalang tak juga mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini ilalang&lt;br /&gt;Di sini tak juga mati&lt;br /&gt;Tumbuh di tebing&lt;br /&gt;Tumbuh di relung&lt;br /&gt;Tumbuh di malam&lt;br /&gt;Pada detak-detik panjang&lt;br /&gt;Yang menelantarkanku pada hening tak bertepi&lt;br /&gt;Tersuruk pada sunyi yang sepi&lt;br /&gt;Terpelanting dalam nyeri tak berperi&lt;br /&gt;Namun ilalang tak juga mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, keras kepala kucumbu kau&lt;br /&gt;Bersama asa yang tak berkesudahan&lt;br /&gt;Karena di sini,&lt;br /&gt;Ilalang&lt;br /&gt;tak juga&lt;br /&gt;mati:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Viddy Ad Daery&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Lamongan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Laut Langkawi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku naik jetty dari Kuala Kedah&lt;br /&gt;Nun di cakrawala, dipermainkan gelombang&lt;br /&gt;Pulau Langkawi bagai kiambang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laut membuncah, kapal-kapal nelayan berangkat&lt;br /&gt;Bagai barisan armada Merong Mahawangsa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjajar pulau dan karang&lt;br /&gt;Berlabuh satu dua perahu kumbar&lt;br /&gt;Aku membayangkan zaman dulu&lt;br /&gt;Perahu dagang dan perompak kejar-mengejar&lt;br /&gt;Di manakah orang-orang Coromandel menukar tembikar ?&lt;br /&gt;Di manakah armada besar Sri Wijaya menebar jangkar ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ceruk mana mereka larung Putri Mahsuri ?&lt;br /&gt;Di teluk mana perahu Mojopahit mencari Gunung Jerai ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum habis tanya dan kenang&lt;br /&gt;Telah tampak Dataran Tinggi Elang&lt;br /&gt;Langkawi dijaganya, dengan sayap terkembang&lt;br /&gt;Karena dia bangga, Langkawi tak lagi bernasib malang&lt;br /&gt;Tak seperti negeriku&lt;br /&gt;Tempat kami menyesal dilahirkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pulau Langkawi, seberang Kedah, Malaysia November 2000&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2156930008317982785-3864509148193613936?l=menubul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menubul.blogspot.com/feeds/3864509148193613936/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2156930008317982785&amp;postID=3864509148193613936' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/3864509148193613936'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/3864509148193613936'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menubul.blogspot.com/2010/03/edisi-33.html' title='Edisi 33'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18266239886781897605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/TL7RnaMrAUI/AAAAAAAABcM/oNoOzQriCvA/S220/Potret+Diri+1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2156930008317982785.post-3271419159207705191</id><published>2010-03-31T06:34:00.000-07:00</published><updated>2010-03-31T20:21:33.016-07:00</updated><title type='text'>Edisi 34</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;W. Haryanto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Surabaya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ranti, Di Bali, Orang Tak Perlu Mati&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  -&lt;span style="font-style: italic;"&gt;-sesudah bom, 1/10/2005&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;                 &lt;br /&gt;1.&lt;br /&gt;              &lt;br /&gt;aku tak pernah tahu. Bersama belibis&lt;br /&gt;malam patah. Lalu seorang bocah buru-buru&lt;br /&gt;mencari kemah,&lt;br /&gt;kupu-kupu melempar warna. Dan angin yang&lt;br /&gt;tak pernah gentar, membentuk kincir&lt;br /&gt;ketakutanku. Laut yang pertama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabut itu. Gemuruh itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ibu acuh membaca almanak,&lt;br /&gt;dan esoknya ia gemas pada gerak samar&lt;br /&gt;angin. Ya. Tak ada penghubung&lt;br /&gt;antara cerita dan pergantian waktu….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di simpang tunjungan….kesepianku,&lt;br /&gt;mata miskin yang mencari. Kemunafikan&lt;br /&gt;begitu menghanyutkan layaknya simfoni&lt;br /&gt;angin. Ketika roda sejarah mengepulkan&lt;br /&gt;lolongan anjing liar—mencariku,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mencari-cari dalih pada tetesan air&lt;br /&gt;seperti nostalgia kematian anak-anak mendung,&lt;br /&gt;Kawanan elang terbentuk, dan aku buta seperti&lt;br /&gt;lukisan tanpa warna. Tiada jawab, lalu bunyi seruling&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berpaling. Pada puisi yang membosankan&lt;br /&gt;yang kutiup, yang sehijau warna pohon,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatanku busuk ke malam tanpa bulan, Kekal,&lt;br /&gt;dan peluru tak punya kupu… kesepianku,&lt;br /&gt;magrib yang bersiul, ke letak sumur, lalu&lt;br /&gt;orang paro baya melempar anaknya&lt;br /&gt;ke dalam kereta: kupu-kupu bubar silih&lt;br /&gt;menyisih seperti perempuan sundal&lt;br /&gt;menunggu tumpangan,”belikan aku&lt;br /&gt;sepenggal kelu, juga bunga batu          &lt;br /&gt;yang menekuk lutut.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;segera merah, tatap yang berpacu dengan&lt;br /&gt;tali kekang, berputar-putar. Pilihanmu, melulu&lt;br /&gt;mata yang ingin tahu. 3 jam 3 menit,&lt;br /&gt;di stasiun Tugu—”adik, aku cuma&lt;br /&gt;punya recehan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Surabaya, 11 Juni 2005)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Wilson Tjandinegara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Tangerang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jangan Kira&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan kira&lt;br /&gt;Jakarta penuh pencakar langit&lt;br /&gt;Serba indah gemerlap&lt;br /&gt;Justru di pusat kota&lt;br /&gt;Ada sudut-sudut tersembunyi&lt;br /&gt;Nampak wajah kumuh...&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/S7NQKdUv6vI/AAAAAAAABRo/t6o2tw1tsgM/s1600/Gambar+Wilson.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 188px; height: 164px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/S7NQKdUv6vI/AAAAAAAABRo/t6o2tw1tsgM/s200/Gambar+Wilson.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5454791714276371186" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lokasi : Kali Angke, Jakarta Barat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Yadi Mulyadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Bandung)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Misteri Embun Pagi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pagi itu telah kupotong lidah yang telah lama menjulur&lt;br /&gt;menambah bisa yang tersimpan dalam goa berlumut,&lt;br /&gt;pisau dengan hunusannya menyimpan jutaan rahasia&lt;br /&gt;tentang misteri. aku pun terpanggil. menjerit dalam batas&lt;br /&gt;keheningan dan kesenyapan. tanpa berucap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ribuan kata ternyata telah membangkitkan potongan&lt;br /&gt;lidah yang baru tadi pagi telah kupotong. sambil tak&lt;br /&gt;henti-hentinya berbicara. tanpa dirinya, ia berucap.&lt;br /&gt;menambah irama yang terus mengalun dari arah yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;panyawangan, 2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2156930008317982785-3271419159207705191?l=menubul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menubul.blogspot.com/feeds/3271419159207705191/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2156930008317982785&amp;postID=3271419159207705191' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/3271419159207705191'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/3271419159207705191'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menubul.blogspot.com/2010/03/edisi-34.html' title='Edisi 34'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18266239886781897605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/TL7RnaMrAUI/AAAAAAAABcM/oNoOzQriCvA/S220/Potret+Diri+1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/S7NQKdUv6vI/AAAAAAAABRo/t6o2tw1tsgM/s72-c/Gambar+Wilson.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2156930008317982785.post-2454083015840744632</id><published>2010-03-31T06:28:00.000-07:00</published><updated>2010-04-03T08:48:29.831-07:00</updated><title type='text'>Edisi 35</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Yopi Setia Umbara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Bandung)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mozaik Ibu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah cinta&lt;br /&gt;:setiap tetes air susumu mengajarkan jejak&lt;br /&gt;nafas yang kau pungut dari usia. hanya&lt;br /&gt;senja mengurai setiap helai rambutmu&lt;br /&gt;menjadi uban di kursi goyang,&lt;br /&gt;meninabobokan keluh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti mozaik di matamu&lt;br /&gt;:kepingan mimpi dan harapan terangkai&lt;br /&gt;menjadi satu ujaran bijaksana,&lt;br /&gt;tentang perih liku hidup;&lt;br /&gt;senyummu bagai nadi, tak pernah putus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkaulah gradasi warna langkah&lt;br /&gt;:tertata meski semakin renta.&lt;br /&gt;telah yakin memenuhi jiwa. hingga&lt;br /&gt;tak pantas untuk didusta,&lt;br /&gt;apalagi terus diminta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Yudhi MS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Kudus)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Akuarium&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;liuk gemulai ekor-ekor ikan dan mulut-mulut kecil&lt;br /&gt;bemain gelembung menyihirmu melayang&lt;br /&gt;ke sebuah taman yang bebunganya digoyang&lt;br /&gt;kupu-kupu pagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bukankah membuatnya semakin terkungkung?&lt;br /&gt;tidak!, katamu – seakan penguasa lapang taman dan&lt;br /&gt;dasar palung –&lt;br /&gt;lihat sisik berkilau indah ditimpa aneka sinar lampu.&lt;br /&gt;lihatlah, ia mengarus ke arah segala,&lt;br /&gt;aman dari intaian dan tak kurang-kurang, riang bermain&lt;br /&gt;di antara karang, kulit tiram dan lembut lumut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ah, tidakkah kaubaca mata buram kabut&lt;br /&gt;jika jiwa kembara terenggut&lt;br /&gt;dari nurani setiap mahluk?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kudus, 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Yupnical&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Seketi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Jambi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nyalib Diri&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/S7di0Qn3RNI/AAAAAAAABVI/fcp54X9syZ4/s1600/nyalip+3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 279px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/S7di0Qn3RNI/AAAAAAAABVI/fcp54X9syZ4/s400/nyalip+3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5455938123537532114" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left; font-weight: bold;"&gt;Yusri Fajar&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;(Malang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Senandung Tubuh Luruh&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keranda di atas trotoar&lt;br /&gt;Mengirim kabar yang gemetar&lt;br /&gt;“Ada tubuh luruh&lt;br /&gt;Di garis tengah jalan&lt;br /&gt;Yang berubah kehitaman.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata kata sekejap sirna dari cahaya&lt;br /&gt;wicara membeku dalam detak kaku&lt;br /&gt;sukma membisikkan syair selamat datang&lt;br /&gt;Pada bentangan kafan dan galian liang&lt;br /&gt;Di hari petang yang lengang.&lt;br /&gt;Suaranya lirih karena perih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan dikurung deru luka&lt;br /&gt;Pilu tumpah tersedu-sedu&lt;br /&gt;Batas telah memberi akhir&lt;br /&gt;Melambaikan kain hitam menyerupai&lt;br /&gt;kerudung di tengah kerumunan peziarah.&lt;br /&gt;wajah mereka bersemuka dalam nada&lt;br /&gt;terpaut kalut di tepi garis maut&lt;br /&gt;Tempat nyawa dijemput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Airmata memendar di langit terbuka&lt;br /&gt;Melukis nestapa yang sia-sia.&lt;br /&gt;Batin tak henti melantunkan tembang luruh&lt;br /&gt;di pinggir waktu yang hening dan gaduh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malang, Juli 2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2156930008317982785-2454083015840744632?l=menubul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menubul.blogspot.com/feeds/2454083015840744632/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2156930008317982785&amp;postID=2454083015840744632' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/2454083015840744632'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/2454083015840744632'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menubul.blogspot.com/2010/03/edisi-35.html' title='Edisi 35'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18266239886781897605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/TL7RnaMrAUI/AAAAAAAABcM/oNoOzQriCvA/S220/Potret+Diri+1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/S7di0Qn3RNI/AAAAAAAABVI/fcp54X9syZ4/s72-c/nyalip+3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2156930008317982785.post-9004228355639191516</id><published>2010-03-31T06:12:00.000-07:00</published><updated>2010-03-31T06:26:40.118-07:00</updated><title type='text'>Epilog</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ANTOLOGI PUISI PENYAIR NUSANTARA:&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sebuah Catatan Ringan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh: Sudaryono&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Fenomena yang muncul di tengah masyarakat dan menjadi semacam “wabah” di nusantara adalah hadirnya orang-orang yang memiliki obsesi menulis puisi, menerbitkan puisi, dan memanfaatkan puisi untuk berbagai jenis keperluan. Hal yang fenomenal adalah banyaknya penyair yang melahirkan sejumlah puisi di nusantara ini. Dalam konteks ini lantas ada sinyalemen tentang  terjadi inflasi penyair dan puisi di nusantara. Penyair dan puisi seperti jamur di musim hujan. Apakah yang melatari banyaknya penyair memproduksi puisi di nusantara? Apakah ada relevansi antara bencana, musibah, penderitaan, dan berbagai tekanan kehidupan di nusantara dengan kelahiran puisi dan penyair? Atau, apakah puisi yang digali dari rahim ibu pertiwi merupakan semacam pelarian aman untuk mendapatkan kenikmatan sesaat atau kebahagiaan sesat? Apakah buku kumpulan puisi menjadi tujuan, sarana, atau target bagi sejumlah penyair? Siapakah yang rela mendanai penerbitan buku puisi yang merupakan “proyek rugi” secara materiil selain seorang  yang di luar batas kenormalan? Fenomena ini ada pada sosok Arsyad Indradi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Arsyad Indradi lahir di Barabai 31 Desember 1949. Ia acap mengenakan topi dalam penampilannya (Jika di Film Anak-anak ada Pahlawan Bertopeng, pantaskah dia disebut Seniman/Budayawan/Penyair Bertopi?). Lantaran banyak cabang seni yang ia geluti, pantaslah Bung Arsyad ini disebut seniman dan budayawan. Seniman/budayawan/penyair bertopi ini bermukim di Banjarbaru Kalimantan Selatan. Perhatiannya terfokus pada dunia kebudayaan dan kesenian terutama tari, teater, dan puisi. Lantaran ia juga pendidik, kegiatan berkesenian didedikasikan juga untuk pendidikan seni. Sebagai penyair, Arsyad Indradi terkesan konsisten dan produktif. Hal ini tampak pada titimangsa puisi yang diciptakannya merentang dari masa ke masa. Komitmennya di lapangan puisi ini ditandai oleh diterbitkannya beberapa antologi puisi pribadi yang dibidaninya (didukuni?) sendiri seperti Nyanyian Seribu Burung (April, 2006) memuat 122 puisi yang ditulis dalam kurun 1970—1999; Narasi Musyafir Gila (Juni, 2006) memuat 90 puisi yang digubah dalam kurun 2000—2006; Kalalatu (September, 2006) memuat 100 puisi berbahasa Banjar dan terjemahannya dalam Bahasa Indonesia; dan terakhir adalah Antologi Puisi Penyair Nusantara (Desember, 2006) merangkum 142 penyair nusantara. Hal yang pantas dicatat lantaran fenomenal ialah semua buku ini diterbitkan dengan biaya sendiri!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sebagai seniman, Ia pernah dijebloskan ke penjara bersama 15 seniman Banjarmasin karena perang melawan tirani pada tahun 1972. Ia bersama kawan-kawan waktu itu secara nyata memperjuangkan kebenaran dan keadilan serta melakukan unjuk rasa membacakan puisi-puisi jalanan melawan segala bentuk penindasan. Lewat pesan singkat  (SMS),  Arsyad Indradi    menulis seperti ini:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Saat diinterogasi sebelum masuk bui, kurebut rokok penginterogasi”. Lalu ditambahkannya, “kami baca puisi di depan aparat hanya mengenakan cawat”. Ganjaran bagi orang yang kuat mempertahankan hati nurani adalah bui dan julukan “Musyafir Gila” pantas disandangnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pendiri Galuh Marikit Dance Group dan Kelompok Studi Sastra Banjarbaru ini seperti dukun yang membantu lahirnya Antologi Puisi Penyair Nusantara “142 Penyair Menuju Bulan” (Kelompok Studi Sastra Banjarbaru, 2006). Buku yang didedikasikan untuk ulang tahun ke-7 Kota Banjarbaru, Tahun baru 2007, ulang tahun Arsyad Indradi ke-57, dan dimaksudkan sebagai warisan bagi generasi mendatang ini tergolong spektakuler. Buku ini memuat 427 puisi yang ditulis 142 penyair dari seluruh pelosok nusantara.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hal yang layak dicatat, bukanlah jumlah penyair atau kuantitas puisi yang dimuat dalam buku, melainkan bagaimana kisah di balik obsesinya seperti Gadjah Mada dengan sumpah Amukti Palapa dan ingin menyatukan nusantara. Bayangkan, antologi puisi penyair  nusantara ini dikumpulkannya sendiri melalui pergaulannya yang luas (Ia menyebutnya silaturahmi kultural). Lewat pesan singkat (SMS) dan juga brosur ia meminta partisipasi penyair yang berdomisili di Pulau Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Ambon, Bali, Mataram, Jawa, dan seterusnya. Puisi-puisi dari seluruh penjuru nusantara (kecuali tanah Papua tidak ikut serta, sebab tak ditemukannya jejak alamat penyair) yang berdatangan ke rumahnya (tempat Kelompok Studi Sastra Banjarbaru beraktivitas) memenuhi ruang privasinya. Naskah-naskah puisi itu lalu diseleksi, ditik, diedit, dilayout, dicetak, dan didokumentasikan, dan  didistribusikan dengan biaya sendiri. Sekali lagi didanai dari dompetnya yang tipis dan lusuh. Sebagai rasa simpati dan apresiasi yang tinggi atas tekadnya, pernah saya tanyakan nomor rekening    bank kepadanya agar bisa berpartisipasi meringankan beban pembiayaan dan dijawab “Terima kasih. Rekeningku kering, Cuma duit pensiun kusisihkan lembar demi lembar. Biarlah ini sebagai amal sebelum aku diajalkan”. Barangkali hal ini layak dicatat oleh Museum Rekor Nusantara (MURI) sebab kinerjanya itu terkesan “tanpa pamrih”. Dengan perasaan tulus tanpa pamrih dan jauh dari kesan sombong, Arsyad Indradi tampil sebagai dukun puisi! Ya, dukun puisi (Kawan lain menyebutnya Maesenas, Maestro, atau Musafir Gila).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dukun puisi? Dukun adalah orang yang ahli mengobati penyakit atau gangguan jiwa dengan jampi-jampi. Puisi adalah anak kandung kehidupan yang dicipta oleh sperma kreativitas dan dibuahi pemikiran reflektif di atas ranjang hati nurani. Lantas apakah kandungan maksud “Dukun Puisi”? Ia adalah seorang yang dapat mengobati semacam “penyakit gangguan jiwa” dengan jampi-jampi (doa-doa, motivasi, nyata kerja, dll.). Dukun puisi dapat juga dimaknai sebagai orang yang membantu kelahiran puisi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gangguan jiwa? Ya, pada galibnya seorang penyair adalah seorang yang (dalam tanda petik) “terganggu jiwanya”. Setiap penyair “terganggu jiwanya” untuk melahirkan puisi yang paling sublim, paling kental, paling kenyal, paling gurih, paling sedap, dan paling cantik. Setiap penyair terobsesi melahirkan puisi yang paling puncak (paling tuak, SDY) sebagai prestasi dalam dunia kreativitas. Setiap penyair semacam mengidap “penyakit akut” untuk melahirkan puisi yang selain mengandung estetika, juga memancarkan pesona makna yang tidak habis digali nilai-nilainya. Puisi yang baik, konon, puisi yang abadi. Puisi yang abadi selalu menampilkan pancaran cinta, kasih, sayang, dan berbagai makna lainnya sepanjang masa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penyair merupakan orang tua bagi anak-anaknya: puisi. Sayang, banyak puisi yang menjadi yatim piatu lantaran orang tuanya tidak serius mengurus anak-anaknya. Puisi yang dilahirkan oleh penyair dan acap terkesan kurang gizi dan menjadi tumpahan segala pemikiran serta perasaan. Lantaran penyair belum puas terhadap puisi-puisi yang dilahirkannya (sebab terdapat cacat pada puisi), ia terobsesi untuk terus berkarya melahirkan puisi yang lebih baik. Keinginan melahirkan puisi yang paling elok, paling manis, dan paling cantik mengganggu jiwa penyair bersangkutan. Setiap melahirkan puisi ada semacam perasaan puas dan sekaligus kecewa dan bahkan berbagai perasaan lainnya. Pelahiran puisi acap dihubungkan dengan perasaan “plong” seperti seorang ibu yang berhasil melahirkan bayinya secara normal. Para penyair pun tahu bahwa perasaan “plong” itu pun sesaat sifatnya, sebab iia terusik untuk melahirkan puisi baru.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Setelah dilahirkan, sebuah puisi memerlukan ruang pengasuhan yang representatif menyangkut ruang publik, ruang sosialisasi, dan ruang apresiasi. Ruang-ruang ini tampaknya semakin menyempit sehingga puisi kurang mendapatkan tempat terhormat. Satu dua ruang yang tersedia untuk denyut kehidupan puisi sebut saja media massa atau buku misalnya, memang tersedia bagi ruang hidup puisi. Akan tetapi, ruang puisi yang bernama buku menjadi terkesan amat mahal. Padahal, kehadiran buku yang menyediakan ruang bagi puisi dipandang urgen dan strategis dalam upaya “memanjakan, mengasuh, mendidik, dan  merawat”  puisi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Antologi Puisi Penyair Nusantara (APPN) yang diterbitkan oleh Kelompok Studi Puisi Banjarbaru Kalimantan Selatan selain merupakan obsesi seorang Arsyad Indradi tampaknya juga didedikasikan untuk keperluan studi puisi bagi berbagai kalangan. Dalam studi puisi pulalah tulisan ini diturunkan. Tulisan sederhana ini tentu saja hanya mampu memberikan gambaran umum bagaimana mendekati puisi dan memaknai puisi. Pembicaraan ini lebih mirip dengan pembicaraan “ngalor-ngidul” alias tidak diarahkan pada satu fokus. Hal-hal yang dibicarakan pun menyangkut hal-hal yang umum. Pembicaraan ini boleh dianalogikan dengan “gado-gado” yang rasanya menggoda lidah. Tulisan ini diturunkan tanpa berpretensi menilai penyair atau mengadili puisi sebagai hasil gubahan. Soal penilaian dan pengadilan terhadap puisi dan kiprah penyairnya memerlukan kesempatan serta ruang yang lapang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;                Puisi, sebagai buah kreativitas penyair, merupakan bentuk karya puisi yang paling tua. Puisi besar dan agung seperti Mahabarata, Rama­yana, Wedatama, Tripama, Babad Tanah Jawi, diungkapkan dalam bentuk puisi; bahkan semua Kitab Suci ditulis dalam format puisi, setidaknya terasa kesan puitisNya. Sebagai salah satu bentuk dan hasil ekspresi, kreasi, dan imajinasi penyair, puisi merupakan simbol verbal. Simbol verbal puisi ini selanjutnya dapat didekati dan dikaji sebagai cara pemahaman (mode of comprehension), cara komunikasi (mode of communication), dan cara penciptaan (mode of creation). Tiga cara kajian ini tentunya berkitan  dengan  perspektif  sejarah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tiga cara mendekati puisi seperti  itu dapat dirunut dari model komunikasi puisi yang diperkenalkan oleh Abrams (1976) dalam bagan  seperti ini.   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/S7NLSTwgtbI/AAAAAAAABRg/gpPSOkZsRBs/s1600/Diagram+Sastra.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 117px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/S7NLSTwgtbI/AAAAAAAABRg/gpPSOkZsRBs/s320/Diagram+Sastra.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5454786351589275058" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;Bagan Model Komunikasi Puisi (Abrams, 1976)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bagan model komunikasi puisi yang dikemukakan oleh Abrams ini secara sederhana menunjukkan empat wawasan dasar dalam mendekati puisi, yakni (1) pendekatan objektif, (2) pendekatan ekspresif, (3) pendekatan mimetik, dan (4) pendekatan pragmatik. Pertama, pendekatan objektif memandang puisi sebagai dunia yang otonom. Pendekatan ini dalam praktiknya mengabaikan penyair dan lingkungan sosial budaya. Menurut pendekatan ini puisi harus dilihat sebagai objek yang mandiri dan menonjolkan puisi sebagai struktur verbal yang otonom dengan koherensi internal. Dalam pendekatan ini terjalin secara jelas antara konsep-konsep linguistik dengan kajian puisi, baik secara metaforis maupun secara ekletis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kedua, pendekatan ekspresif menonjolkan peranan penyair. Titik berat pendekatan ini adalah pada diri penyair seperti kesadaran penyair secara psikologis, wawasan budaya penyair, dan respon penyair terhadap problem dasar kehidupan. Dalam perspektif historis, pendekatan ekspresif berusaha mencari asal-usul terciptanya puisi, yaitu bagaimana puisi itu  diciptakan,  apa yang  menjadi motif atau latar penciptaan, dan bagaimana model transformasi dunia penyair.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ketiga, pendekatan mimetik menonjolkan aspek referensial. Dasar pandangan pendekatan mimetik ini adalah adanya anggapan bahwa puisi merupakan tiruan alam atau penggambaran dunia dan kehidupan manusia di semesta raya ini. Sasaran yang diteliti adalah sejauh mana puisi merepresentasikan dunia nyata atau semesta dan kemungkinan adanya intertektualitas dengan karya lain. Oleh karena itu, pendekatan mimetik ini berhubungan dengan teori intertekstualitas, teori dekonstruksi, dan teori strukturalisme genetik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keempat, pendekatan pragmatik atau lazim disebut estetika resepsi menonjolkan peranan pembaca sebagai penyambut, penghayat, dan pemberi makna puisi. Anggapan dasar pendekatan pragmatik ini adalah puisi dipandang sebagai artefak tidak berarti apa-apa tanpa keterlibatan pembaca sebagai penyambut, penghayat, dan pemberi makna. Dalam bagan yang telah dikemukakan itu tidak terlihat hubungan antara pembaca dan penyair. Hubungan antara pembaca dan penyair tidak dapat dilakukan secara langsung, melainkan harus melalui puisi yang dibacanya. Dalam konteks ini pembaca dituntut kreativitasnya untuk menemukan pesan penyair melalui puisi yang dibacanya. Pembaca dalam komunikasi puisi dapat berfungsi sebagai subjek atau objek. Sebagai subjek, pembaca adalah pemberi makna, perebut amanat dan pemberi nilai terhadap puisi yang menjadi objeknya. Sebaliknya, sebagai objek pembaca selalu terkena bermacam-macam pengaruh dan kekuatan sosial budaya yang melingkupinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kajian puisi dalam perspektif model komunikasi sebagaimana dikemukakan oleh Abrams itu berkaitan dengan berbagai faktor bahasa dan fungsinya. Enam faktor bahasa dan fungsinya itu, meliputi (1) faktor penyampai (addresser), yaitu seorang penyair berusaha menyampaikan gagasan melalui karya berupa puisi kepada pembaca—dalam hal ini faktor penyampai memiliki fungsi emotif atau ekspresif; (2) faktor penerima (addressee), yaitu pembaca atau khalayak sebagai objek yang dituju oleh si penyair—dalam hal ini pembaca berusaha menerima atau menanggapi pesan yang disampaikan oleh penyair dalam rangka menjalankan fungsi konatif, reseptif, atau pragmatik; (3) faktor konteks (context), yaitu faktor-faktor yang turut mempengaruhi penyampaian pesan penyair—dalam hal ini konteks berhubungan dengan fungsi referensial bahasa atau fungsi acuan; (4) faktor amanat (message), yaitu sebagai tanda puisi memiliki amanat berupa pesan yang harus dipahami oleh pembaca—dalam hal ini pesan berhubungan dengan fungsi puitik atau estetik; (5) faktor kontak (contact), yaitu pembaca harus menghubungkan dirinya dengan puisi yang dibaca dan dinikmatinya—dalam hal ini berlangsung fungsi fatik; dan (6) faktor kode (code), yaitu pembaca harus dapat memahami kode-kode bahasa sesuai dengan konvensi puisi dan konvensi budaya yang melingkupi puisi—dalam hal ini berlaku fungsi metalingual atau sosio-budaya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Selanjutnya, kajian aspek bahasa puisi berhubungan dengan kemampuan penyair secara ekspresif dalam menyatakan pendapat, mengemukakan gagasan, dan menyampaikan buah imajinasi dalam wadah bahasa yang dipilihnya. Kajian terhadap bahasa puisi dapat diarahkan pada kemampuan penyair dalam menggunakan bahasa untuk mencapai efektivitas komunikasi. Kajian terhadap bahasa puisi juga terfokus pada sistem lambang bahasa yang muncul dalam komunikasi yang meliputi (1) karakteristik  hubungan  antara   bentuk,  lambang,   dan makna;   (2)   hubungan  antara   bentuk  kebahasaan dengan dunia luar  yang diacunya;dan (3) hubungan  antara  lambang   dan pemakaiannya.  Kajian seperti  itu  juga berkaitan dengan  sistem sosial budaya dalam suatu  masyarakat bahasa, sistem kebahasaan    yang    melandasi,   bentuk   kebahasaan  yang digunakan, serta aspek  semantis yang dikandungnya.  Kajian  aspek  makna  puisi  difokuskan   pada  nilai,  kontribusi  atau kegunaannya  dalam  kehidupan manusia. Puisi  mengandung muatan    nilai-nilai  budaya  yang  berharga dalam kehidupan manusia.  Nilai-nilai budaya  yang   terdapat di  dalam  puisi merupakan konsepsi ideal tentang sesuatu yang dipandangdan  diakui  berharga   serta dijadikan pedoman,  pengendali ucapan,   tindakan, perilaku, dan  perbuatan  manusia sebagai makhluk pribadi,  makhluk   sosial,   dan  makluk   ber-Tuhan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kajian puisi sebagai cara   komunikasi mengacu pada bagaimana    seorang    penyair melalui karyanya dapat berkomunikasi dengan para pembacanya.Kajian puisi sebagai cara  komunikasi  dalam khazanah kajian  puisi  termasuk  ke  dalam kajian pendekatan ekspresif dan reseptif. Kajian respon pembaca dalam meresepsi  makna  puisi lebih cenderung termasuk ke dalam kajian sosiologi  puisi yang  mengangkat persoalan penyair, karya berupa puisi, dan respon masyarakat pembaca. Kajian tentang ekspresi  dan kreasi berhubungan dengan  proses kreatif penyair dalam  penciptaan puisi. Dengan demikian, yang menjadi fokus   perhatian kajian ekspresif adalah (1)proses kreatif yang dilakukan oleh penyair dalam menciptakan puisi;(2) faktor- faktor yang mendorong penyair berkarya; (3) visi, misi, dan konsepsi yang dianut oleh penyair; (4) aliran  puisi yang diciptakan oleh penyair; dan (5) latar belakang sosial-budaya,agama,keyakinan,dan pandangan hidup penyair   bersangkutan. Sebuah kajian yang ideal melibatkan keempat  cara pendekatan tersebut secara komprehensif dan integratif.Penerapan keempat  pendekatan secara komprehensif dan integratif dapat menyingkapkan misteri teks puisi yang digubah oleh penyair secara utuh-menyeluruh. Namun demikian, pemilihan salah satu pendekatan kajian dimungkinkan, sebab penerapan empat pendekatan kajian tersebut merupakan “pekerjaan raksasa” yang selain memerlukan banyak waktu, tenaga, biaya, juga menuntut kemampuan pengkaji. Se­jalan dengan hal itu, maka pemilihan pada satu atau dua pendekatan di­mungkinkan. Pendekatan yang digunakan dalam tulisan ini ialah pendekatan yang bersifat gado-gado, campuran beberapa pendekatan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Teks puisi yang dimuat dalam buku APPN memiliki keunikan dalam pemaparan bahasa sebagai cara ungkap berbagai masalah kehidupan penyairnya. Berbagai masalah kehidupan penyair, baik berupa peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, sesuatu yang dialami oleh penyair, masalah sejarah-sosial-politik-ekonomi-budaya, maupun berbagai fenomena kehidupan yang menjadi bahan renungan, ha­yatan, pemikiran penyair diekspresikan secara unik dan menarik. Keunikan dan daya tarik teks puisi yang dimuat dalam buku APPN realisasinya berhubungan dengan misi, visi, dan konsepsi penyair selaku kreator. Penyair yang kreatif akan dapat menghasilkan teks puisi yang khas, dan dengan demikian memiliki daya tarik tersendiri. Teks puisi dibentuk dan diciptakan oleh penyair berdasarkan desakan emosional dan rasional. Puisi merupakan sebuah ciptaan, sebuah kreasi, dan bukan sebuah imitasi. Oleh karena itu, wajar apa bila unsur-unsur pribadi penyair yang tergabung dalam buku APPN seperti pengetahuan penyair, peristiwa penting yang dialami, visi, misi, dan konsepsi penyair meronai puisi yang diciptakannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Secara fisik, teks puisi dalam buku APPN terungkap melalui pemaparan bahasa yang penuh dengan simbol, bahasa kias, dan sarana kepuitisan lainnya. Penggunaan simbol, bahasa kias, metafora, dan sarana kepuitisan oleh seorang penyair dimaksudkan untuk memadatkan pengungkapan dan mengefektifkan pengungkapan. Dengan pemakaian simbol, bahasa kias, metafora, dan gaya bahasa tersebut penyair dapat mencipta­kan puisi yang mengutamakan intensifikasi, korespondensi, dan musikalitas. Intensi­fi­kasi, korespondensi, dan musikalitas inilah yang tampil dominan dalam karya puisi berbentuk puisi dan terangkum dalam buku APPN. Intensifikasi merupakan upaya penyair memperdalam intensitas penuturan dengan berbagai cara pemaparan bahasa. Korespondensi merupakan upaya penyair menjalin gagasan menjadi satu kesatuan. Musikalitas merupakan upaya penyair mempermanis, memperkuat, dan menonjolkan efek puitik kepada hasil kreasinya. Dengan intensifikasi, korespondensi, dan musikalitas yang baik penyair mampu men­ciptakan puisi yang secara fisik berbeda dengan prosa. Jika prosa lebih bersifat menerangjelaskan, maka puisi bersifat memusat dalam perenungan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bagaimanakah karakteristik puisi yang terangkum dalam buku APPN? Riffaterre dengan tepat mengungkapkan karakteristik teks puisi dalam ungkapan “Says one thing, means another” atau dalam ungkapan penyair Sapardi Djoko Damono  “bilang begini, maksudnya begitu”. Kedua ungkapan yang dikemukakan oleh pakar puisi itu memiliki maksud bahwa puisi sebagai teks mengungkapkan sesuatu hal dan berarti hal lain secara tidak langsung.   Menurut  Riffaterre   ketidaklangsungan    itu disebabkan oleh tiga hal, yaitu (1) penggantian arti (displacing of meaning) oleh adanya pemakaian kias seperti metafora dan metonimi; (2) penyimpangan arti (distorting of meaning) oleh adanya ambiguitas, kontradiksi, dan nonsense; dan (3) penciptaan arti (creating of meaning) oleh adanya bentuk-bentuk visual seperti tipografi, enjamemen, dan persejajaran baris.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Teks puisi dalam buku APPN cenderung berisi monolog. Artinya ada satu instansi yang mengucapkan sesuatu di dalamnya. Instansi atau pihak yang bermonolog itu lazimnya disebut “aku lirik”. Aku lirik ini di dalam teks puisi tidak selalu dapat ditunjuk dengan jelas. Kadang-kadang ia tinggal di latar belakang, seperti dalam pelukisan alam. Biasanya, aku lirik mengarahkan perhatian kepada dirinya sendiri dengan mempergunakan kata-kata seperti “aku” atau “-ku”. Kata-kata ini dapat menyertai pelukisan pengalaman atau perasaan yang sangat pribadi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Puisi dapat dipandang sebagai sis­tem lam­bang budaya yang intersubjektif dari suatu masyarakat. Sebagai lam­bang budaya yang inter­subjektif, puisi bukanlah artefak (ar­tefact) atau fakta kebendaan seba­gaimana dinyatakan oleh beberapa ahli puisi. Puisi adalah sebuah teks yang merupakan inskripsi yang menjadi fakta mentalitas (mentifact), fakta kesadaran kolektif bu­daya, dan fakta sosial (sociofact) dari masyarakat yang menghasil­kannya. Sebagai sistem lambang budaya puisi berhubungan dengan dunia hayatan, renungan, ingatan, pikiran, gagasan, dan pandangan terhadap nilai tertentu dalam konteks dialektika bu­daya tertentu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Teks puisi selalu berhubungan dengan konstruksi pengetahuan budaya ter­tentu. Se­bagai con­toh, puisi yang dihasilkan  oleh  penyair  berlatar  belakang  budaya  Jawa merepresentasikan konstruksi realitas nilai budaya Jawa; puisi yang ditulis kawan-kawan dari Bugis merepresentasikan kon­struksi realitas nilai bu­daya Bugis; puisi yang digubah penyair berdarah Banjar merepresentasikan konstruksi realitas budaya Banjar; puisi Nusantara merepresentasikan konstruksi realitas nilai budaya Nusantara, dan seeterusnya dan seterusnya. Hal ini menunjukkan bahwa puisi selalu erat berkaitan dengan nilai budaya tertentu karena ke­beradaan dan kedudukannya sebagai sistem lambang budaya mem­buat­nya selalu terlekati nilai budaya dalam konteks dan proses dialektika bu­daya tertentu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Puisi-puisi yang terangkum dalam APPN menam­pilkan ha­yatan, renungan, ingatan, pikiran, gagasan, dan pandangan tentang kon­struksi realitas budaya di tengah konteks dan proses dialektika budaya nusantara. Dalam hubungan ini dapat dinyatakan bahwa puisi Nusantara yang ditulis oleh penyair berlatar belakang budaya beragam menampilkan hayatan, renungan, ingatan, pikiran, gagasan, dan pandangan tentang kon­struksi realitas budaya yang majemuk di tengah konteks dan proses dialek­tika bu­daya nusantara. Puisi nusantara selalu membayangkan atau menghadirkan ten­tang konstruksi realitas budaya nusantara yang dihayati, direnungi, diingat, dipikirkan, diga­gas, dan dipandang oleh penyairnya. Puisi-puisi karya penyair nusantara juga dipandang sebagai teks dan sekaligus inskripsi yang selalu merepresentasikan konstruksi re­alitas budaya nusantara. Yang terepresentasi dalam puisi Nusantara adalah konstruksi realitas nilai  budaya nusantara.Dengan dasar pemikiran seperti itu, buku APPN yang penyairnya berasal dari beragam etnis tentulah  selalu  membayangkan atau menghadirkan  tentang konstruksi  realitas  budaya nusantara yang dihayati, direnungi, diingat,  dipikirkan,  digagas,  dan dipandang oleh penyairnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Puisi-puisi karya penyair nusantara  juga dipandang  sebagai teks dan sekaligus inskripsi yang selalu  merepresentasikan konstruksi realitas  budaya  nusantara. Yang  terepresentasi dalam puisi Nusantara adalah konstruksi realitas nilai budaya nusantara.Dengan dasar pemikiran seperti itu, buku  APPN yang  penyairnya  berasal dari  beragam etnis tentulah  selalu membayangkan atau menghadirkan tentang konstruksi realitas  budaya nusantara yang  dihayati,  direnungi,  diingat, dipikirkan, digagas, dan dipandang oleh penyairnya. Beragam  latar  belakang budaya penyairnya tentulah turut meronai sosok budaya yang  beragam  pula. Keberagaman (dan  perbedaan) budaya yang melatari penyair turut memperkaya khasanah   untaian bunga budaya yang terbentang dari Sabang hingga Merauke.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pada akhirnya, puisi-puisi yang terangkum dalam buku APPN secara umum dapat ditandai dan diberikan catatan seperti ini. Pertama, puisi selain merupakan bentuk karya tertua, ia merupakan teks yang di dalamnya penuh dengan misteri. Kemisterian itu antara lain tampak ketika dilakukan pembacaan sering terjadi pembaca mengalami kesulitan dalam mema­hami keseluruhan makna puisi, sebab dalam realitasnya penyair sering menggunakan cara pengungkapan yang unik. Oleh karena itu, teks puisi yang termuat dalam APPN perlu dipaparkan dan diberi penjelasan secukupnya sehingga pembaca puisi memperoleh informasi yang diperlukan dalam memahami ‘kemisterian puisi’. Kedua, di dalam teks puisi-puisi APPN terdapat cara ekspresi atau strategi komunikasi yang mengandung unsur permainan, ekspresi yang ‘menunjukkan’ tanpa kata-kata, berisi kias, lambang, dan lain-lain. Fenomena ini berkaitan dengan pemakaian bahasa kias dan lambang serta strategi komuni­kasi yang dipilih oleh penyair dalam fung­sinya untuk mengkomuni­kasikan ide-idenya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ketiga, teks puisi yang terekspresikan oleh para penyairnya mengandung nilai-nilai budaya seperti: nilai edukatif, nilai religius, nilai filosofis, nilai etis, dan nilai estetis. Nilai edukatif ini berhubungan dengan adanya ajaran, pesan, atau amanat yang terungkapkan. Nilai religius berhubungan dengan keteri­katan manusia kepada kekudusan dan kesucian Tuhan Yang Maha Esa. Nilai filosofis berhubungan dengan keterikatan manusia kepada ke­benaran dan ketepatan. Nilai etis berhubungan dengan persoalan kebaikan dan kesusilaan. Nilai estetika ber­hubungan dengan persoalan keindahan dan keelo­kan fenomena estetis. Beragam nilai budaya itu perlu dipaparkan dan dijelaskan sehingga dapat menambah kekayaan rohani pembaca terhadap khazanah budaya bangsanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keempat, realitas yang disebut puisi merupakan ‘gejala komunikasi khas berupa bahasa yang diabdikan pada fungsi estetis’. Puisi mengandung unsur-unsur yang yang hadir secara simultan, yaitu bdrupa paparan bahasa, struktur isi, dan aspek keindahan. Berdasarkan  ciri  hubungan, ciri kehadiran, dan tingkatan hubungan antarunsur dalam membangun totalitas puisi dapat diketahui bahwa unsur pembangun itu dapat bersifat internal, yaitu unsur yang hadir secara simultan, mengandung pasangan langsung, dan saling berinter-dependensi, dan unsur yang bersifat eksternal, yakni unsur yang apabila ditinjau dari perspektif entitas puisi merupakan unsur-unsur yang memiliki hubungan kausal dan fungsional. Penjelasan dan pemaparan aspek intrinsik dan ekstrinsik teks puisi akan menambah khazanah wawasan pembaca dalam upaya merebut maknanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kelima, di hadapan sebuah puisi berbahasa Indonesia yang terangkum di dalam buku APPN, muncul kesan seperti dinyatakan oleh Goenawan Mohamad  bahwa kita tidak dapat menengok ke dalam ‘dunia bahasa puisi yang penghuninya berjejal kelewat rapat’. Bahasa yang ada masih seperti dusun datar yang baru saja dihuni para transmigran—lokasi yang diancam wabah, perdu yang dihampiri hama. Tetapi itu, bagi penyair Nusantara, adalah satu-satunya bahasa yang mungkin. Penyair Indonesia tak bisa menghindari pemakaian bahasa Indonesia yang dalam hal tertentu masih miskin sebagai bahasa literer.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keenam, ada beberapa penyair masih menghadapi persoalan dengan bahasa Indonesia. Dalam hubungan dengan persoalan bahasa Indonesia ini lantas muncul pertanyaan, seberapa jauh (seberapa dalam) bahasa Indonesia dapat menjalankan fungsi sosio-kulturalnya sebagai saluran komunikasi dan sebagai unsur integratif sebuah karya cipta dalam hal ini puisi? Pertanyaan ini mengindikasikan jawaban tentang persoalan dinamika hubungan antara wujud, makna, dan fungsi komunikatif bahasa sebagai saluran komunikasi simbolik bagi penyampaian pesan, realitas “objektif”, dan berita pikiran dengan lingkungan khalayak pemakai bahasa, baik pengirim pesan maupun penerima pesan. Apakah bahasa sebagai saluran komunikasi yang membentuk realitas, yang mewujudkan pesan, atau kah, khalayak pemakai yang menentukan corak saluran pesan itu? Dalam hubungan ini dapat dinyatakan bahwa penambahan dan pembesaran perbendaharaan pengetahuan, tentang berbagai gejala alam, sosial, dan kemanusiaan, kerap menimbulkan keharusan perubahan “kata” menjadi “istilah” atau “konsep”, yang mewakili seperangkat ide. Ketika perubahan ini terjadi, maka terputuslah hubungan kata dengan artinya yang semula “telah disetujui” oleh komunitas penutur bahasa. Konsep bukan lagi yang bisa ditentukan artinya, sebagaimana tertera dalam kamus, tetapi sesuatu yang maknanya harus dirumuskan dan kalau perlu diperdebatkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ketujuh, satu paradoks puisi yang dimuat dalam buku APPN ialah dalam upayanya untuk menjadi ekspresi verbal yang otentik, puisi tidak sepenuhnya mewujudkan diri sebagai ‘tindak verbal’. Beberapa puisi karya penyair yang tergabung dalam buku APPN masih bersandar pada kekuatan kata dan variasinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ada sejumlah penyair tampil serupa perupa, tetapi kurang mengenal bahasa warna. Ada sejumlah penyair tampil seperti penyanyi, tetapi belum menguasai notasi. Ada penyair yang tampil serupa pekerja teater, namun belum didasarkan pada penguasaan tata pentas. Padahal, puisi yang elegan mestinya memberikan ruang perenungan (ruang samadi/pertapaan) yang menurut pujangga Jawa abad ke-10, Ronggowarsito, disebut sebagai keheningan yang sekali gus kebeningan, kehampaan yang sesungguhnya berisi (weninging ati kang suwung, nanging sajatining isi). Demikian, salam budaya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jambi, 2007-05-13&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;&lt;span&gt;Sudaryono,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; lahir di Jogjakarta 3 Juli 1959.Tahun                   1985 hijrah ke Jambi menjadi dosen di Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni FKIP Universitas Jambi. Gelar Doktor diraihnya 2002 dengan disertasi “Pasemon dalam Wacana Puisi Indonesia” (telah dibukukan oleh Kelompok Studi Penulisan, 2003). Sajak-sajaknya terangkum dalam antologi tunggal seperti Sang Guru Sejati (Bengkel Puisi Swadaya Mandiri, 1991), Malin Kundang (Bengkel Puisi Swadaya Mandiri, 1993), Upacara Gerimis (Bengkel Puisi Swadaya Mandiri, 1994), Potret Diri (Bengkel Puisi Swadaya Mandiri,1997), dan Ketika Jarum Jam Leleh dan Lelah Berdetak (Bengkel Puisi Swadaya Mandiri danTelanai Printing Graft, 2003). Sajak-sajaknya juga dipublikasikan oleh media massa lokal Sumatera: Jambi, Padang, Palembang, Lampung, Riau, dan Medan; media massa di Jawa: surabaya, Malang, Semarang, Jogja, Bandung, dan Jakarta. Antologi puisi bersama antara lain Riak-riak Batanghari (Teater Bohemian, 1988), Nyanyian Kafilah (Bengkel Puisi Swadaya Mandiri, 1991), Prosesi (Bengkel Puisi Swadaya Mandiri, 1992), Percik Pesona 1 &amp;amp; 2 (Taman Budaya Jambi, 1992, 1993), Serambi 1,2,3 (Teater Bohemian, 1991, 1992, 1993), Rendezvous (Orbit Poros Lampung (1993), Jejak, Kumpulan Puisi Penyair Sumbagsel (BKKNI-Taman Budaya Jambi, 1993), Luka Liwa (Teater Potlot Palembang, 1993), Muaro (Taman Budaya jambi 1994), Pusaran Waktu (Bengkel Puisi Swadaya Mandiri, 1994), Negeri Bayang-bayang (Festival Seni Surabaya, 1996), Mimbar Penyair Abad 21 (DKJ-TIM Jakarta, 1996), Antologi Puisi Indonesia (Angkasa Bandung, 1997), Amsal Sebuah Patung: Antologi Borobudur Award (Yayasan Gunungan Magelang, 1997), Angkatan 2000 dalam Kesusastraan Indonesia (Gramedia, 2000), Kolaborasi Nusantara (KPKPK-Gama Media, 2006), Antologi Puisi Penyair Nusantara: 142 Penyair Menuju Bulan (Kelompok Studi Sastra Banjarbaru, 2007). Novelnya Catatan Harian Maya dimuat secara bersambung di Harian Jambi Independent (2002). Cerpen, esai, dan kritik sastra yang ia tulis tersebar di berbagai media massa koran dan jurnal-jurnal ilmiah. Alamat Rumah: Jln. Kapt. Pattimura RT 34/RW02 No. 42, Kenali Besar, Kotabaru, Jambi 36129. e-mail: dimasarikmihardja@yahoo.co.id. atau dimasarika@plasa.com.  No HP 08127378325.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2156930008317982785-9004228355639191516?l=menubul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menubul.blogspot.com/feeds/9004228355639191516/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2156930008317982785&amp;postID=9004228355639191516' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/9004228355639191516'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2156930008317982785/posts/default/9004228355639191516'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menubul.blogspot.com/2010/03/epilog.html' title='Epilog'/><author><name>Arsyad Indradi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18266239886781897605</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/TL7RnaMrAUI/AAAAAAAABcM/oNoOzQriCvA/S220/Potret+Diri+1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_TMeuPY_sN98/S7NLSTwgtbI/AAAAAAAABRg/gpPSOkZsRBs/s72-c/Diagram+Sastra.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
